Minggu, 30 Agustus 2026
Sabtu, 29 Agustus 2026
Badai Datang Kembali Saat Hatiku Belum Sembuh
Badai Datang Kembali Saat Hatiku Belum Sembuh
Ketika luka kehilangan itu belum sepenuhnya kering, badai lain datang
Aku baru saja belajar berdamai dengan sebuah kehilangan yang begitu dalam. Belajar menerima bahwa ada harapan yang harus kulepaskan, ada masa depan yang hanya bisa kusimpan dalam doa dan kenangan. Tetapi ternyata, kehidupan kembali mengajarkanku bahwa ujian tidak selalu datang satu per satu dengan memberi kita waktu untuk bersiap. Kali ini bukan tentang diriku. Bukan pula tentang anakku. Waktu 4 tahun rupanya belum cukup pulih dari luka sebelumnya. Suamiku tiba-tiba jatuh sakit. Dan sakitnya itu berawal dari hanya sakit yang kebanyakan orang menganggapnya sakit biasa. Tapi, ternyata penyakitnya itu benar-benar sebagai pukulan yang tak kuduga ketika dokter memberikan penjelasan berdasarkan hasil diagnosenya.
Ada sesuatu yang berbeda ketika melihat orang yang selama ini menjadi teman berbagi kehidupan tiba-tiba berada dalam kondisi yang membuatku khawatir. Aku yang biasanya mencoba menenangkan keadaan, mendadak berhadapan dengan rasa takut yang sulit kujelaskan. Dalam waktu yang begitu singkat, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah dia akan baik-baik saja? Apakah dia akan bisa menjalani keseharian seperti biasa? Aku bahkan takut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Aku sangat takut dan khawatir. Pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal mungkin saja bisa terjadi kapan pun ketika menyadari kondisi seperti itu. Rasanya seperti belum sempat benar-benar menarik napas, aku sudah harus kembali menghadapi gelombang yang lain.
Aku berusaha terlihat kuat. Di hadapan suamiku, aku berusaha tenang. Aku ingin ia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin menjadi tempatnya bersandar. Aku mengurus apa yang bisa kuurus, menemani, menunggu kabar, berdoa, dan berusaha menjalani semuanya satu demi satu. Tetapi ketika sendirian, aku menyadari sesuatu: aku ternyata sangat takut. Ada malam-malam ketika pikiranku tidak mau berhenti. Ada saat ketika aku ingin menangis, tetapi memilih menahannya karena merasa harus tetap kuat. Namun kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri: Bukankah aku juga manusia? Mengapa menjadi kuat harus berarti tidak boleh takut? Mengapa seorang istri harus selalu terlihat tegar ketika hatinya sendiri sedang gemetar?
Kuat Ternyata Bukan Berarti Tidak Takut
Perjalanan ini perlahan mengubah pemahamanku tentang kekuatan. Dulu aku berpikir orang kuat adalah orang yang tidak menangis, tidak takut, dan selalu mampu menghadapi semuanya dengan tenang. Sekarang aku tahu, ternyata bukan itu. Kuat adalah tetap melakukan apa yang harus dilakukan meskipun hati sedang takut. Kuat adalah tetap menemani meskipun pikiran dipenuhi kecemasan. Kuat adalah tetap berdoa ketika kita tidak tahu bagaimana akhir dari sebuah cerita. Kuat adalah mengakui, “Aku takut,” tetapi tetap berkata kepada diri sendiri, “Aku akan menjalaninya.” Dan mungkin, keberanian yang sesungguhnya memang tidak lahir karena kita tidak memiliki rasa takut. Keberanian lahir ketika kita tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada.
Ada batas di mana usaha manusia harus berhenti dan doa mengambil tempatnya. Aku melakukan apa yang mampu kulakukan. Kami mencari pertolongan dan menjalani proses yang harus dijalani. Selebihnya, aku belajar menyerahkan sesuatu yang memang tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku. Aku berdoa bukan karena aku tahu bagaimana akhirnya. Aku berdoa karena aku percaya bahwa Tuhan tahu sesuatu yang tidak mampu kulihat. Setelah kehilangan anak, aku pernah belajar bahwa tidak semua harapan berakhir seperti yang kita inginkan. Kini aku kembali belajar hal yang sama. Aku tidak tahu mengapa kehidupan menghadirkan begitu banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Aku juga tidak selalu memahami maksud di balik setiap peristiwa. Namun satu hal yang mulai kupahami: mungkin kehidupan tidak sedang meminta kita untuk menjadi manusia yang tidak pernah rapuh. Mungkin kehidupan hanya sedang mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia meskipun sedang rapuh. Menangis ketika sedih. Meminta bantuan ketika lelah. Berdoa ketika takut. Dan tetap melangkah, satu hari demi satu hari. Kini aku tidak lagi mengatakan kepada diriku, “Aku harus kuat dan tidak boleh takut.” Aku memilih mengatakan: “Aku takut, tetapi aku akan menjalaninya.” Kalimat sederhana itu ternyata jauh lebih jujur.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Jumat, 28 Agustus 2026
Ada Yang Pergi, Namun Meninggalkan Jejak Pelajaran
Ada Yang Pergi, Namun Meninggalkan Jejak Pelajaran
Kehadiran kilatnya meninggalkan pelajaran yang berharga
Ada nyawa yang merupakan bagian dari jiwaku. Ia hadir memberiku napas kehidupan lagi. Namun, ia singgah hanya sejenak. Ia adalah anak yang begitu kunanti. Kehadirannya sempat membuat hatiku kembali dipenuhi harapan. Aku membayangkan masa depan bersamanya, membayangkan hari-hari sederhana yang mungkin akan kami jalani sebagai sebuah keluarga. Tetapi Tuhan memiliki cerita yang berbeda. Ia pergi sebelum sempat menjalani semua masa depan yang pernah kubayangkan. Dan setelah kepergiannya, aku pernah mengira yang tersisa hanyalah kesedihan. Ternyata aku keliru. Ada yang pergi, tetapi tidak benar-benar meninggalkan kita dengan tangan kosong. Ia meninggalkan kenangan.
Ia meninggalkan cinta. Dan tanpa kusadari, ia juga meninggalkan pelajaran yang perlahan mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Dulu aku sering menganggap hari-hari bersama keluarga sebagai sesuatu yang biasa. Bangun pagi bersama. Mendengar suara orang-orang yang kusayangi. Melihat anak tumbuh. Berbincang tentang hal-hal kecil. Semuanya terasa seperti bagian dari rutinitas. Tetapi setelah kehilangan, aku memahami bahwa tidak ada kehadiran yang benar-benar biasa. Seseorang yang hari ini masih bisa kita peluk adalah anugerah. Suara yang hari ini masih bisa kita dengar adalah anugerah. Kesempatan untuk berkumpul, bercanda, bahkan menjalani hari yang sederhana bersama keluarga adalah sesuatu yang seharusnya tidak kita lewatkan begitu saja. Kehilangan membuatku belajar untuk lebih menghargai apa yang masih Tuhan titipkan.
Aku Belajar Bahwa Tidak Semua Harapan Harus Berakhir Sesuai Keinginan
Aku pernah memiliki begitu banyak bayangan tentang masa depan anakku. Aku ingin melihatnya tumbuh. Aku ingin mendampinginya. Aku ingin menyaksikan ia menemukan impiannya. Tetapi, hidup mengajarkanku bahwa manusia hanya mampu merencanakan dan berusaha. Tentang akhirnya, Tuhan yang menentukan. Pelajaran itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Namun perlahan aku belajar bahwa menerima kehendak Tuhan bukan berarti berhenti memiliki harapan. Aku tetap boleh bermimpi, tetap boleh berusaha, tetap boleh mencintai kehidupan. Hanya saja, kini aku belajar menggenggam harapan dengan lebih rendah hati.
Aku Belajar Bahwa Cinta Tidak Selalu Berarti Memiliki Ada cinta yang bentuknya adalah kebersamaan. Ada pula cinta yang bentuknya adalah melepaskan. Anakku mungkin tidak sempat tumbuh bersamaku seperti yang pernah kubayangkan. Tetapi itu tidak membuat cintaku kepadanya menjadi sia-sia. Ia tetap anakku. Tetap bagian dari kisah hidupku. Tetap menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diriku hari ini. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu diukur dari lamanya seseorang berada di sisi kita, tetapi dari seberapa dalam kehadirannya menyentuh hati kita.
Ia Pergi, Tetapi Cintanya Tetap Tinggal
Aku tidak tahu mengapa Tuhan memilih jalan ini untukku. Mungkin sampai hari ini pun masih ada bagian dari pertanyaan itu yang belum mampu kujawab. Tetapi aku mulai memahami bahwa tidak semua pertanyaan kehidupan harus segera memiliki jawaban. Ada hal-hal yang cukup kita jalani dengan penuh kepercayaan. Ada luka yang cukup kita bawa dengan perlahan. Dan ada kenangan yang tidak perlu dilupakan hanya agar kita bisa melanjutkan hidup. Anakku pergi, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang tidak ikut pergi.
Ia meninggalkan cinta.
Cinta yang membuatku lebih menghargai waktu.
Cinta yang membuatku lebih dekat dengan keluarga.
Cinta yang membuatku belajar bersyukur.
Cinta yang membuatku memahami bahwa kehidupan adalah titipan.
Dan cinta yang mengajarkanku bahwa meskipun manusia tidak dapat menentukan bagaimana sebuah perjalanan berakhir, kita masih dapat memilih bagaimana menjalani perjalanan yang masih Tuhan percayakan. Ada yang pergi dari pelukanku, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hidupku. Ia meninggalkan jejak yang tidak terlihat, tetapi mengubah caraku memandang kehidupan: lebih menghargai kehadiran, lebih menerima ketidakpastian, lebih bersyukur atas hari ini, dan lebih percaya bahwa setiap pertemuan, seberapa singkat pun, selalu membawa sebuah pelajaran.
Ia pergi, tetapi pelajarannya tinggal.
Ia pergi, tetapi cintanya tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Kamis, 27 Agustus 2026
Ketika Kehilangan Mengajarkanku Cara Baru Mencintai Kehidupan
Ketika Kehilangan Mengajarkanku Cara Baru Mencintai Kehidupan
Dulu, aku melangkah menapaki setiap ruas jalan kehidupanku dengan hati yang ringan
Tak terbayang bahwa suatu hari nanti kehidupan akan mengajarkanku tentang kehilangan. Aku menikmati hari-hari tanpa terlalu banyak berpikir tentang betapa berharganya sebuah pagi. Bangun, bekerja, berkumpul bersama keluarga, melihat anak tumbuh, dan menjalani rutinitas, ya semuanya terasa biasa. Sampai kemudian aku kehilangan setengah dari belahan jiwaku. Sejak saat itu, cara pandangku terhadap kehidupan berubah.
Aku pernah merasa kehilangan anakku adalah akhir dari kebahagiaanku. Harapan yang sempat tumbuh begitu indah tiba-tiba harus kulepaskan. Ada ruang kosong di dalam hati yang tidak mudah dijelaskan, bahkan oleh kata-kata. Kehilangan tidak hanya mengajarkanku tentang perpisahan. Ia mengajarkanku tentang arti kehadiran.
Setelah kehilangan, aku mulai melihat kehidupan dengan mata yang berbeda. Pelukan anakku terasa lebih berarti.Suara orang-orang yang kucintai terasa lebih berharga. Makan bersama keluarga bukan lagi sekadar rutinitas. Bangun di pagi hari bukan lagi hanya tentang memulai pekerjaan, tetapi tentang kesempatan baru untuk menjalani kehidupan. Aku mulai memahami bahwa sering kali kita baru menyadari nilai sesuatu setelah takut kehilangannya. Padahal kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia hanya berupa seseorang yang masih bisa kita peluk, rumah yang masih bisa kita pulangi, keluarga yang masih menunggu, dan hari yang masih Tuhan berikan.
Aku tidak ingin melupakan anakku. Aku hanya belajar menempatkan cintaku kepadanya di tempat yang berbeda. Ia pernah hadir dalam hidupku. Pernah menjadi harapan. Pernah membuatku membayangkan masa depan. Dan meskipun waktu kebersamaan kami begitu singkat, cintaku sebagai seorang ibu tidak menjadi sia-sia. Justru dari sanalah aku belajar bahwa cinta tidak selalu diukur dari panjangnya waktu, tetapi dari dalamnya rasa yang ditinggalkan.
Dari kehilangan itu, aku mulai belajar melepaskan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Aku belajar bahwa hidup bukan tentang memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, tetapi tentang bagaimana kita tetap mampu melangkah ketika rencana itu berubah. Aku belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kupahami hari ini. Aku belajar bahwa menerima bukan berarti tidak sedih. Menerima bukan berarti berhenti merindukan. Menerima adalah ketika perlahan aku mampu berkata kepada diriku sendiri: “Aku pernah berharap. Aku pernah berjuang. Aku pernah mencintai dengan segenap hati. Dan ketika akhirnya Tuhan menentukan jalan yang berbeda, aku belajar mempercayakan kembali apa yang memang bukan berada dalam kuasaku.”
Perlahan, aku mulai memahami satu hal. Manusia boleh memiliki harapan. Manusia boleh menyusun impian. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Tetapi tentang bagaimana akhirnya, Tuhanlah yang menentukan. Mungkin inilah bagian kehidupan yang paling sulit diterima. Tetapi bukan berarti berharap adalah sebuah kesalahan. Bukan berarti bermimpi adalah sesuatu yang sia-sia. Aku justru belajar bahwa tugas manusia adalah berusaha, mencintai, menjaga, dan memberikan yang terbaik, sementara hasil akhirnya adalah wilayah Tuhan. Aku mulai memahami bahwa setiap kehidupan adalah titipan, setiap pertemuan adalah anugerah, setiap harapan adalah doa, dan setiap akhir adalah bagian dari kehendak Tuhan. Aku masih memiliki harapan. Aku masih memiliki impian. Hanya saja, kini aku menggenggamnya dengan lebih lembut dan berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan akhirnya kepada Tuhan.
Ada Kehidupan yang Harus Kuteruskan
Anakku yang pergi akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Tetapi aku juga masih memiliki kehidupan yang harus kujalani. Masih ada anak yang membutuhkan kasih sayangku. Masih ada keluarga yang membutuhkan kehadiranku. Masih ada mimpi yang ingin kuwujudkan. Masih ada banyak pagi yang ingin kusambut. Dan perlahan aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku boleh merindukan yang telah pergi, tetapi aku juga harus memeluk yang masih tinggal.” Kalimat itu menjadi cara baru bagiku untuk mencintai kehidupan. Aku tidak lagi menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk merasa bersyukur. Aku belajar bersyukur di tengah ketidaksempurnaan. Aku tidak lagi menunggu semua luka sembuh untuk kembali tersenyum. Aku belajar tersenyum sambil membawa luka. Karena ternyata, hidup bukan tentang tidak pernah kehilangan. Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap menemukan alasan untuk mencintai setelah kehilangan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Rabu, 26 Agustus 2026
Aku Menangis, Lalu Belajar Berdiri Kembali
Aku Menangis, Lalu Belajar Berdiri Kembali
Ada masa ketika aku merasa air mata adalah tanda bahwa aku tidak cukup kuat.
Aku berusaha menyembunyikannya. Menahan tangis ketika kenangan tentang anakku kembali datang. Mengusap mata sebelum orang lain melihat. Berusaha tetap tersenyum dan menjalani hari seolah-olah tidak ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Padahal sejak kehilangan anakku, ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamanya.Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri,
Mengapa aku belum bisa benar-benar baik-baik saja?
Mengapa kenangan itu masih datang?
Mengapa melihat seorang ibu menggendong bayinya bisa membuat hatiku kembali terasa sesak?
Mengapa masa depan yang pernah kubayangkan untuk anakku masih sering muncul dalam pikiranku?
Dan Aku melewati hari-hari hanya dengan tangisan. Bukan karena aku ingin menyerah. Bukan pula karena aku tidak menerima takdir.Aku menangis karena kebersamaanku dengan belahan jiwaku yang ada selama 7,5 bulan begitu singkat. Aku membiarkan diriku mengakui:
“Ya, aku masih sedih.”
Dan ternyata mengakui kesedihan bukan berarti kalah. Justru dari sanalah aku mulai belajar menerima diriku sendiri. Aku tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tidak harus memaksa luka untuk sembuh hanya karena waktu terus berjalan. Aku hanya perlu memberikan kesempatan kepada hatiku untuk berduka. Sebab terkadang, hati juga membutuhkan waktu untuk memahami sesuatu yang tidak pernah dipersiapkannya. Hari demi hari berlalu. Kesedihan itu tidak serta-merta hilang. Tetapi perlahan, aku mulai belajar menjalani hari tanpa bersamanya. Aku kembali bekerja. Kembali melakukan tanggung jawabku. Kembali tertawa meskipun terkadang setelahnya aku masih bisa teringat pada anakku.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Aku berdiri bukan karena aku sudah tidak pernah menangis. Aku berdiri karena akhirnya aku memahami bahwa hidup tetap memanggilku untuk berjalan. Ada tanggung jawab yang harus kulanjutkan. Ada anak yang masih membutuhkan pelukanku.Ada keluarga yang masih membutuhkan kehadiranku. Ada kehidupan yang masih Tuhan percayakan kepadaku. Dan mungkin, di sanalah aku menemukan arti kekuatan yang sebenarnya.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Kuat adalah ketika kita berani mengakui bahwa kita pernah jatuh, menangis sepuasnya, kemudian perlahan mengumpulkan keberanian untuk berdiri kembali.
Kini aku melihat air mata dengan cara yang berbeda. Dulu aku menganggapnya sebagai tanda kelemahan. Sekarang aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Air mata pernah menjadi bahasa ketika aku tidak mampu menjelaskan rasa kehilangan. Air mata pernah menjadi tempat untuk melepaskan rindu. Air mata juga menjadi jalan yang membawaku menuju penerimaan. Aku mungkin tidak akan pernah melupakan anakku. Dan aku tidak ingin melupakannya. Ia adalah bagian dari perjalanan hidupku. Bagian dari kisahku sebagai seorang ibu.
Kini aku tahu, aku tidak harus memilih antara mengenang dan melanjutkan hidup. Aku bisa melakukan keduanya. Aku bisa merindukannya dan tetap tersenyum. Aku bisa mengingatnya dan tetap melangkah. Aku bisa menangis dan tetap menjadi kuat. Sebab ternyata, berdiri kembali bukan berarti luka itu sudah hilang.
Aku menangis karena kehilangan. Kini, setiap kali air mata itu datang, aku membiarkannya jatuh. Setelahnya, aku mengusapnya, menarik napas, dan kembali berdiri. Bukan karena aku sudah melupakan, tetapi karena aku percaya bahwa kehidupan yang masih Tuhan titipkan kepadaku juga layak untuk diperjuangkan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Selasa, 25 Agustus 2026
Ada Luka yang Tak Sanggup Kuceritakan
Ada Luka yang Tak Sanggup Kuceritakan
Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya
Hatiku menyimpan kepedihan yang tak cukup dijelaskan dengan barisan kata yang rapi. Aku sudah terjun bebas dan terjatuh di titik terendah dalam kehidupanku. Ternyata, inilah realita yang aku hadapi. Aku merasa hidupku sudah berada dalam aliran gelombang yang sedang menghantamku dengan keras. Inilah luka yang kubawa setelah kehilangan anakku. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Bukan karena aku tidak ingin bercerita, tetapi karena ada perasaan yang terlalu penuh untuk diterjemahkan menjadi kalimat.
Aku Menunggu seseorang yang kehadirannya sudah membuatku menyusun banyak harapan.Aku belum tahu wajahnya seperti apa, tetapi aku sudah mengenalnya melalui rasa cinta. Begitulah ajaibnya menjadi seorang ibu. Seseorang bisa begitu dicintai bahkan sebelum sempat benar-benar dikenal. Setiap hari penantian terasa seperti langkah menuju sebuah pertemuan. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya tumbuh. Aku ingin merawatnya. Aku ingin menjadi ibunya selama mungkin. Namun kehidupan ternyata memiliki halaman yang tidak pernah kubayangkan.
Ketika akhirnya aku harus kehilangan anak yang begitu lama kutunggu, rasanya seperti kehilangan sebuah masa depan yang belum sempat terjadi. Bukan hanya kehilangan seorang anak. Aku juga kehilangan banyak bayangan tentang hari-hari yang pernah kubayangkan bersamanya. Sejak kehilangan anakku, dunia terasa berubah. Padahal pagi tetap datang seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap menjalani kesibukannya. Rumah tetap berdiri di tempat yang sama. Kehidupan di sekelilingku seolah tidak pernah berubah. Tetapi di dalam diriku, ada sesuatu yang tidak lagi sama. Aku yang sebelumnya menatap hari dengan harapan, tiba-tiba lebih sering menatapnya dengan kesedihan. Aku sering bertanya dalam hati, mengapa semua ini terjadi kepadaku?
Ada hari-hari ketika aku merasa menjadi orang yang paling terluka di dunia. Saat itu, rasa sakitku terasa begitu penuh hingga seolah tidak ada ruang untuk merasakan apa pun selain kehilangan. Aku membawa kesedihan itu ke mana-mana. Saat melihat bayi orang lain, hatiku teringat kepadanya. Saat mendengar tangisan bayi, pikiranku membayangkan suaranya. Saat melihat seorang ibu menggendong anaknya, aku membayangkan seharusnya aku juga sedang melakukan hal yang sama. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya biasa saja tiba-tiba menjadi begitu berarti. Aku sering membayangkan bagaimana jika ia masih ada. Bagaimana wajahnya ketika tumbuh besar. Bagaimana suaranya memanggilku. Bagaimana ia bermain bersama kakaknya.
Semua itu menjadi bagian dari luka yang tidak mudah kuceritakan. Namun, di tengah kesedihan itu, perlahan aku belajar satu hal: berduka bukan berarti aku harus berhenti hidup. Aku boleh merindukannya. Aku boleh menangisinya. Aku boleh mengingatnya. Aku boleh bertanya kepada Tuhan ketika hatiku belum mengerti. Tetapi suatu hari nanti, aku juga harus belajar membawa kenangan itu tanpa membiarkannya menghentikan langkahku. Karena mungkin, mencintai anak yang telah pergi bukan berarti terus hidup di masa lalu. Mencintainya juga berarti melanjutkan kehidupan dengan membawa cinta itu sebagai bagian dari diriku.
Luka Itu Masih Ada, Tetapi Aku Tidak Lagi Takut Membawanya
Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sudah sepenuhnya melupakan kesedihan itu. Tidak. Ada bagian dari diriku yang akan selalu mengingatnya. Namun kini aku mulai memahami bahwa membawa kenangan bukan berarti harus terus hidup dalam kesedihan. Aku boleh tersenyum lagi. Boleh bahagia lagi. Boleh melanjutkan kehidupan. Dan tetap boleh mengingat seseorang yang pernah begitu berarti. Mungkin begitulah cara hati belajar sembuh: bukan dengan menghapus luka, tetapi dengan memberinya tempat yang layak di dalam perjalanan hidup.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Langganan:
Postingan (Atom)
-
LITERASI BALITAL I TA 2026/2027 A. LITERASI BACA TULIS Kamis, 23 Juli 2026 Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini...
-
LITERASI BALITAL I 2026 A. LITERASI BACA TULIS Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini. Silakan dipilih kemudian t...


.jpeg)
