Rabu, 02 September 2020

Strategi SAWER dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Jarak Jauh

 



IMPLEMENTASI STRATEGI “SAWER”

DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS JARAK JAUH

 

Ni Made Wahyu Supraba Wathi

SMA Negeri 1 Kubu

wahyusuprabawathi@gmail.com

 

Abstract

This research aimed at finding out the improvement of speaking skill and students’ response of class X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu in the academic year 2020/2021 through the implementation of SAWER strategy in English distance learning. This was a Best Practice research. The subject of this reaserach was class X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu in the academic year 2020/2021 with 30 students consisting of 29 students joining online learning and 1 student joining offline learning. The data of speaking skill were collected and analyzed by using  descriptive analysis. Meanwhile, students’ responses were gained through Google Form questionnaire and then analyzed descriptively. The results showed that the students’ speaking skill improved from the average score 70.83 with classical completeness 76.67% at the first activity to 82.17 with classical completeness 100% at the second activity. The students’ response of class X MIPA 1 SMAN 1 Kubu towards the implementation of SAWER strategy in English distance learning were categorized positive with the average response 39.37. Those results proved that the English distance learning through the implementation of SAWER strategy can be recommended as the strategy of Englsh distance learning.

 

Keywords: Distance Learning, speaking skill, SAWER  Strategy

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara dan respon siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun ajaran 2020/2021 melalui implementasi strategi SAWER dalam pembelajaran Bahasa Inggris jarak jauh. Jenis penelitian ini adalah penelitian best practice. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 1 SMAN 1 Kubu Semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021 sebanyak 30 orang dengan rincian 29 orang mengikuti pembelajaran daring dan 1 orang pembelajaran luring. Data tes keterampilan berbicara dikumpulkan dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan respon  siswa dikumpulkan melalui angket Google form. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa meningkat dari rata-rata nilai keterampilan bicara sebesar 70,83 dan ketuntasan klasikal 76,67% pada kegiatan I menjadi sebesar 82,17 dan ketuntasan klasikal 100% pada kegiatan pembelajaran II. Respon siswa kelas X MIPA 1 terhadap penerapan strategi SAWER dalam pembelajaran Bahasa Inggris jarak jauh berada pada kategori Positif dengan rata-rata respon sebesar 39,37. Semua hasil tersebut merupakan bukti bahwa pembelajaran Bahasa Inggris jarak jauh melalui implementasi strategi SAWER dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran bahasa Inggris jarak jauh.

 

Kata Kunci: Pembelajaran Jarak Jauh, Keterampilan berbicara, Strategi SAWER

 

PENDAHULUAN

Wajah pendidikan Indonesia berubah drastis ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah sejak awal Pebruari tahun ini. Perubahan sistem pendidikan yang mendadak sontak membuat para insan pendidikan terutama guru kalang kabut dalam menghadapi perubahan ini. Sistem pendidikan yang sebelumnya terstruktur dengan metode tatap muka, harus ditransformasi menjadi pembelajaran jarak jauh yang diistilahkan dengan BDR (Belajar Dari Rumah). Segala proses pelaksanaan pembelajaran harus dilaksanakan secara daring (online) demi memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Melihat situasi yang demikian, pemerintah sangat perlu mengambil kebijakan dalam menghadapi kondisi darurat wabah Covid-19 tersebut. Hal tersebut telah dibuktikan dengan adanya Surat Edaran Kemdikbud No 4 Tahun 2020 mengenai Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat  Corona virus Disease (Covid-19). Ada tiga prinsip kebijakan yang diambil terkait pembelajaran daring. Pertama, pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Kedua, pembelajaran difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. Ketiga, aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjanagan akses/fasilitas belajar di rumah.

Namun demikian, penerapan kebijakan tersebut tidak terlepas dari kendala yang dihadapi guru maupun siswa. Diantaranya, akses internet yang tidak semua bisa dijangkau oleh siswa dan juga faktor ekonomi dalam mendukung kebijakan ini. Mereka memiliki fasilitas gawai (gadget) tapi tidak mampu untuk membeli kuota secara terus menerus. Kendala-kendala seperti ini kami alami di sekolah kami yang berada di kecamatan Kubu, Karangasem, Bali. Beberapa wilayah di tempat ini tidak bisa diakses oleh layanan internet dan juga masyarakat di daerah ini berada dalam golongon ekonomi menengah ke bawah

Di samping kedua kendala tersebut, adanya keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran daring juga sangat berpengaruh dalam efektifitas pembelajaran jarak jauh. Di sinilah para guru dituntut untuk meningkatkan kompetensinya terutama di bidang teknologi agar bisa memberikan layanan pembelajaran jarak jauh yang optimal. Sebagaimana yang dituntut dalam pedoman pembelajaran dari rumah, guru harus mampu memberikan pengalaman belajar yang baru dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru dituntut untuk bisa mendesain pembelajaran daring dengan menggunakan metode atau variasi pembelajaran dengan menggunakan platform-platform pembelajaran daring yang tersedia. Dengan berbagai strategi atau variasi dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang ditujukan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna, siswa bisa senang, antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.

Terkait dengan implementasi kebijakan pembelajaran jarak jauh yang berprinsip pada pembelajaran yang bermakna dan memberikan kecapakan hidup bagi peserta didik, guru di masing-masing mata pelajaran diharapkan mampu mengelola pembelajaran yang bermakna dan kontekstual yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Salah satunya, dalam mata pelajaran bahasa Inggris, guru harus mampu mendesain pembelajaran bermakna dengan mengutamakan keterampilan produktif berbicara. Dalam kondisi normal pembelajaran tatap muka di sekolah, keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa tergolong masih rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya dari motivasi siswa itu sendiri dan juga dari metode yang diterapakan oleh guru.

Untuk menyesuaikan dengan konteks di atas dan dalam rangka menciptakan proses pembelajaran jarak jauh yang bermakna dan menyenangkan untuk siswa, penulis menformulasikan sebuah strategi pembelajaran jarak jauh yang mengedepankan peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris. Strategi itu adalah strategi SAWER yang merupakan akronim dari Stimulating, Acting, Wrapping-up, Expressing, dan Re-expressing. Strategi ini sudah diimplementasikan sejak awal tahun ajaran baru 2020/2021 dan terbukti mampu menarik motivasi dan keantusiasan siswa dalam mengikuti pembelajaran dari rumah.

Berlatar belakang dari paparan tersebut di atas, adapun rumusan masalah dari penelitian Best Practice ini yaitu 1) Apakah implementasi strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2020/2021?, 2) Bagaimanakah respon siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2020/2021 terhadap implementasi strategi SAWER dalam pembelajaran bahasa Inggris jarak jauh?

Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2020/2021 melalui penerapan strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh dan 2) Untuk mengetahui respon siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2020/2021 terhadap penerapan strategi SAWER dalam pembelajaran bahasa Inggris jarak jauh.

 

KAJIAN PUSTAKA

Di era digitalisasi saat ini, sistem pendidikan yang serta-merta berubah akibat penyebaran Covid-19 bisa dipastikan berjalan dengan efektif dan efisien karena menggunakan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Terlepas dari semua kendala yang muncul saat pelaksanaan sistem ini, guru harus mampu mengelola pembelajaran dengan kreativitas dan inovasinya agar pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dapat bejalan dengan efektif. Dogmen (dalam Munir, 2009:22) menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh adalah pembelajaran yang menekankan pada cara belajar mandiri (self study). Belajar mandiri diorganisasikan secara sistematis dalam menyajikan materi pembelajaran, pemberian bimbingan kepada pembelajar, dan pengawasan untuk keberhasilan belajar pembelajar. Sementara, Munir (2009:18) menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh adalah ketika proses pembelajaran tidak terjadinya kontak dalam bentuk tatap muka langsung antara pengajar dan pembelajar. Komunikasi berlangsung dua arah yang dijembatani dengan media seperti komputer, televisi, radio, telepon, internet, video dan sebagainya.

Berbicara  (speaking)  adalah  perbuatan  menghasilkan  bahasa  untuk  berkomunikasi. Komunikasi  ini  dimaksudkan  agar  pembicara  dan  pendengar  dapat  memahami  maksud pembicaraan. Dalam proses komunikasi inilah terjadi interaksi antara pembicara dan pendengar. Berbicara  pada  hakikatnya  merupakan  suatu  proses  komunikasi  sebab  di  dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain (Haryadi dan Zamzami, 1997: 54). Lebih lanjut, Henry Guntur Tarigan (1983:15) mengatakan bahwa berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat produktif lisan. Dikatakan produktif lisan, karena dalam kegiatan  ini  orang  yang  berbicara  (pembicara)  dituntut  dapat  menghasilkan  paparan  secara lisan yang merupakan cerminan dari gagasan, perasaan, dan pikirannya. Berbicara merupakan suatu  bentuk  perilaku  manusia  yang  memanfaatkan  faktor-faktor  fisik,  psikologi,  neurologist, semantic,  dan  linguistic  sedemikian  rupa  sehingga  dapat  dianggap  sebagai  alat  kontrol  sosial (Henry Guntur Tarigan, 1983:16).

SAWER merupakan strategi pembelajaran yang didesain penulis  untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Strategi ini merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan empat keterampilan bahasa yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Walaupun mengintegrasikan empat keterampilan bahasa, hasil akhir (outcome) pembelajaran lebih ditekankan pada keterampilan berbicara. Hal ini disebabkan karena penulis lebih menfokuskan pada pengembangan dan peningkatan kemampuan berbicara/komunikasi bahasa Inggris selama siswa mengikuti pembelajaran dari rumah. Secara terperinci langkah-langkah dalam strategi SAWER yang merupakan akronim dari Stimulating, Acting, Wrapping-up, Expressing, dan Re-expressing diuraikan dalam penjelasan berikut.

Langkah pertama yaitu Stimulating (menstimulasi). Ini merupakan langkah awal dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang mana siswa distimulasi/dirangsang untuk menumbuhkan motivasi dan konsentrasi belajar mereka. Stimulus yang diberikan guru dalam bentuk variasi media seperti gambar, video, musik ataupun film pendek. Dengan stimulus yang diberikan kepada siswa, materi yang disajikan bisa menarik perhatian dan minat mereka dalam mengikuti pembelajaran. Di sini, penulis menstimulasi siswa dengan menyuguhkan berbagai video pembelajaran dalam bentuk animasi. Video pembelajaran animasi tersebut didesain sendiri oleh penulis lewat channel YouTube yang dimilikinya dan disesuaikan dengan indikator kompetensi yang ingin dicapai di akhir pembelajaran. Setelah siswa menonton video yang diberikan, pemahaman mereka tehadap materi akan dicek/dites melalui game (permainan) pembelajaran secara online. Penulis memanfaatkan aplikasi game berbasis web yang disebut dengan Wordwall.  Ringkasnya, teknik stimulasi yang diberikan guru dalam tahap pertama ini yaitu dengan video dan game (permainan).

Langkah kedua yakni Acting (memperagakan). Akting yang dimaksud di sini adalah siswa memperagakan atau mempertunjukkan apa yang ditayangkan dalam video pembelajaran yang telah mereka tonton sebelumnya. Siswa diharapkan mampu untuk menampilkan baik secara monolog maupun dialog apa yang telah mereka pelajari. Dengan kata lain, siswa meniru atau mencontoh ungkapan-ungkapan/ekspresi/ekspresi yang digunakan dalam video. Dengan menampilkan sesuatu, ini akan memudahkan siswa untuk lebih kreatif dalam memahami materi.  Dan bagi guru, untuk melihat aktivitas mereka dalam menampilkan akting mereka, guru bisa mengadakan tatap muka virtual melalui aplikasi konferensi seperti Zoom, Google Meet, ataupun Webex. Dengan demikian, guru bisa memantau sejauh mana partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran daring.

Langkah ketiga adalah Wrapping-up (menyimpulkan). Siswa menyimpulkan (wrap) materi apa yang telah mereka pelajari. Pada awal pembelajaran, siswa diberikan video dan tanpa disadari mereka membaca materi dan mencatat bagian-bagian penting. Setelah siswa berusaha untuk memperagakan materi dalam bentuk dialog atau monolog, mereka harus membuat catatan-catatan penting dalam bentuk simpulan/resume untuk memperkuat daya ingat mereka terhadap materi yang dibahas. Keterampilan menyimpulkan merupakan salah satu aspek keterampilan berpikir kritis karena menuntut siswa unuk mampu menguraikan dan menjelaskan hal-hal penting dengan gaya bahasa mereka.

Langkah keempat adalah Expressing (mengekspresikan/mengungkapkan). Setelah apa yang siswa susun dalam bentuk rangkuman/kesimpulan atau mengelompokkan beberapa ekspresi yang dipakai dalam suatu monolog/dialog, mereka akan mengekspresikan/mengkomunikasikan topik/pokok bahasan dalam bentuk presentasi monolog/dialog. Di tahap ini siswa diberikan situasi tertentu. Selanjutnya, mereka akan menyusunnya dalam bentuk monolog/dialog dan menampilkannya pada temannya terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan unttuk mendapatkan masukan dan perbaikan minimal dari seorang teman. Mereka bisa saling bertukar ide/gagasan agar bisa tampil lebih sempurna. Karena saat ini menjalani pembelajaran jarak jauh, komunikasi antar siswa dilakukan melalui aplikasi whatsapp.

Langkah terakhir yaitu Re-expessing (mengekspresikan kembali). Pada tahap akhir ini, siswa mempresentasikan monolog/dialog yang sebelumnya telah mendapat masukan dari temannya dalam bentuk video. Pada langkah inilah, siswa akan berkreasi membuat video presentasi dalam bentuk monolog/dialog. Setelah mereka berhasil membuat video presentasi, selanjutnya mereka akan mengunggahnya ke platform pembelajaran daring Google Classroom untuk dilihat dan dinilai oleh guru. Selain diunggah ke Google Classroom, mereka diwajibkan untuk mengunggahnya di media sosial yang mereka punya seperti Facebook atau Instagram. Di sinilah kreativitas dan inovasi siswa akan terlihat. Selain itu, untuk mengapresiasi dan mendokumentasikan karya terbaik siswa, guru akan memilih satu atau dua orang siswa dari masing-masing kelas yang telah berhasil menyuguhkan video presentasi yang menarik dan komunikatif. Selanjutnya, akan diedit dan diunggah di channel YouTube penulis sebagai bahan/materi ajar guru untuk pembelajaran selanjutnya.

 

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini merupakan jenis penelitian Best Practice. Strategi yang digunakan adalah strategi SAWER dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Langkah-langkah yang dilaksanakan berupa persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.

Pada tahap persiapan, penulis memetakan kondisi siswa dalam hal ketersediaan sarana seperti kepemilikan perangkat seperti gawai (smartphone), siswa dengan wilayah yang sulit dijangkau oleh akses intenet dan juga kemampuan ekonomi orang tua siswa yang tergolong rendah sehingga siswa tersebut tidak mampu untuk membeli kuota.

Setelah itu, dalam tahap pelaksanaan, adapun prosedur yang dijalankan untuk hal tersebut yaitu (1) Siswa yang tidak memiliki kendala dalam mengikuti pembelajaran daring jarak jauh seperti memiliki fasilitas smartphone, tidak terkendala dengan jangkauan internet dan juga mampu membeli paket/kuota internet, mereka akan diarahkan untuk masuk ke dalam sistem pengelolaan pembelajaran daring yang dikenal dengan platform Google Classroom. (2) Siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring karena terkendala tidak memiliki smartphone ataupun memiliki smartphone namun tidak mampu membeli kuota terus-menerus dan daerahnya sulit/tidak bisa dijangkau sinyal internet, mereka mengikuti pembelajaran secara luring. Guru menyediakan layanan belajar dengan mempersiapkan materi dan lembar kerja siswa secara manual. Siswa-siswa tersebut diminta untuk datang ke sekolah tiap hari Jumat untuk menerima materi dan tugas yang harus mereka kerjakan. Selanjutnya, (3) Jika ada siswa yang sama sekali tidak ada konfirmasi apakah mereka bisa mengikuti pembelajaran daring atau tidak karena kendala tertentu, data siswa tersebut akan diserahkan ke BK dan kesiswaan untuk ditindaklanjuti dengan melakukan kunjungan rumah (home visit). Jika diketahui siswa tersebut terkendala sinyal ataupun kuota internet, siswa tersebut diikutkan dalam pembelajaran luring.

Selanjutnya, kegiatan pembelajaran dengan menerapkan strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh bagi siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu pada tahun pelajaran 2020/2021, tepatnya pada semester I berlangsung selama 6 minggu yaitu dari pertengahan bulan Juli sampai dengan akhir Agustus 2020. Penulis menggunakan satu KD yakni KD 4.1 dengan materi tentang Self-Introduction (Perkenalan diri). Kegiatan pembelajaran dilaksanakan terhadap seluruh kelas X MIPA 1 yang berjumlah 30 siswa dengan rincian 29 siswa bisa mengikuti daring dan 1 orang siswa mengikuti pembelajaran luring. Tahap evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan belajar siswa yang diikuti dari rumah. Evaluasi dilaksanakan sebagai acuan kurikulum yang berlaku di SMA Negeri 1 Kubu yang mana KKM siswa kelas X untuk mata pelajaran bahasa Inggris > 67 dengan ketuntasan klasikal > 85%.

Adapun instrumen yang digunakan untuk mengukur keterampilan berbicara siswa mengacu pada empat aspek yaitu, (1) Grammar dan Vocabulary (Leksikogramatika); (2) Manajemen Wacana; (3) Ucapan dan Intonasi; (4) Ekspresi dan penampilan. Guru dapat mengetahui kemampuan berbicara siswa apakah berhasil mencapai kategori sangat baik, baik, cukup, dan atau kurang.

 

Tabel 1. Konversi Penilaian Keterampilan Berbicara

No

Kategori

Rentang Nilai

1.

2.

3.

4.

Sangat baik (A)

Baik (B)

Cukup baik  (C)

Kurang baik (K)

85 – 100

70 – 84

55 – 69

0 – 54

 

Setelah didapatkan nilai siswa selanjutnya ditentukan nilai rata-rata keterampilan berbicara. Semua data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Untuk mengetagui respons siswa terhadap implementasi strategi SAWER, penulis menggunakan angket skala Likert. Respon siswa terhadap penerapan strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh diamati dengan pengisian angket online dengan google form bagi siswa yang mengikuti pembelajaran daring, sedangkan bagi siswa yang mengikuti pembelajaran luring diberikan print out yang diberikan langsung ke siswa. Angket respon siswa ini berisikan 10 pertanyaan. Penggolongan respon siswa, ditetapkan berdasarkan kriteria seperti Tabel 2.

Tabel 2. Kriteria Penggolongan Respon Siswa

Kriteria

Kategori

41 – 50

Sangat Positif

31 – 40

Positif

21 – 30

Cukup Positif

1120

Kurang Positif

1 – 10

Sangat Kurang Positif

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

             Strategi SAWER yang diterapkan selama pembelajaran jarak jauh berlangsung selama enam minggu dari pertengahan bulan Juli sampai akhir bulan Agustus. Rangkaian pembelajaran dilaksanakan dalam 4 kali tatap muka dan 2 kali pemberian tes yang dirancang dalam 2 rangkaian kegiatan pembelajaran. Adapun hasil yang diperoleh yaitu.

Keterampilan Berbicara siswa

            Dari penerapan strategi tersebut, penulis mendapatkan hasil yang cukup signifikan, di mana setelah rangkaian kegiatan pembelajaran I berlangsung, siswa mampu mencapai nilai rata-rata 70,83 yang berada pada kategori Baik dengan ketuntasan klasikal 76,67%. Dari pencapaian ini, siswa mampu melampui KKM yang ditentukan sekolah yakni > 67, tetapi belum mampu mencapai ketuntasan klasikal > 85%. Hal ini disebabkan karena masih ada beberapa siswa yang belum berhasil mempresentasikan monolog mereka sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, seperti pemahaman terhadap materi, pelafalan dan intonasi serta ekspresi yang ditampilakan. Sebagian besar, beberapa dari mereka masih belum bisa mengucapkan kata/ungkapan yang benar disertai dengan pemahaman dari konten materi yang juga masih kurang sehingga monolog yang ditampilkan tidak optimal.

Dari kendala yang ditemui pada kegiatan pembelajaran I, penulis merasa perlu untuk kembali menjelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran dengan strategi yang diterapkan penulis, seperti pada tahap stimulasi. Di samping itu, penulis juga harus memberikan instruksi/pedoman yang jelas pada awal pembelajaran tentang komponen keterampilan berbicara yang akan dinilai penulis. Dengan malakukan modifiksi tersebut, setelah rangkaian kegiatan pembelajaran II berlangsung, siswa mampu meningkatkan keterampilan berbicaranya dengan signifikan yaitu sebesar 14% dengan mencapai nilai rata-rata 82,17 dan berada pada kategori Baik dengan ketuntasan klasikal 100%. Secara rinci perbandingan hasil pembelajaran dengan strategi SAWER ditampilkan dalam tabel berikut.

 

Tabel 3. Perbandingan Hasil Keterampilan Berbicara

Kriteria

Kategori

Frekuensi

Persentase

Kegiatan I

Kegiatan II

Kegiatan I

Kegiatan II

85 - 100

Sangat Baik

0

10

0%

33%

70 - 84

Baik

20

20

77%

77%

55 - 70

Cukup

10

0

33%

0%

0 - 54

Kurang

0

0

0%

0%

Rata-rata

70,83

82,17

 

 

Ketuntasan Klasikal

76,67%

100%

 

 

Kategori

B

B

 

 

 

Berdasarkan hasil yang disajikan dalam tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan strategi SAWER dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2020/2021. Peningkatan ini terlihat dari pencapaian pada kegiatan I, yang mana masih terdapat 10 siswa yang berada pada kategori Cukup dan 20 siswa pada kategori Baik. Namun pada kegiatan II sudah tidak terdapat lagi siswa dengan kategori Cukup, melainkan terdapat 20 siswa dengan kategori Baik dan bahkan 10 siswa berada pada kategori Sangat Baik.

Respon Siswa Terhadap Penerapan strategi SAWER

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana respon siswa terhadap penerapan strategi SAWER selama pembelajaran jarak jauh, maka penulis memberikan angket online yang berbasis google form bagi siswa yang mengikuti pembelajaran moda daring dan angket manual bagi siswa yang mengukuti pembelajaran luring. Hasil rekapitulasi respon siswa dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi Respon Siswa

Kelas

Rata-Rata Respon

Kategori

X MIPA 1

39,37

Positif

 

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata respon siswa terhadap penerapan strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh berada pada kategori Positif dengan rata-rata respon sebesar 39,37.

            Secara rinci data persentase respon siswa terhadap penerapan strategi SAWER dapat dilihat pada Grafik 1.

Gambar 1. Grafik Respon Siswa Terhadap Penerapan strategi SAWER

Dari grafik di atas terlihat jelas bahwa ada 10,00 % siswa memberikan respon yang cukup positif, 53,33% memberikan respon positif dan 36,67% menunjukkan respon yang sangat positif. Sedangkan, siswa sama sekali tidak menunjukkan respon kurang positif atau sangat kurang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa strategi SAWER yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran jarak jauh terbukti mampu menumbuhkan motivasi dan daya tarik siswa untuk belajar meskipun dari rumah. Penulis juga mampu mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual di mana siswa bisa meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris mereka di tengah pandemi Covid-19.

Dari data yang ditemukan, penulis menyimpulkan bahwa meskipun siswa mengalami perubahan dalam menjalani proses pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, prestasi/keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris telah mampu tercapai dan menunjukkan respon yang positif terhadap strategi pembelajaran jarak jauh yang diterapkan penulis. Hal tersebut disebabkan karena penulis berusaha mendesain kegiatan pembelajaran yang mampu menarik fokus/perhatian dan motivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran jarak jauh ini.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan data yang diperoleh penulis selama melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan strategi SAWER dalam pembelajaran jarak jauh, maka kesimpulan yang dapat diambil yaitu (1) Siswa mampu meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris dan terbukti dengan memenuhi KKM yang ditetapkan pada kurikulum SMA Negeri 1 Kubu walaupun siswa kelas X MIPA 1 harus belajar Bahasa Inggris jarak jauh dari rumah dengan menerapkan strategi SAWER, (2) Siswa kelas X MIPA 1 memberikan respon positif terhadap pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris jarak jauh dengan menerapkan strategi SAWER.

Berdasarkan pengalaman penulis selama melaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris jarak jauh ini, ada beberapa saran atau rekomendasi yang dapat disampaikan, yaitu (1) Kreativitas dan inovasi guru dalam mendesain strategi pembelajaran jarak jauh harus terus dikembangkan untuk menumbuhkan motivasi dan partisipasi aktif siswa selama mengikuti proses pembelajaran jarak jauh. (2) Pembelajaran jarak jauh dengan menerapkan strategi SAWER bisa diimplementasikan untuk semua mata pelajaran khususnya pelajaran bahasa sebagai upaya menumbuhkan dan mempertahankan prestasi/kemampuan belajar siswa di masa pandemi Covid-19. Akan tetapi, harus disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi yang akan dicapai.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

…………… (2020). Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.Jakarta: Kemendikbud.

 

…………... (2020). Surat Edaran Sekjen Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19). Jakarta: Kemendikbud.

 

Haryadi dan Zamzani. 1997. Peningkatan keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

 Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Kominukasi. Bandung: Alfabeta. (on line) http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/PRODI._ILMU_KOMPUTER/196603252001121-MUNIR/BUKU/PEMBELAJARAN%20JARAK%20JAUH%20BERBASIS%20TEKNOLOGI%20INFORMASI%20DAN%20KOMUNIKASI%20%28TIK%29.pdf (Diakses pada tanggal 5 Juli 2020)

 

Tarigan, Henry Guntur. (1983). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.