Menjadi Istri, Menjadi Bagian Dari Dunia yang Lebih Luas
Melalui pernikahan, aku mulai menyelami diriku sendiri
Aku menjadi seorang istri yang memandang kehidupan dari sudut yang berbeda. Perlahan, pemahamanku akan arti tanggung jawab, keluarga, pengorbanan, dan bagaimana sebuah kehidupan ternyata tidak pernah berdiri sendiri. Menjadi istri tentunya harus mau belajar untuk memiliki keterampilan dalam mengemban tanggung jawab, memahami segala kebutuhan keluarga hingga mendalami peringai pasangan tanpa tuntutan kesempurnaan dari diri kita masing-masing. Aku juga harus mampu mengendalikan ego terhadap setiap keputusan yang diambil tanpa adanya pertimbangan pasangan. Setelah memahami semuanya itu, baru aku menyadari bahwa seorang perempuan yang sudah berkeluarga tidak harus selalu mampu menyelesaikannya sendiri tapi ada pilar penting yang menjadi pondasi yakni kebersamaan.
Bagi seorang istri dan perempuan Hindu Bali, sudah saatnya untuk mulai menapaki jalan yang lebih luas tidah hanya sekedar bergulat dalam urusan rumah tangga ataupun pekerjaan kantor. Tapi, aku harus masuk berbaur dengan kehidupan adat dan sosial kemasyarakatan apalagi menjalani hidup di pedesaan yang sarat dengan kegiatan sosial. Aku harus bisa menyediakan ruang untuk melestarikan adat dan tradisi seperti terlibat dalam persiapan upacara agama, berinteraksi dalam kegiatan di lingkungan masyarakat (banjar) serta ikut ngayah dengan tulus dan iklas. Semua itu memang harus menyatu dalam denyut nadi kehidupan untuk memahami arti kebersamaan.
Dalam setiap rangkaian upacara agama, ada doa, penghormatan, kebersamaan dan penanda untk selalu bersyukur. Ada juga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi isyarat bahwa kita harus selalu menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Di fase ini tumbuh kesadaran bahwa menjadi perempuan Bali tidah hanya tentang pakaian adat ataupun mengikuti rangkaian upacara adat dan tradisi, tapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kebersamaan, penghormatan, gotong royong untuk menjaga warisan.
Ketika Menjadi Istri Membuat Lingkar Kehidupanku Lebih Luas
Sebelum menikah, mungkin aku melihat masyarakat sebagai sesuatu yang berada di luar diriku. Setelah menjadi istri, lingkar kehidupanku perlahan meluas. Aku belajar bahwa keluarga bukan hanya orang-orang yang tinggal serumah. Ada orang-orang yang mungkin tidak memiliki hubungan darah denganku, tetapi hadir dalam banyak bagian perjalanan kehidupan. Di sanalah aku belajar tentang rasa memiliki. Ketika ada kegiatan masyarakat, ada rasa bahwa aku bukan hanya datang sebagai seorang perempuan yang membantu sebuah pekerjaan. Aku datang sebagai bagian dari komunitas. Dan ketika suatu saat aku membutuhkan bantuan, aku tahu ada orang-orang yang mungkin akan datang tanpa banyak bertanya.
Aku belajar bahwa menjadi istri dan perempuan tidak harus berarti kehilangan diri. Namun, semakin banyak tanggung jawab yang kupelajari, semakin aku memahami satu hal penting. Kehidupan adalah tentang belajar menata keseimbangan di antara banyak peran yang kita jalani. Aku memiliki rasa syukur karena diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari begitu banyak kehidupan. Kini aku memahami bahwa menjadi istri bukan sekadar perubahan status. Ia adalah perubahan cara memandang dunia.
Menjadi istri ternyata bukan sekadar memasuki kehidupan bersama seseorang. Ia adalah perjalanan untuk mengenal tanggung jawab, memperluas hati, memahami masyarakat, menjaga nilai-nilai yang diwariskan, dan perlahan menemukan makna baru tentang siapa diriku di tengah kehidupan yang lebih besar. Ternyata, tanpa kusadari, aku sedang membuka pintu menuju wajah kehidupan yang jauh lebih luas.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia: