Jumat, 11 September 2026

Ternyata Kehidupan Tidak Selalu Datang untuk Menyakiti

 Ternyata Kehidupan Tidak Selalu Datang untuk Menyakiti



Mengapa harus aku?” 
Setiap kali sesuatu yang tidak kuinginkan datang, pertanyaan yang muncul di dalam hati hampir selalu sama, “Mengapa harus aku?” Ketika kehilangan datang, aku bertanya. Ketika orang yang kucintai jatuh sakit, aku takut. Ketika keadaan mulai membaik lalu musibah kembali datang, aku kembali bertanya. Ketika aku sendiri berjuang melawan penyakitku, aku bertanya lagi.  Seolah-olah kehidupan sedang berdiri di hadapanku dengan membawa satu ujian demi satu ujian, tanpa memberiku cukup waktu untuk menarik napas. Ada saat ketika aku merasa terlalu lelah untuk memahami semuanya. Aku hanya tahu bahwa aku takut. Takut kehilangan lagi. Takut mendengar kabar buruk lagi. Namun, semakin panjang perjalanan itu kulalui, semakin aku menyadari sesuatu. Mungkin kehidupan tidak selalu datang untuk menyakitiku. Mungkin aku hanya terlalu sibuk merasakan sakitnya, sampai belum mampu melihat apa yang sedang diajarkannya.

Pengalaman perlahan mengubah cara pandangku. Aku mulai memahami bahwa kehidupan tidak pernah hanya terdiri dari hari-hari yang mudah.
Ada pertemuan.
Ada perpisahan.
Ada kelahiran.
Ada kehilangan.
Ada kesehatan.
Ada sakit.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada sesuatu yang datang ketika kita siap, dan ada pula sesuatu yang datang ketika kita sama sekali belum siap. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan manusia. Dan dalam keyakinanku, kehidupan juga tidak terlepas dari karma yakni tentang sebab dan akibat, tentang perjalanan perbuatan yang membawa kita pada pengalaman tertentu. Aku tidak ingin menjadikan karma sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menghakimi siapa pun. Bagiku, karma justru mengajarkan sebuah kesadaran: bahwa setiap tindakan memiliki makna, setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan setiap pengalaman dapat menjadi ruang untuk belajar.

Ada Peristiwa yang Baru Bisa Kupahami Setelah Aku Melewatinya
Aku pernah berpikir bahwa kehilangan hanya meninggalkan kehampaan. Ternyata tidak. Ia memang meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Tetapi di ruang kosong itu, aku belajar menghargai keberadaan. Aku belajar bahwa kehadiran seseorang bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Aku belajar memeluk lebih erat. Begitu pula ketika suamiku sakit. Pada awalnya, yang kulihat hanya ketakutan. Aku melihat rumah sakit. Aku melihat masa-masa menunggu. Aku melihat wajah yang membuatku cemas. Aku melihat kehidupan yang tiba-tiba harus berubah. Tetapi, setelah melewati semuanya, perlahan aku melihat sisi lain. Aku belajar tentang kesehatan. Aku belajar tentang kesabaran. Aku belajar tentang merawat. Aku belajar memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak lagi hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Aku mulai bertanya, “Apa yang sedang diajarkan kehidupan kepadaku melalui semua ini?” Pertanyaan itu tidak serta-merta menghilangkan rasa takut. Tetapi, membuatku memiliki cara baru untuk memandangnya.

Hidup Ternyata Sedang Mengajarkanku Menjadi Lebih Cerdas
Aku menggunakan kata cerdas bukan hanya dalam arti mampu mengetahui banyak hal. Tetapi, cerdas dalam menjalani kehidupan. Ya, aku harus erdas memilih. Aku harus cerdas menjaga diri. Aku harus cerdas memperlakukan orang lain. Aku harus cerdas menghargai waktu. Aku harus cerdas memahami bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan. Aku juga harus cerdas membedakan mana yang harus diperjuangkan dan mana yang harus diserahkan kepada Tuhan. Karena hidup tidak selalu mengajarkan sesuatu melalui buku. Kadang kehidupan menjadi guru yang datang melalui pengalaman. Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah kita menangis. Ada kedewasaan yang lahir setelah kita kehilangan. Ada kebijaksanaan yang tumbuh setelah kita melewati ketakutan. Dan ada ketenangan yang baru ditemukan setelah kita berkali-kali belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Ternyata, pengalaman yang pahit pun bisa menjadi guru yang sangat jujur. Ia tidak selalu datang untuk membuat kita menderita. Kadang ia datang untuk membuat kita lebih sadar.

Ternyata Kehidupan Tidak Selalu Datang untuk Menyakiti
Setelah begitu banyak hal kulewati, aku akhirnya berani melihat kehidupanku dari sudut yang berbeda. Aku ingin melihatnya sebagai sebuah perjalanan pembelajaran. Kehidupan mungkin datang membawa sesuatu yang tidak kupilih. Tetapi, dari sana aku bisa memilih untuk belajar. Belajar menjadi lebih peka, lebih berhati-hati. lebih menghargai, Lebih bijaksana, lebih dekat kepada Tuhan. Dan lebih sadar bahwa setiap hari yang masih diberikan adalah kesempatan. Mungkin hidup memang tidak selalu datang untuk menyakiti. Kadang ia datang untuk membuka mata. Kadang untuk mengubah arah. Kadang untuk mengajarkan sesuatu yang tidak pernah bisa diajarkan oleh keadaan yang terlalu mudah. Dan mungkin, pada akhirnya, semua perjalanan itu sedang membentuk kita menjadi versi diri yang lebih matang dalam menjalani kehidupan. Aku belum tahu seluruh makna dari perjalanan yang telah kulewati. Aku percaya di balik setiap peristiwa, selalu ada sesuatu yang bisa kupelajari.




MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:


Kamis, 10 September 2026

Rangkaian Ujian Itu Membuatku Takut, Tetapi Doa Membuatku Tetap Bertahan

 Rangkaian Ujian Itu Membuatku Takut, Tetapi Doa Membuatku Tetap Bertahan



Ternyata belum tentu bisa menarik napas panjang
Aku terdiam dalam keheningan seraya bertanya kepada diriku sendiri, seberapa kuat sebenarnya seseorang bisa bertahan ketika ujian datang berkali-kali? Aku pernah berpikir bahwa setelah satu badai berlalu, kehidupan akan memberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang. Ternyata tidak selalu. Belum selesai satu rasa kehilangan kupahami, datang ujian lain. Belum selesai hatiku belajar menerima, kehidupan kembali mempertemukanku dengan ketakutan. Ketika suamiku sakit, aku belajar menunggu. Ketika ia harus menjalani operasi, aku belajar menyerahkan. Ketika ia mulai pulih, aku belajar merawat. Dan ketika aku mulai percaya bahwa keadaan perlahan membaik, musibah kembali datang. Aku takut. Sangat takut. Ada saat-saat ketika tubuhku tetap bergerak menjalankan apa yang harus dilakukan, tetapi pikiranku penuh dengan pertanyaan yang tidak mampu kujawab.

Menjadi seorang istri membuatku belajar bahwa ada ketakutan yang harus disimpan sementara agar aku tetap bisa melakukan apa yang diperlukan. Ketika suamiku sakit, aku harus tetap berpikir. Ketika ia membutuhkan pertolongan, aku harus mengambil keputusan. Ketika dokter menjelaskan kondisi dan berbagai kemungkinan, aku harus mendengarkan meskipun hatiku sebenarnya ingin menutup telinga. Ketika malam tiba dan keadaan mulai sunyi, barulah semua rasa takut itu datang kembali. Saat itulah aku menyadari bahwa kuat bukan berarti tidak takut. Aku pernah merasa seperti tidak sanggup lagi menerima kabar buruk berikutnya. Tetapi setiap kali rasa takut itu datang, ada satu hal yang selalu kucari yakni Doa

Ketika Aku Tidak Tahu Harus Berbuat Apa, Aku Hanya Berdoa
Ada banyak keadaan yang tidak bisa kuselesaikan dengan kekuatanku sendiri. Aku tidak bisa mengatur bagaimana sebuah tindakan medis akan berlangsung. Aku tidak bisa menentukan bagaimana tubuh seseorang merespons pengobatan. Aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Aku juga tidak bisa memastikan bagaimana hari esok akan berjalan. Pada titik itulah aku belajar bahwa ada batas bagi kemampuan manusia. Dan ketika sampai pada batas itu, aku memilih untuk berserah kepada Tuhan. Bukan karena aku menyerah terhadap kehidupan. Justru karena aku ingin tetap memiliki kekuatan untuk menjalaninya. Aku berdoa. Aku hanya duduk diam, menundukkan kepala, menarik napas, Lalu dalam hati berkata, “Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku serahkan semuanya kepada-Mu.”

Aku tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Doa membuatku memiliki tempat untuk meletakkan segala sesuatu yang terlalu berat untuk kupikul sendiri. Ketika pikiranku tidak mampu menemukan jalan keluar, aku menyerahkannya kepada Tuhan. Ketika aku tidak mampu mengendalikan keadaan, aku belajar menerima bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kuasaku. Dan ketika aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, aku belajar mempercayakan esok kepada-Nya.

Ada Hari Ketika Aku Hanya Mampu Bertahan
Aku tidak ingin mengatakan bahwa sepanjang perjalanan ini aku selalu kuat. Tidak. Ada hari ketika aku hanya mampu bertahan sampai hari itu berakhir. Ada malam ketika aku hanya ingin memejamkan mata dan berhenti memikirkan segala kemungkinan. Ada pagi ketika aku bangun dengan perasaan berat, tetapi tetap memulai hari karena ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Mungkin itulah bentuk kekuatan yang sebenarnya. Bukan selalu berdiri dengan gagah. Kadang kekuatan hanya berarti bangun lagi, melangkah lagi, berdoa lagi dan mencoba lagi. Dan mempercayai bahwa satu hari yang berat tidak berarti seluruh kehidupan akan selalu berat.

Kini aku mulai memahami sesuatu. Aku mungkin tidak bisa meminta agar hidup tidak pernah menghadirkan badai. Aku tidak bisa meminta agar keluargaku selalu terbebas dari sakit. Aku tidak bisa memastikan bahwa tidak akan ada lagi kabar yang membuatku terkejut. Tetapi aku bisa meminta kepada Tuhan agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apa pun yang datang. Aku bisa meminta hati yang lebih lapang. Pikiran yang lebih tenang. Kesabaran yang lebih panjang. Dan keyakinan bahwa setiap langkah tetap berada dalam tuntunan-Nya. Karena mungkin yang perlu kuubah bukan selalu keadaan di luar diriku. Kadang, Tuhan sedang mengajarkanku menguatkan sesuatu di dalam diriku.



MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:


Rabu, 09 September 2026

Aku Kembali Terdiam Ketika Badai Kembali Mengetuk Pintu

 Aku Kembali Terdiam Ketika Badai Kembali Mengetuk Pintu 




Oh Tuhan, mengapa datang lagi
Kupikir hadiah yang dianugerahkan setelah apa yang telah aku lewati hanyalah merupakan jalan untuk bernapas sedikit lega. Ternyata, hidup kembali mengetuk pintu dengan kabar yang tidak pernah kami tunggu. Baru beberapa hari kami mulai menata kembali kehidupan setelah operasi, musibah itu datang lagi. Ya, suamiku kecelakaan. Seketika tubuhku terasa kaku. Aku tercengang seolah pikiranku berhenti bekerja untuk beberapa saat.“Oh, Tuhan kok terjadi lagi...” Itu yang pertama kali muncul di kepalaku.
Baru saja aku belajar menguatkan diri setelah melewati ruang operasi. Baru saja aku mulai percaya bahwa badai besar sudah berlalu. Mengapa sekarang harus ada kejadian lagi? Aku kembali merasakan ketakutan yang sebenarnya belum sempat hilang sepenuhnya.Ketakutan melihatnya kembali berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ketakutan harus kembali berhadapan dengan rumah sakit, tindakan medis, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Aku bahkan sempat merasa seperti sedang berdiri di tempat yang sama. Padahal baru saja aku keluar dari sana.

Aku Merasa Syok lagi
Aku syok bukan hanya karena kecelakaannya, tetapi karena aku merasa sangat lelah. Lelah secara fisik. Lelah secara pikiran. Lelah karena setiap kali mulai merasa sedikit tenang, selalu ada sesuatu yang kembali membuat jantungku berdegup lebih cepat. Ada bagian dalam diriku yang ingin berkata, “Aku sudah cukup kuat. Tolong jangan beri aku ketakutan lagi.” Tetapi, hidup tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap menerima sebuah ujian. Ia hanya datang. Dan ketika itu terjadi, aku kembali duduk dalam diam, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku memandang suamiku. Orang yang beberapa hari sebelumnya baru saja berjuang melewati operasi besar. Orang yang baru saja mulai belajar memulihkan tubuhnya. Dan sekarang, sebuah kecelakaan kembali membuatku harus menahan napas. Saat itu, pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Mengapa harus lagi? Mengapa ketika baru saja mulai pulih, harus datang musibah lain? Mengapa rasanya ujian datang begitu berdekatan? Aku tidak tahu jawabannya.

Dan kali ini aku tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua ini adalah takdir buruk. Aku hanya seorang manusia yang sedang takut. Seorang istri yang kembali melihat orang yang dicintainya berada dalam keadaan yang membuat hati tidak tenang. Sehingga, wajar jika aku bertanya. Wajar jika aku menangis. Wajar jika aku merasa lelah. Wajar jika untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Ada rasa takut yang ternyata belum benar-benar sembuh. Aku baru menyadari bahwa setelah melewati masa kritis, bukan berarti ketakutan langsung hilang. Kadang tubuh kita sudah berada di rumah. Tetapi, pikiran masih tertinggal di ruang operasi. Kadang seseorang sudah membuka mata dan berbicara kepada kita. Tetapi hati masih menyimpan bayangan tentang kemungkinan terburuk yang pernah kita takutkan. Dan ketika kecelakaan itu terjadi, semua rasa takut itu seperti kembali dibangunkan.Aku kembali teringat pada hari ketika pintu ruang operasi tertutup. Kembali teringat pada saat aku hanya bisa duduk dan berdoa.

Aku kembali belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah satu menit berikutnya. Kemarin kami sedang memikirkan makanan apa yang baik untuk pemulihan. Hari ini kami kembali dihadapkan pada kecemasan. Kemarin aku mulai berani membayangkan suamiku kembali beraktivitas. Hari ini aku kembali takut semuanya harus dimulai dari awal. Begitulah hidup. Aku hanya bisa, “Tuhan, lindungi dia. Berikan kami kekuatan untuk melewati ini. Jangan biarkan rasa takut membuat kami kehilangan harapan.”



MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:



Selasa, 08 September 2026

Badai Telah Lewat, Tetapi Hari-Hari Pemulihan Baru Saja Dimulai

 Badai Telah Lewat, Tetapi Hari-Hari Pemulihan Baru Saja Dimulai




Harus memulai lagi
Badai memang telah lewat, tetapi setelah badai, masih ada rumah yang harus dirapikan. Masih ada luka yang harus dipulihkan. Kami seperti sedang membuka halaman baru. Bukan kembali ke halaman sebelumnya. Tetapi, benar-benar memulai lagi. Hal-hal yang dahulu terasa sederhana kini harus diperhatikan dengan lebih sungguh-sungguh. Kesehatan tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Makanan harus lebih terjaga. Waktu istirahat harus diperhatikan. Aktivitas harus disesuaikan. Setiap perubahan kondisi harus diamati. Kontrol harus dilakukan secara rutin. Dan semua itu membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit. 

Dari Istri Menjadi Perawat
Setelah semua yang terjadi, aku harus mengenalnya dalam peran yang berbeda. Aku menjadi orang yang lebih sering memperhatikan keadaannya. Aku ada untuk memastikan ia beristirahat, mengingatkannya pada hal-hal yang harus dilakukan sesuai arahan dokter. Aku juga harus menemaninya menjalani kontrol. Aku harus mengamati perubahan kecil yang mungkin sebelumnya tidak pernah kupedulikan.Tanpa kusadari, aku telah mengambil peran sebagai perawat bagi suamiku sendiri. Itu bukan karena aku memiliki keahlian medis, bukan pula karena aku tahu semuanya. Aku hanya seorang istri yang sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Dan dalam banyak hal, aku harus belajar bertanya dan memburu informasi. 

Aku Juga Harus Belajar Menjadi “Ahli Gizi” di Rumah
Hal yang paling banyak berubah adalah makanan. Sekarang aku memandang makanan dengan cara yang berbeda. Aku mulai memahami bahwa apa yang masuk ke tubuhnya harus lebih diperhatikan. Aku mulai menyusun makanan dengan lebih hati-hati berdasarkan anjuran yang kami terima. Aku membaca kembali catatan. Aku bertanya ketika tidak yakin dan memastikan pola makan yang dijalani sesuai dengan kebutuhan pemulihannya dan arahan tenaga medis. Aku tidak benar-benar menjadi ahli gizi. Tetapi di rumah, aku merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu menjaga apa yang bisa kujaga. Dapur yang dulu hanya tempat menyiapkan makanan, kini terasa seperti bagian dari perjalanan pemulihan suamiku. Aku memasak sambil berpikir. Semoga makanan ini membantu tubuhnya menjadi lebih kuat.” 

Kontrol yang Mengajarkan Kami Tentang Kesabaran
Setelah operasi, kontrol bukan lagi sesuatu yang bisa ditunda-tunda. Ada jadwal yang harus diperhatikan. Ada perkembangan yang harus dipantau. Ada pertanyaan yang harus disiapkan. Ada hasil pemeriksaan yang harus dipahami. Aku mulai terbiasa dengan perjalanan menuju tempat kontrol. Di sana, Aku harus menunggu giliran, mendengarkan penjelasan dokter, mencatat hal-hal penting. Dan, kemudian pulang dengan membawa harapan sekaligus tanggung jawab baru.
Sekecil apapun kemajuan dan perubahannya benar-benar aku nantikan. Satu aktivitas yang hari ini bisa dilakukan lebih baik daripada kemarin. Satu hari yang dilewati tanpa masalah berarti. Satu hasil kontrol yang membuat kami sedikit lebih lega. Satu senyum dari suamiku. Satu percakapan sederhana. Satu pagi ketika aku melihatnya duduk dan berkata, Aku sudah merasa lebih baik.” Hal-hal kecil itu kini menjadi sangat berarti. Aku belajar untuk tidak lagi menuntut kehidupan agar segera kembali seperti semula. Aku belajar menghargai setiap perkembangan. Karena setelah hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga, hal-hal sederhana pun terasa seperti hadiah.

Badai Memang Telah Lewat
Aku pernah berdiri di depan ruang operasi dengan tubuh yang gemetar, membayangkan berbagai kemungkinan terburuk. Hari itu terasa seperti dunia sedang berhenti. Kini aku melihat suamiku ada di hadapanku. Masih dalam proses pemulihan. Masih membutuhkan perhatian. Masih harus belajar kembali menjaga tubuhnya. Tetapi ia ada. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah membawa kami melewati satu badai besar. Terima kasih karena doa-doa yang kupanjatkan dalam ketakutan telah diberi jawaban. Dan terima kasih karena hari ini aku masih diberi kesempatan untuk merawat orang yang kucintai. Kini aku tidak meminta agar perjalanan ini selalu mudah. Aku hanya meminta agar kami diberi kekuatan untuk menjalaninya. Karena aku tahu, setelah badai reda, kehidupan tidak langsung kembali tenang. Badai telah lewat. Tetapi hari-hari pemulihan baru saja dimulai. Dan kali ini, kami akan menjalaninya pelan-pelan, bersama-sama.



MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
https://wahyusuprabawathienglish.blogspot.com/2026/09/badai-telah-lewat-tetapi-hari-hari.html

Senin, 07 September 2026

Aku Bersyukur Ia Kembali, Tetapi Masih Harus Belajar Pulih

 Aku Bersyukur Ia Kembali, Tetapi Kami Masih Harus Belajar Pulih




Yang kulakukan hanya berucap "Terima Kasih, Tuhan"
Setelah melewati waktu yang begitu panjang, setelah menunggu di depan ruang operasi dengan hati yang gemetar, setelah membayangkan begitu banyak kemungkinan buruk, akhirnya aku melihatnya kembali membuka mata. Saat itu aku tahu, ada sesuatu yang begitu besar sedang terjadi di hadapanku. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan hanya dengan kata-kata. Aku hanya bisa menundukkan kepala dan berkata dalam hati,Terima kasih, Tuhan.” Dan kepada para leluhur yang selama ini menjadi bagian dari doa-doaku, aku juga mengucapkan syukur.Bagiku, itu adalah sebuah anugerah. Sebuah jawaban akan permintaanku yang murni dan tulus. Sebuah keajaiban yang membuat hatiku kembali memiliki tempat untuk berharap.

Setelah masa kritis yang mendebarkan terlewati, ternyata masih ada ketakutan mengintai. Ketika satu ketakutan selesai, kehidupan tidak serta-merta menjadi tenang. Aku harus memantau kondisinya. Aku harus memperhatikan setiap perubahan kecil. Aku harus lihai memburu informasi dokter dan harus mendengarkan baik-baik penjelasan dokter. Aku mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya belum sempat kupikirkan. Tentang masa pemulihannya, tentang apa yang harus dipersiapkan ketika ia nanti kembali menjalani kehidupan di rumah, tentang bagaimana aku harus mendampinginya, tentang hal-hal kecil yang mungkin harus kami ubah dalam keseharian. Aku mulai menyusun semuanya di dalam kepala. Seolah-olah dengan mempersiapkan segala sesuatu, aku bisa memastikan bahwa ia akan baik-baik saja. Padahal, ada satu hal yang perlahan kulupakan, Diriku sendiri.

Aku Lupa Bahwa Tubuhku Juga Sedang Berjuang
Beberapa waktu sebelumnya, aku sendiri sedang menjalani pengobatan. Tubuhku sebenarnya belum sepenuhnya baik. Aku masih memiliki perjalanan kesehatan yang harus kujalani. Masih ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah. Masih ada keterbatasan yang harus kuakui. Tetapi, setelah melihat suamiku melewati masa kritis, tiba-tiba semua itu terasa seperti sesuatu yang bisa kutunda. Aku merasa kondisiku sendiri tidak sepenting kondisi suamiku. Maka aku kembali melakukan apa yang selama ini kulakukan. Menjadi kuat. Aku mengesampingkan rasa tidak nyaman, mengabaikan tubuh yang sesekali meminta istirahat, menyimpan kekhawatiran tentang kondisiku sendiri. Bukan karena aku tidak peduli pada diriku. Tetapi, karena saat itu pikiranku hanya tertuju pada satu hal: Aku harus memastikan ia baik-baik saja.

Aku harus sehat untuk menjaganya. Aku mulai menyadari sesuatu. Jika aku ingin mendampinginya dalam perjalanan pemulihan, aku juga harus menjaga diriku sendiri. Aku tidak bisa terus-menerus menganggap tubuhku tidak penting. Aku tidak bisa terus berkata bahwa aku baik-baik saja jika sebenarnya tubuhku juga membutuhkan perhatian. Sebab, bagaimana aku bisa menjadi tempatnya bersandar jika aku sendiri tidak memberikan kesempatan kepada tubuhku untuk beristirahat? Bagaimana aku bisa mendampinginya berjalan jika aku tidak menjaga kakiku sendiri tetap kuat? Dari situlah aku mulai memahami bahwa merawat diri bukan berarti egois. Menjaga kesehatan diri bukan berarti mengurangi perhatianku kepada suami. Justru sebaliknya. Aku ingin sehat karena aku ingin tetap ada di sampingnya. Aku ingin memiliki cukup tenaga untuk menemaninya. Aku ingin bisa mendengarkan keluhannya. Aku ingin bisa membantunya ketika ia membutuhkan. Aku ingin melihat sendiri setiap kemajuan kecil dalam pemulihannya.

Kami Sama-Sama Sedang Belajar Pulih
Mungkin inilah bagian kehidupan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kami berdua ternyata sedang berada dalam perjalanan pemulihan masing-masing. Ia sedang berusaha mengembalikan kekuatan tubuhnya. Aku sedang belajar memahami batas tubuhku sendiri. Ia membutuhkan waktu untuk kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Aku juga membutuhkan waktu untuk kembali menemukan keseimbanganku. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kami tidak harus selalu menjadi kuat dalam waktu yang bersamaan.

Kini ketika mengingat kembali hari-hari itu, aku tidak ingin hanya mengingat ketakutannya. ku ingin mengingat bagaimana Tuhan memberikan kami kesempatan untuk kembali berharap. Aku ingin mengingat bagaimana doa-doa yang kupanjatkan dengan hati gemetar akhirnya digantikan oleh ucapan syukur. Aku ingin mengingat bahwa setelah malam yang panjang, selalu ada pagi yang datang.



MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia: