Kamis, 22 Oktober 2026

LITERASI BALITAL II TA 2026/2027

 LITERASI BALITAL II TA 2026/2027



A. LITERASI BACA TULIS
Kamis, 22 Oktober 2026

Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini. Silakan dipilih dengan meng-CLICK judul teks kemudian tuliskan pendapat, analisis, interpretasi dan kesimpulan kalian terkait isu-isu tersebut. 

Rabu, 21 Oktober 2026

Debate Over Smartphones and Screen times

 


Debate Over Smartphones and Screen times

         In the modern era, smartphones have become an essential part of students' daily lives. From day to night, teenagers spend hours scrolling through social media and playing games While many people argue that technology offers great educational and entertainment benefits, others strongly believe that excessive screen time brings serious negative impacts on health and daily life.
         Those who support unrestricted screen time or regular smartphone use point out several advantages. First, smartphones provide quick access to endless information and learning resources, making it easier for students to finish school tasks. Second, gaming and online videos serve as effective entertainment to relieve stress after a long day at school. Moreover, digital platforms help teenagers stay connected with friends and build online communities instantly.
       On the other hand, a large number of people argue that too much screen time is harmful. Excessive hours spent on devices often lead to a lack of sleep and physical exhaustion. Students who stay up late playing games frequently feel tired, lose their focus in class, and see their grades drop. Furthermore, staring at a screen for too long causes eye strain and weakens overall health. It can also make teenagers feel isolated or lonely because real-life social interactions are replaced by virtual gaming.
     In conclusion, smartphones and screen time have both positive and negative sides. Rather than completely banning devices, students and parents need to find a healthy balance. By reducing screen time, going outside, talking to friends in person, and using time with care, teenagers can enjoy technology safely while maintaining their health, focus, and academic success. Rather than completely banning devices, students and parents need to find a healthy balance. Therefore, it is strongly recommended that families establish clear daily screen-time limits and create phone-free zones, such as bedrooms at night.



Selasa, 15 September 2026

Aku Merdeka Setelah Berdamai dengan Luka

 Aku Merdeka Setelah Berdamai dengan Luka



Pada hari pertama menulis rangkaian cerita ini, aku mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada diriku sendiri:
“Apa arti kemerdekaan bagiku?”

Saat itu, aku berpikir tentang kemerdekaan sebagai sesuatu yang selama ini kita kenal, tentang perjuangan, tentang terbebas dari penjajahan, tentang para pahlawan yang mengorbankan hidup agar kita dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Namun, tiga puluh hari kemudian, setelah menuliskan perjalanan hidupku sedikit demi sedikit, aku menyadari bahwa ternyata ada kemerdekaan lain yang jauh lebih dekat yakni memerdekaan yang ternyata sedang kuperjuangkan di dalam diriku sendiri. Dulu aku mengira merdeka berarti hidup tanpa masalah. Sekarang aku sadar bahwa merdeka itu sebenarnya bebas dan berhasil dari rasa takut, sedih dari sekian banyak penderitaan. Hidup tidak pernah benar-benar menjanjikan hari-hari yang selalu mudah.

Aku pernah menyaksikan kehidupan membawaku dari satu ujian ke ujian berikutnya. Ketika satu badai terasa mulai berlalu, badai lain seolah menunggu antrean untuk datang padaku. Bahkan ketika orang lain mungkin melihatku tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalankan tanggung jawab, ada bagian dari diriku yang sebenarnya sedang belajar bertahan. Aku pernah bertanya dalam diam, “Sampai kapan aku harus sekuat ini?” 

Dulu, aku ingin hidup yang baik-baik saja
Aku ingin keluarga sehat. Aku ingin orang-orang yang kucintai selalu berada di dekatku. Aku ingin rencana-rencana berjalan sebagaimana yang kubayangkan. Aku ingin setiap doa menemukan jawabannya dalam bentuk yang kuharapkan. Tetapi, kehidupan tidak selalu bekerja seperti itu. Ada hal-hal yang bisa kuusahakan. Ada yang hanya bisa kutunggu. Ada yang harus kuterima. Dan ada pula yang pada akhirnya harus kuserahkan kepada Tuhan. Dari sana aku mulai memahami bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk meminta kehidupan agar sesuai dengan keinginanku. Sementara, kehidupan sedang mengajarkanku bagaimana menerima apa yang tidak dapat aku ubah. Itu bukan menyerah., bukan juga berhenti berharap, tetapi berdamai.

Berdamai bukan berarti melupakan
Aku tidak ingin melupakan semua yang telah aku alami. Aku tidak ingin menghapus kehilangan dari ingatanku. Aku tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Itu semua karena setiap pengalaman telah meninggalkan sesuatu di dalam diriku. Ada luka yang mengajarkanku menghargai kehadiran. Ada sakit yang mengajarkanku lebih peduli pada tubuh sendiri. Ada kehilangan yang mengajarkanku bahwa waktu bersama orang-orang tercinta adalah yang paling berharga.  Ada ketakutan yang mengajarkanku untuk lebih banyak berdoa. Ada hari-hari berat yang membuatku mengenal diriku sendiri lebih dalam. Dulu aku mungkin bertanya, “Mengapa semua ini terjadi kepadaku?” Sekarang pertanyaanku perlahan berubah menjadi, “Apa yang bisa kupelajari dari semua yang telah aku alami?”

Hari ini, aku tidak lagi ingin hidup di bawah bayang-bayang luka.
Aku ingin mengingatnya tanpa harus terus tinggal di dalamnya. Aku ingin mengenang tanpa kembali tenggelam. Aku ingin menangis jika memang perlu, tetapi setelah itu kembali mengusap air mata dan melanjutkan langkah. Aku ingin tetap mempunyai harapan, meskipun aku tahu harapan tidak selalu berakhir seperti yang kubayangkan. Aku ingin mencintai kehidupan, meskipun aku tahu kehidupan juga pernah mengambil sesuatu yang sangat kucintai. Dan mungkin, di situlah kemerdekaanku dimulai. Merdeka berarti ketika aku berhenti membiarkan masa lalu menentukan bagaimana aku harus menjalani hari ini. 

Tiga puluh hari menulis kisahku ternyata bukan hanya sebuah perjalanan untuk menyelesaikan sebuah lomba. Aku seperti membuka kembali halaman-halaman hidup yang selama ini kusimpan rapi. Dari hari pertama ketika aku bertanya tentang arti kemerdekaan, hingga hari terakhir ini, aku akhirnya menemukan jawabanku sendiri. 
"Kemerdekaan bukan ketika hidup terbebas dari masalah. Kemerdekaan adalah ketika aku memiliki keberanian untuk tetap melangkah menjalani kehidupan meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginanku. Kemerdekaan adalah ketika aku tidak lagi menuntut diriku untuk selalu baik-baik saja. Kemerdekaan adalah ketika aku bisa menerima bahwa aku pernah terluka, tanpa menjadikan luka itu sebagai alasan untuk berhenti hidup.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku ingin memeluk semua bagian dari diriku, yang pernah takut, pernah menangis, pernah kehilangan, pernah lelah, pernah jatuh, dan pernah merasa tidak sanggup. Bukan untuk mengasihani diri sendiri. Tetapi, untuk mengucapkan terima kasih karena semua bagian itulah yang membawaku sampai di sini. Kini aku mengerti. Kemerdekaan bukan tentang tidak memiliki luka. Kemerdekaan adalah ketika luka masih menjadi bagian dari cerita, tetapi tidak lagi memegang kendali atas hidup kita.

Dan setelah perjalanan panjang itu, akhirnya aku bisa mengatakan kepada diriku sendiri:
Aku pernah terluka.
Aku pernah kehilangan.
Aku pernah takut.
Hingga air mata ini seolah seperti sungai yang mulai mengering
Tetapi, aku masih di sini.
Aku masih bisa menghirup udara
Masih mencintai.
Masih berharap.
Masih belajar.
Dan masih memilih untuk melangkah.
Inilah kemerdekaanku. Bukan karena hidup telah menjadi sempurna. Tetapi, karena aku telah berdamai dengan luka, dan memilih untuk kembali memiliki hidupku sendiri. 



MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia: