Jumat, 11 September 2026
Kamis, 10 September 2026
Rangkaian Ujian Itu Membuatku Takut, Tetapi Doa Membuatku Tetap Bertahan
Rangkaian Ujian Itu Membuatku Takut, Tetapi Doa Membuatku Tetap Bertahan
Rabu, 09 September 2026
Aku Kembali Terdiam Ketika Badai Kembali Mengetuk Pintu
Aku Kembali Terdiam Ketika Badai Kembali Mengetuk Pintu
Oh Tuhan, mengapa datang lagi
Kupikir hadiah yang dianugerahkan setelah apa yang telah aku lewati hanyalah merupakan jalan untuk bernapas sedikit lega. Ternyata, hidup kembali mengetuk pintu dengan kabar yang tidak pernah kami tunggu. Baru beberapa hari kami mulai menata kembali kehidupan setelah operasi, musibah itu datang lagi. Ya, suamiku kecelakaan. Seketika tubuhku terasa kaku. Aku tercengang seolah pikiranku berhenti bekerja untuk beberapa saat.“Oh, Tuhan kok terjadi lagi...” Itu yang pertama kali muncul di kepalaku.
Baru saja aku belajar menguatkan diri setelah melewati ruang operasi. Baru saja aku mulai percaya bahwa badai besar sudah berlalu. Mengapa sekarang harus ada kejadian lagi? Aku kembali merasakan ketakutan yang sebenarnya belum sempat hilang sepenuhnya.Ketakutan melihatnya kembali berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ketakutan harus kembali berhadapan dengan rumah sakit, tindakan medis, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Aku bahkan sempat merasa seperti sedang berdiri di tempat yang sama. Padahal baru saja aku keluar dari sana.
Aku Merasa Syok lagi
Aku syok bukan hanya karena kecelakaannya, tetapi karena aku merasa sangat lelah. Lelah secara fisik. Lelah secara pikiran. Lelah karena setiap kali mulai merasa sedikit tenang, selalu ada sesuatu yang kembali membuat jantungku berdegup lebih cepat. Ada bagian dalam diriku yang ingin berkata, “Aku sudah cukup kuat. Tolong jangan beri aku ketakutan lagi.” Tetapi, hidup tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap menerima sebuah ujian. Ia hanya datang. Dan ketika itu terjadi, aku kembali duduk dalam diam, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Aku memandang suamiku. Orang yang beberapa hari sebelumnya baru saja berjuang melewati operasi besar. Orang yang baru saja mulai belajar memulihkan tubuhnya. Dan sekarang, sebuah kecelakaan kembali membuatku harus menahan napas. Saat itu, pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Mengapa harus lagi? Mengapa ketika baru saja mulai pulih, harus datang musibah lain? Mengapa rasanya ujian datang begitu berdekatan? Aku tidak tahu jawabannya.
Dan kali ini aku tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua ini adalah takdir buruk. Aku hanya seorang manusia yang sedang takut. Seorang istri yang kembali melihat orang yang dicintainya berada dalam keadaan yang membuat hati tidak tenang. Sehingga, wajar jika aku bertanya. Wajar jika aku menangis. Wajar jika aku merasa lelah. Wajar jika untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Ada rasa takut yang ternyata belum benar-benar sembuh. Aku baru menyadari bahwa setelah melewati masa kritis, bukan berarti ketakutan langsung hilang. Kadang tubuh kita sudah berada di rumah. Tetapi, pikiran masih tertinggal di ruang operasi. Kadang seseorang sudah membuka mata dan berbicara kepada kita. Tetapi hati masih menyimpan bayangan tentang kemungkinan terburuk yang pernah kita takutkan. Dan ketika kecelakaan itu terjadi, semua rasa takut itu seperti kembali dibangunkan.Aku kembali teringat pada hari ketika pintu ruang operasi tertutup. Kembali teringat pada saat aku hanya bisa duduk dan berdoa.
Aku kembali belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah satu menit berikutnya. Kemarin kami sedang memikirkan makanan apa yang baik untuk pemulihan. Hari ini kami kembali dihadapkan pada kecemasan. Kemarin aku mulai berani membayangkan suamiku kembali beraktivitas. Hari ini aku kembali takut semuanya harus dimulai dari awal. Begitulah hidup. Aku hanya bisa, “Tuhan, lindungi dia. Berikan kami kekuatan untuk melewati ini. Jangan biarkan rasa takut membuat kami kehilangan harapan.”
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Selasa, 08 September 2026
Badai Telah Lewat, Tetapi Hari-Hari Pemulihan Baru Saja Dimulai
Badai Telah Lewat, Tetapi Hari-Hari Pemulihan Baru Saja Dimulai
Harus memulai lagi
Badai memang telah lewat, tetapi setelah badai, masih ada rumah yang harus dirapikan. Masih ada luka yang harus dipulihkan. Kami seperti sedang membuka halaman baru. Bukan kembali ke halaman sebelumnya. Tetapi, benar-benar memulai lagi. Hal-hal yang dahulu terasa sederhana kini harus diperhatikan dengan lebih sungguh-sungguh. Kesehatan tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Makanan harus lebih terjaga. Waktu istirahat harus diperhatikan. Aktivitas harus disesuaikan. Setiap perubahan kondisi harus diamati. Kontrol harus dilakukan secara rutin. Dan semua itu membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit.
Dari Istri Menjadi Perawat
Setelah semua yang terjadi, aku harus mengenalnya dalam peran yang berbeda. Aku menjadi orang yang lebih sering memperhatikan keadaannya. Aku ada untuk memastikan ia beristirahat, mengingatkannya pada hal-hal yang harus dilakukan sesuai arahan dokter. Aku juga harus menemaninya menjalani kontrol. Aku harus mengamati perubahan kecil yang mungkin sebelumnya tidak pernah kupedulikan.Tanpa kusadari, aku telah mengambil peran sebagai perawat bagi suamiku sendiri. Itu bukan karena aku memiliki keahlian medis, bukan pula karena aku tahu semuanya. Aku hanya seorang istri yang sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Dan dalam banyak hal, aku harus belajar bertanya dan memburu informasi.
Aku Juga Harus Belajar Menjadi “Ahli Gizi” di Rumah
Hal yang paling banyak berubah adalah makanan. Sekarang aku memandang makanan dengan cara yang berbeda. Aku mulai memahami bahwa apa yang masuk ke tubuhnya harus lebih diperhatikan. Aku mulai menyusun makanan dengan lebih hati-hati berdasarkan anjuran yang kami terima. Aku membaca kembali catatan. Aku bertanya ketika tidak yakin dan memastikan pola makan yang dijalani sesuai dengan kebutuhan pemulihannya dan arahan tenaga medis. Aku tidak benar-benar menjadi ahli gizi. Tetapi di rumah, aku merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu menjaga apa yang bisa kujaga. Dapur yang dulu hanya tempat menyiapkan makanan, kini terasa seperti bagian dari perjalanan pemulihan suamiku. Aku memasak sambil berpikir. “Semoga makanan ini membantu tubuhnya menjadi lebih kuat.”
Kontrol yang Mengajarkan Kami Tentang Kesabaran
Setelah operasi, kontrol bukan lagi sesuatu yang bisa ditunda-tunda. Ada jadwal yang harus diperhatikan. Ada perkembangan yang harus dipantau. Ada pertanyaan yang harus disiapkan. Ada hasil pemeriksaan yang harus dipahami. Aku mulai terbiasa dengan perjalanan menuju tempat kontrol. Di sana, Aku harus menunggu giliran, mendengarkan penjelasan dokter, mencatat hal-hal penting. Dan, kemudian pulang dengan membawa harapan sekaligus tanggung jawab baru.
Sekecil apapun kemajuan dan perubahannya benar-benar aku nantikan. Satu aktivitas yang hari ini bisa dilakukan lebih baik daripada kemarin. Satu hari yang dilewati tanpa masalah berarti. Satu hasil kontrol yang membuat kami sedikit lebih lega. Satu senyum dari suamiku. Satu percakapan sederhana. Satu pagi ketika aku melihatnya duduk dan berkata, “Aku sudah merasa lebih baik.” Hal-hal kecil itu kini menjadi sangat berarti. Aku belajar untuk tidak lagi menuntut kehidupan agar segera kembali seperti semula. Aku belajar menghargai setiap perkembangan. Karena setelah hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga, hal-hal sederhana pun terasa seperti hadiah.
Badai Memang Telah Lewat
Aku pernah berdiri di depan ruang operasi dengan tubuh yang gemetar, membayangkan berbagai kemungkinan terburuk. Hari itu terasa seperti dunia sedang berhenti. Kini aku melihat suamiku ada di hadapanku. Masih dalam proses pemulihan. Masih membutuhkan perhatian. Masih harus belajar kembali menjaga tubuhnya. Tetapi ia ada. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah membawa kami melewati satu badai besar. Terima kasih karena doa-doa yang kupanjatkan dalam ketakutan telah diberi jawaban. Dan terima kasih karena hari ini aku masih diberi kesempatan untuk merawat orang yang kucintai. Kini aku tidak meminta agar perjalanan ini selalu mudah. Aku hanya meminta agar kami diberi kekuatan untuk menjalaninya. Karena aku tahu, setelah badai reda, kehidupan tidak langsung kembali tenang. Badai telah lewat. Tetapi hari-hari pemulihan baru saja dimulai. Dan kali ini, kami akan menjalaninya pelan-pelan, bersama-sama.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
https://wahyusuprabawathienglish.blogspot.com/2026/09/badai-telah-lewat-tetapi-hari-hari.html
Senin, 07 September 2026
Aku Bersyukur Ia Kembali, Tetapi Masih Harus Belajar Pulih
Aku Bersyukur Ia Kembali, Tetapi Kami Masih Harus Belajar Pulih
Yang kulakukan hanya berucap "Terima Kasih, Tuhan"
Setelah melewati waktu yang begitu panjang, setelah menunggu di depan ruang operasi dengan hati yang gemetar, setelah membayangkan begitu banyak kemungkinan buruk, akhirnya aku melihatnya kembali membuka mata. Saat itu aku tahu, ada sesuatu yang begitu besar sedang terjadi di hadapanku. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan hanya dengan kata-kata. Aku hanya bisa menundukkan kepala dan berkata dalam hati,“Terima kasih, Tuhan.” Dan kepada para leluhur yang selama ini menjadi bagian dari doa-doaku, aku juga mengucapkan syukur.Bagiku, itu adalah sebuah anugerah. Sebuah jawaban akan permintaanku yang murni dan tulus. Sebuah keajaiban yang membuat hatiku kembali memiliki tempat untuk berharap.
Setelah masa kritis yang mendebarkan terlewati, ternyata masih ada ketakutan mengintai. Ketika satu ketakutan selesai, kehidupan tidak serta-merta menjadi tenang. Aku harus memantau kondisinya. Aku harus memperhatikan setiap perubahan kecil. Aku harus lihai memburu informasi dokter dan harus mendengarkan baik-baik penjelasan dokter. Aku mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya belum sempat kupikirkan. Tentang masa pemulihannya, tentang apa yang harus dipersiapkan ketika ia nanti kembali menjalani kehidupan di rumah, tentang bagaimana aku harus mendampinginya, tentang hal-hal kecil yang mungkin harus kami ubah dalam keseharian. Aku mulai menyusun semuanya di dalam kepala. Seolah-olah dengan mempersiapkan segala sesuatu, aku bisa memastikan bahwa ia akan baik-baik saja. Padahal, ada satu hal yang perlahan kulupakan, Diriku sendiri.
Aku Lupa Bahwa Tubuhku Juga Sedang Berjuang
Beberapa waktu sebelumnya, aku sendiri sedang menjalani pengobatan. Tubuhku sebenarnya belum sepenuhnya baik. Aku masih memiliki perjalanan kesehatan yang harus kujalani. Masih ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah. Masih ada keterbatasan yang harus kuakui. Tetapi, setelah melihat suamiku melewati masa kritis, tiba-tiba semua itu terasa seperti sesuatu yang bisa kutunda. Aku merasa kondisiku sendiri tidak sepenting kondisi suamiku. Maka aku kembali melakukan apa yang selama ini kulakukan. Menjadi kuat. Aku mengesampingkan rasa tidak nyaman, mengabaikan tubuh yang sesekali meminta istirahat, menyimpan kekhawatiran tentang kondisiku sendiri. Bukan karena aku tidak peduli pada diriku. Tetapi, karena saat itu pikiranku hanya tertuju pada satu hal: Aku harus memastikan ia baik-baik saja.
Aku harus sehat untuk menjaganya. Aku mulai menyadari sesuatu. Jika aku ingin mendampinginya dalam perjalanan pemulihan, aku juga harus menjaga diriku sendiri. Aku tidak bisa terus-menerus menganggap tubuhku tidak penting. Aku tidak bisa terus berkata bahwa aku baik-baik saja jika sebenarnya tubuhku juga membutuhkan perhatian. Sebab, bagaimana aku bisa menjadi tempatnya bersandar jika aku sendiri tidak memberikan kesempatan kepada tubuhku untuk beristirahat? Bagaimana aku bisa mendampinginya berjalan jika aku tidak menjaga kakiku sendiri tetap kuat? Dari situlah aku mulai memahami bahwa merawat diri bukan berarti egois. Menjaga kesehatan diri bukan berarti mengurangi perhatianku kepada suami. Justru sebaliknya. Aku ingin sehat karena aku ingin tetap ada di sampingnya. Aku ingin memiliki cukup tenaga untuk menemaninya. Aku ingin bisa mendengarkan keluhannya. Aku ingin bisa membantunya ketika ia membutuhkan. Aku ingin melihat sendiri setiap kemajuan kecil dalam pemulihannya.
Kami Sama-Sama Sedang Belajar Pulih
Mungkin inilah bagian kehidupan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kami berdua ternyata sedang berada dalam perjalanan pemulihan masing-masing. Ia sedang berusaha mengembalikan kekuatan tubuhnya. Aku sedang belajar memahami batas tubuhku sendiri. Ia membutuhkan waktu untuk kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Aku juga membutuhkan waktu untuk kembali menemukan keseimbanganku. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kami tidak harus selalu menjadi kuat dalam waktu yang bersamaan.
Kini ketika mengingat kembali hari-hari itu, aku tidak ingin hanya mengingat ketakutannya. ku ingin mengingat bagaimana Tuhan memberikan kami kesempatan untuk kembali berharap. Aku ingin mengingat bagaimana doa-doa yang kupanjatkan dengan hati gemetar akhirnya digantikan oleh ucapan syukur. Aku ingin mengingat bahwa setelah malam yang panjang, selalu ada pagi yang datang.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Minggu, 06 September 2026
Pintu Ruang Operasi Terbuka, Tetapi Kecemasanku Belum Usai
Pintu Ruang Operasi Terbuka, Tetapi Kecemasanku Belum Usai
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Setelah berjam-jam duduk dalam ketidakpastian, setelah hati berkali-kali bergetar oleh kemungkinan terburuk, akhirnya pintu itu terbuka juga. Aku menuju ke arah pintu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada lega, ada takut, ada harapan, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ketika akhirnya suamiku keluar dari ruang operasi, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kulupakan. Tuhan menjawab doa-doaku dengan cara yang tidak pernah kuduga. Operasi berjalan lancar. Keajaiban itu ada di sana. Aku masih mengingat bagaimana dokter menyampaikan bahwa suamiku bisa segera sadar setelah operasi. Bahkan dokter merasa heran karena untuk kondisi seperti yang dialaminya, biasanya pasien membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali sadar. Menurut penjelasan dokter kepadaku, pada kondisi seperti itu, pasien biasanya dapat membutuhkan waktu hingga sekitar kurang lebih dua hari untuk sadar. Tetapi suamiku berbeda. Ia bisa sadar lebih cepat. Dan, ketika aku mendekatinya, ia bisa mengenaliku. Saat itu, rasanya seperti mendapatkan kembali sesuatu yang sempat kupikir mungkin akan hilang. Aku melihat sorot matanya. Aku mendengar responsnya. Dan yang paling membuat hatiku bergetar, ia masih mengenaliku. Bukan hanya itu. Ia juga masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik.
Satu demi satu kekhawatiran yang selama berjam-jam menghantuiku seolah dipatahkan. Kemungkinan-kemungkinan buruk yang terus berputar di kepalaku tidak terjadi. Ketakutan yang sejak tadi kubawa di dalam hati perlahan runtuh satu per satu. Aku hanya bisa terdiam mungkin karena terlalu lega, mungkin karena terlalu lelah. Atau mungkin karena aku sendiri tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan rasa syukur yang begitu besar. Aku hanya ingin menangis bukan karena sedih. Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seperti baru saja dikembalikan kepada sebuah harapan.
Kecemasanku masih belum berakhir total
Namun ternyata, pintu ruang operasi yang terbuka bukan berarti semua kecemasan ikut keluar bersamanya. Operasi memang telah selesai. Tetapi perjuangan belum benar-benar berakhir. Masih ada masa kritis yang harus dilewati. Masih ada kesadaran yang harus terus dipantau. Masih ada perkembangan kondisi yang harus diamati. Masih ada perubahan kecil yang membuatku kembali bertanya-tanya. Dan aku kembali belajar tentang satu kata yang sebenarnya sudah sangat kukenal: Menunggu.
Aku kembali menunggu. Tetapi kali ini, rasanya berbeda. Jika sebelumnya aku menunggu apakah operasi akan berhasil, sekarang aku menunggu bagaimana tubuhnya akan merespons setelah tindakan. Aku memperhatikan wajahnya. Aku memperhatikan gerakannya. Aku memperhatikan responsnya.Aku mencoba membaca setiap perubahan kecil yang terjadi. Kadang ketika ia terlihat lebih tenang, hatiku ikut tenang.
Ketika ada sesuatu yang berbeda, pikiranku kembali dipenuhi pertanyaan.
Apakah ini normal?
Apakah kondisinya semakin baik?
Berapa lama sampai ia benar-benar pulih?
Apakah setelah ini semuanya akan kembali seperti dulu?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang bisa kudapatkan saat itu juga. Dan itulah bagian tersulitnya. Aku menunggu sambil tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi.Namun kali ini aku belajar untuk tidak membiarkan ketakutan mengambil seluruh ruang di dalam pikiranku. Aku mencoba mengingat satu hal: Bukankah hari ini Tuhan sudah menunjukkan sebuah keajaiban?
Ketika aku takut ia tidak sadar dalam waktu dekat, ia justru sadar lebih cepat.
Ketika aku takut ia tidak mengenaliku, ia justru mengenaliku.
Ketika aku takut akan terjadi sesuatu pada gerak tubuhnya, ia masih mampu menggerakkannya dengan baik.
Bukankah itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur?
Maka ketika kecemasan kembali datang, aku mencoba mengingat semua itu.
Ada sesuatu yang berubah dalam diriku setelah hari itu. Aku mulai memahami bahwa dalam perjalanan menghadapi sakit, kita tidak selalu membutuhkan jawaban untuk semua hal. Kadang kita hanya membutuhkan kekuatan untuk melewati satu tahap demi satu tahap. Hari ini menunggu operasi. Besok menunggu kesadaran. Setelah itu menunggu perkembangan. Kemudian menunggu tubuh kembali kuat. Dan entah berapa lama lagi sampai kehidupan benar-benar kembali seperti sebelumnya. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikan. Tetapi, aku belajar bahwa tidak semua ketidakpastian harus dijawab dengan ketakutan. Sebagian cukup dijalani dengan doa, kesabaran, dan kepercayaan.
“Terima kasih, Tuhan.”
Terima kasih karena telah mendengarkan doa-doa yang kupanjatkan dengan hati gemetar.
Terima kasih karena telah menjaga tangannya selama berada di ruang operasi.
Terima kasih karena telah mengizinkannya kembali membuka mata.
Terima kasih karena ketika aku takut ia mungkin tidak lagi mengenaliku, ia justru memandangku dengan tatapan yang masih kukenal.
Tetapi setelah ucapan syukur itu, aku kembali menitipkan satu doa.
“Tuhan, jangan berhenti menjaganya.” Karena aku tahu, perjalanan ini masih panjang.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Sabtu, 05 September 2026
Badai Itu Belum Selesai, Ia Kembali Membawa Ketakutan yang Lebih Besar
Badai Itu Belum Selesai, Ia Kembali Membawa Ketakutan yang Lebih Besar
Kehidupan ternyata hanya memberiku jeda untuk bernapas panjang
Aku berpikir bahwa kehidupan hanya memberiku waktu bernapas sejenak setelah rangkaian demi rangkaian kisah yang mengiris hati. Kehidupan telah memberi kami kesempatan untuk kembali menjalani hari-hari biasa. Dan itu berselang 2,5 tahun setelah suamiku keluar dari rumah sakit. Aku tahu semuanya belum sepenuhnya seperti dahulu. Masih ada proses pemulihan. Masih ada hal-hal yang harus diperhatikan. Tetapi setidaknya, ia sudah kembali ke rumah. Ada rasa syukur yang besar setiap kali melihatnya berada di sana. Namun ternyata, aku belum benar-benar selesai dengan badai itu. Badai itu belum selesai. Ia hanya sempat memberi kami waktu untuk menarik napas. Lalu, tanpa banyak tanda, ia datang kembali. Dan kali ini, ia membawa ketakutan yang jauh lebih besar.
Aku mengingat dengan jelas bagaimana semuanya berlangsung begitu cepat. Aku yakin saat itu tidak ada mendung atau awan hitam pekat yang akan menurunkan hujan deras ke halaman hidupku. Suamiku tiba-tiba mengalami kondisi buruk yang belum pernah dirasakan sebelumnya sehingga pintu IGD terbuka lagi menerimanya. Kali ini bukan sekadar kekhawatiran seperti sebelumnya. Keadaannya membutuhkan tindakan medis segera. Aku berusaha tetap berpikir jernih. Aku berusaha melakukan apa yang harus dilakukan. Mencari informasi. Menghubungi orang-orang yang perlu dihubungi. Memastikan segala sesuatu berjalan secepat mungkin. Tetapi di balik semua gerakanku yang terlihat cekatan, hatiku sebenarnya sedang gemetar. Ada bagian dalam diriku yang ingin berkata, “Tuhan, jangan lagi.” Aku baru saja belajar berdiri setelah melewati ketakutan sebelumnya. Mengapa sekarang aku harus kembali berhadapan dengan ketakutan yang sama? Bahkan lebih besar? Dan kemudian datang kabar bahwa suamiku harus segera menjalani operasi. Saat mendengar kata itu, rasanya ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
"Harus segera dilakukan Operasi", kata dokter
Satu kata yang tiba-tiba membuat pikiranku berlari ke mana-mana. Aku tahu tindakan medis itu diperlukan. Aku tahu dokter dan tim medis tentu telah mempertimbangkan langkah terbaik. Tetapi sebagai seorang istri, mengetahui bahwa orang yang paling kucintai harus masuk ke ruang operasi dengan berbagai risiko setelahnya bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Aku hanya bisa terdiam.
Ketika akhirnya suamiku dibawa menuju ruang operasi, aku hanya bisa mengikutinya sampai batas yang diperbolehkan. Setelah pintu itu tertutup, aku berhenti. Dan untuk beberapa saat, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku duduk termangu, memandangi pintu ruang operasi. Di balik pintu itu ada seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang selama ini kupikir akan terus berjalan bersamaku. Seseorang yang telah melewati begitu banyak hal bersamaku. Dan sekarang, aku harus menyerahkan keselamatannya kepada tangan-tangan yang bekerja di balik pintu itu.
Dalam penantian itu, pikiranku mulai menciptakan berbagai kemungkinan. Bagaimana nanti ketika operasinya selesai? Apakah ia akan mengingatku seperti biasa? Apakah ia masih bisa mengenaliku dengan baik? Apakah nanti ia masih bisa berbicara dan berinteraksi seperti sebelumnya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ia kembali seperti biasa? Apakah pemulihannya akan panjang? Dan bahkan pertanyaan yang paling fatal, apakah dia bisa selamat melewati masa kritis? Pertanyaan demi pertanyaan datang tanpa henti. Aku tahu sebagian besar belum tentu terjadi. Aku tahu aku tidak seharusnya membuat kesimpulan sendiri. Tetapi, ketika seorang belahan hati berada di ruang operasi, pikiran terkadang tidak lagi berjalan dengan tenang.
Aku teringat cerita tentang orang-orang lain yang pernah mengalami kondisi serupa. Ada yang membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan diri. Ada yang setelah sakit harus menjalani proses panjang untuk kembali beraktivitas. Ada pula cerita tentang seseorang yang mengalami keterbatasan gerak setelah mengalami kondisi yang berat. Semua cerita itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Semua cerita itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Dan semakin kupikirkan, semakin besar rasa takut itu. Tetapi hati manusia memang tidak selalu bisa diperintah untuk tenang. Ada ketakutan yang datang begitu saja. Ada kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya belum terjadi, tetapi terasa begitu nyata di dalam pikiran.
Aku hanya bisa menunggu
Waktu berjalan. Tetapi rasanya tidak berjalan seperti biasanya. Menit terasa panjang. Jam terasa lebih panjang lagi. Aku beberapa kali melihat jam, lalu kembali memandang pintu ruang operasi. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu. Aku tidak berani membiarkan pikiranku pergi terlalu jauh. Aku tidak berani terlalu banyak membayangkan apa yang sedang terjadi di balik pintu itu. Maka, aku memilih satu hal yang masih bisa kulakukan: Berdoa. Aku hanya bisa berdoa karena doa adalah cara untuk menahan hatiku agar tidak jatuh lebih dalam ke dalam ketakutan.
Ada orang yang mungkin memilih mengalihkan pikirannya ketika sedang menunggu seperti membuka ponsel, mengobrol ataupun melakukan sesuatu agar waktu terasa lebih cepat. Tetapi, saat itu aku tidak mampu. Aku hanya ingin tetap terhubung dengan doaku. Aku duduk dan sesekali menatap pintu ruang operasi. Kemudian, kembali mengarahkan pikiranku untuk melantunkan doa. Aku tidak tahu apakah doa bisa membuat waktu berjalan lebih cepat.Tetapi, aku tahu doa membuatku merasa tidak sepenuhnya sendirian. Ketika aku tidak mampu melakukan apa-apa, doa menjadi satu-satunya cara bagiku untuk tetap merasa sedang melakukan sesuatu untuk orang yang kucintai. Aku menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Dan sebagai seorang yang percaya pada leluhur, aku pun memohon agar leluhur turut menaungi perjalanan kami. Aku berdoa agar suamiku dilindungi, agar tindakan berjalan lancar, agar tangan-tangan yang bekerja diberi ketelitian dan kekuatan dan agar setelah semuanya selesai, aku masih diberi kesempatan untuk melihatnya kembali.
Aku pasrah
Bukan karena aku berhenti berharap. Justru karena aku terlalu berharap. Aku sadar bahwa ada batas dari apa yang mampu dilakukan manusia. Ada titik ketika usaha harus berjalan bersama kepasrahan. Dan saat itulah aku benar-benar menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami arti berserah. Berserah bukan berarti berhenti berusaha. Berserah adalah ketika kita sudah melakukan apa yang mampu dilakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Maka aku duduk di sana dengan hati yang penuh ketakutan. Tetapi juga dengan doa karena hanya itulah yang bisa kulakukan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Langganan:
Postingan (Atom)
-
LITERASI BALITAL I TA 2026/2027 A. LITERASI BACA TULIS Kamis, 23 Juli 2026 Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini...
-
LITERASI BALITAL I 2026 A. LITERASI BACA TULIS Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini. Silakan dipilih kemudian t...
-
Expressions on Social and Cultural Issues Video 1 Video 2 Infographic



