Minggu, 28 Februari 2021

Semangat Menulis dari Omjay

 

Puji syukur saya panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat-Nya, saya berada dalam keadaan sehat walafiat dan berhasil menuntaskan tantangan menulis selama 28 hari dalam ajang Lomba Blog PGRI. Ini adalah tulisan ke-28 yang sekaligus sebagai tulisan penutup dalam lomba ini.

Saya adalah pendatang baru di dunia blog dan bergabung dengan komunitas guru blogger setelah mengikuti lomba blog PGRI dalam menyambut hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa tahun 2020 lalu. Motivasi saya untuk merambah dunia blogging yakni ingin menguatkan slogan I Want To Be More Than A Teacher yang artinya saya ingin keluar dari rutinitas seorang guru dengan tidak melupakan beban dan tanggung jawab. Banyak harapan digantungkan pada slogan tersebut dan yang paling utama adalah saya ingin menampilkan sebuah prestasi melalui menulis. Sangat ingin rasanya mempersembahkan sesuatu melalui sebuah tulisan yang bisa dibagikan dan dinikmati oleh siapapun utamanya di komunitas saya sebagai seorang pendidik. Maka dari itu, saya mencoba memberanikan diri dengan segala tekad dan upaya untuk terjun ke dunia kepenulisan.

Seperti apa yang telah saya tulis pada artikel sebelumnya bahwa awal melejitnya kemauan saya untuk menulis yaitu ketika apa yang saya alami dan rasakan dituangkan dalam untaian kata yang indah dan rapi dalam bentuk puisi. Kumpulan puisi tersebut telah berhasil saya terbitkan menjadi sebuah buku sebagai rekam jejak tertulis pengalaman hidup saya. Dan itu tidak terlepas dari semangat dan dukungan kolega saya di sekolah untuk mulai menulis dan berkarya. Terlebih lagi, semenjak terjadi pandemi yang melumpuhkan sistem pendidikan dan memaksa dilaksanakannnya pembelajaran daring, saya mulai bereksplorasi di dunia maya khususnya mencari informasi-informasi terkait pengembanagan kompetensi menulis. Dan alhasil bisa menemukan sebuah pelatihan untuk membuat blog dan ketika selesai pelatihan, saya langsung ikutkan dalam ajang lomba blog serangkaian peringatan hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa 2020 lalu. Melalui lomba tersebut, saya mengenal sosok guru blogger ternama yang bernama Wijaya Kusumah, S.Pd.,M.Pd.

Wijaya Kusumah, S.Pd.,M.Pd yang sangat akrab dikenal Omjay adalah seorang guru TIK di SMP Labschool Jakarta. Diluar profesinya sebagai guru, beliau memiliki multi profesi seperti diantaranya seorang motivator, trainer, guru blogger Indonesia, founder KSGN, founder kelas menulis PGRI, pembicara seminar, praktisi ICT dan yang tidak kalah keren adalah seorang penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku. Beliau memiliki segudang prestasi yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan telah melahirkan puluhan karya dalam bentuk buku. Nah, pada tulisan pamungkas ini, saya ingin membahas sekilas tentang beliau karena berkat inspirasi dan motivasi beliau, saya sudah berada pada tahap ini yakni mulai berkomitmen dan konsisten dalam menulis. Saya akan mulai mengikuti ajakan beliau untuk menulis setiap hari dan membuktikan apa yang terjadi.

Dalam pertemuan pertama kelas menulis beliau, saya meringkas isi paparan beliau dan akan menjadi pedoman bagi saya dalam memulai kegiatan menulis. Belaiu memaparkan ada dua kunci utama yang menjadi  pilar dalam menulis yakni rajin membaca dan langsung menulis. Menurut beliau tiada penulis yang tak rajin membaca. Itu merupakan proses dan ketika ide muncul menulislah langsung tanpa mengedit terlebih dahulu. Editlah tulisan setelah ide yang ada dalam otak sudah tersalurkan dengan baik melalui menulis. Beliau meyakinkan para penulis pemula untuk tidak ragu dan takut salah. Teruslah menulis, ungkapnya, karena otak, mata, dan bibir akan terlatih agar bersinergi dengan kedua tangan kita. Beliau mengungkapkan jika otak, mata, bibir, dan tangan sudah menjadi kesatuan, tulisan yang berkualitas akan tercipta sehingga bisa menarik minat pembaca.

Omjay mengajak kita untuk membudayakan kebiasaan menulis setiap hari dalam blog kita. Komitmen dan minat yang tinggi dalam menulis menjadi modal dasar untuk mewujudkan semua hal tersebut. Beliau menambahkan tulisan yang baik tidak serta merta sekali jadi, tetapi memerlukan proses editing. Maka dari itu, seorang penulis juga harus menguasai kemampuan editing jika tulisannya mau dibaca orang lain. Beliau menyarankan tulislah apa saja yang menarik hati dan tulislah apa saja yang kita kuasai. Jangan menuliskan apa yang tidak kita kuasai karena akan terasa hambar.  Beliau mengingatkan agar menjadi penulis terkenal, hapus kata MALAS untuk mulai membiasakan membaca dan menulis dalam diri kita. Teruslah berlatih menulis sehingga memiliki jam terbang yang tinggi dalam menulis.Menulislah setiap hari dengan hati. Bila hati bertemu dengan hati, maka hati penulis dan pembaca akan menyatu. Intinya, kita harus punya komitmen yang tinggi untuk menulis setiap hari. Kalau tanpa niat dan komitmen yang kuat, niscaya impian untuk menjadi penulis akan sirna.

Akhir kata saya ucapkan, terima kasih buat Omjay yang telah berhasil menjadi inspirator dan motivator serta pegiat literasi untuk seluruh guru Indonesia yang belajar menulis temasuk saya. Semoga Omjay selalu dalam keadaan sehat untuk selalu bisa berkarya dan menebarkan semangat literasi kepada seluruh insan.

 

Penulis : Ni Made Wahyu Supraba Wathi, guru bahasa Inggris, SMA Negeri 1 Kubu, Karangasem, Bali.

 

Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi

 Buku digital dari Omjay, seorang Guru Blogger Indonesia. 

Sabtu, 27 Februari 2021

Merdeka Belajar di Tengah Pandemi Covid-19

 

Konsep merdeka belajar yang diusung Nadiem Makarim mulai digaungkan semenjak beliau menjabat sebagai Mendikbud. Konsep ini ini diilhami oleh filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara menuntun dan mentradisikan semangat dan cara mendidik anak untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya, dan merdeka raga/tenaganya. Filosopi inilah yang menjadi esensi konsep Merdeka Belajar yang sedang diimplementasikan Kemendikbud.

Skenario Merdeka Belajar ini sesuai dengan arahan bapak Presiden Joko Widodo untuk menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih maju dengan mengedepankan iklim inovasi. Iklim pendidikan seperti itu diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Maju yang menjadi visi Presiden. Melalui penguatan Merdeka Belajar, diharapkan tercipta transformasi dan reformasi pendidikan sehingga terbentuk generasi emas milineal yang kritis, kreatif, inovatif, mandiri dan berkarakter serta berkepribadian yang cerdas.

Merdeka belajar mengandung arti guru diberi kebebasan untuk merancang pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Ini berarti, guru bukan lagi menjadi  sumber belajar tunggal tapi memberikan peluang kepada muridnya untuk berinovasi, untuk belajar mandiri dan kreatif.  Kegiatan pembelajaran lebih menfokuskan pada ketrampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan dan memecahan masalah. Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran ditekankan pada proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata.

Nah, bagaimana dengan implementasi konsep Merdeka Belajar pada saat sekarang yang dilanda pandemi Covid-19? Justru sekaranglah, semangat filosofi merdeka belajar diuji coba. Hal tersebut disebabakan karena konsep merdeka belajar berkenaan dengan proses pembelajaran yang berlangsung dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Proses pembelajaran walaupun terlaksana secara daring melalui PJJ menjadi lebih kolaboratif dan holistik. Guru juga diberikan  kemudahan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang lebih bermakna, berfolus pada pengalaman hidup dan memperhatikan kebutuhan peserta didik di masa pandemi.

Pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan di masa pandemi ini yang terlaksana melalui PJJ memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan tersebut akan menjadi penentu kesuksesan dalam pembelajaran PJJ ini. Pihak-pihak yang terkait dalam mendukung pembelajaran dengan sistem tersebut meliputi orangtua, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, komite sekolah, dan lainnya. Peran dan tanggung jawab dari berbagai pihak akan berkontribusi pada keberhasilan pelaksanaan PJJ ini.

 

Referensi:

Sulistyawati, Rini. 2020. Menguji Konsep Merdeka Belajar di Masa Pandemi Covid-19. Diakses pada tanggal 26 Pebruari 2021 pada alamat https://www.harianbhirawa.co.id/menguji-konsep-merdeka-belajar-di-masa-pandemi-covid-19/

 

Penulis : Ni Made Wahyu Supraba Wathi, guru bahasa Inggris SMA Negeri 1 Kubu, Karangasem, Bali.

Jumat, 26 Februari 2021

Trik Ampuh Menjadi Guru Idola Kekinian


 

Ini adalah tulisan ke-26 dalam ajang Lomba Blog PGRI yang saya ikuti. Kali ini tema tulisan yang saya angkat seputar pengembangan diri seorang guru yang berujung pada peningkatan profesionalisme. Nuansa tulisan ini cukup berbeda dari sebelumnya karena tulisan ini merupakan sajian resume dari sebuah buku yang berjudul KIAT MENJADI GURU IDOLA SISWA ZAMAN NOW karya Made Agung Ari Yasa. Beliau adalah kolega saya di sekolah yang telah menjadi inspirator dan motivator saya dalam dunia kepenulisan. Pemikiran-pemikiran beliau yang inspiratif dituangkan dalam beberapa buku yang telah beliau terbitkan.

Buku tersebut diterbitkan tahun 2019 dan memuat 15 konten judul yang penuh dengan pandangan dan pengalaman beliau dalam karirnya sebagai seorang guru/pendidik. Dalam buku tersebut disajikan berbagai kiat yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkembangkan kemampuannya guna memenuhi tantangan pendidikan di jaman sekarang. Kiat guru untuk mampu mengelola diri sebelum membimbing siswa serta kewajiban guru yang tidak hanya sekedar mengajar akan terkupas secara tajam dalam buku ini. Ini bisa menjadi sumber referensi untuk mendidik dan mengajar siswa jaman sekarang yang pada akhirnya bisa menjadi idola bagi para siswa.

Jika ditelusuri lebih mendalam, banyak tuntutaan yang harus dipenuhi jika menyandang predikat sebagai guru profesional. Guru yang profesional harus selalu nemiliki kemauan dan komitmen yang kuat  untuk selalu belajar dan mengembangkan dirinya guna memenuhi tuntutan kekinian terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat. Guru harus siap menjadi agen perubahan yang memiliki mandat utama untuk mengubah mental generasi bangsa. Hal ini karena sesuai dengan arah kebijakan pemerintah untuk mengadakan revolusi mental agar tercapai generasi mendatang yang memiliki mentalitas yang kuat. Ini adalah salah satu trik atau strategi dimana guru harus mampu dan termotivasi untuk bermetamorfosis. Bermetamorfosis berarti guru melakukan perubahan dalam hal pengembangan diri sehingga berhak menyandang guru yang profesioanl.

Selanjutnya, untuk bisa menjadi sosok guru yang patut digugu dan ditiru, guru harus mampu memberikan contoh atau menjadi sosok panutan. Setiap tindakan guru harus mampu memberikan kesan sebagai tindakan yang baik yang patut ditiru. Terlarang bagi guru untuk menunjukkan tindakan yang tidak baik di hadapan siswa karena akan meracuni pemahaman tentang nilai moral yang baik yang patut dimiliki siswa. Intinya guru harus mampu menunjukkan karakter yang baik agar pendidikan karakter bisa tertanam pada siswa. Dengan demikian, akan terbentuk siswa yang berkarakter yang mampu mengolah pengetahuan moral dan perasaan moral yang dimiliki untuk menentukan tindakan moral yang benar. Guru juga hendaknya mampu menekan egoisme diri. Artinya jangan hanya menyalahkan siswa saat mereka tidak atau belum mengerti tentang pelajaran yang kita jelaskan. Guru hendaknya memahami kebutuhan dasar siswa yang sesuai dengan keinginan mereka saat belajar. Dengan kata lain, guru harus memahami gaya belajar siswa, selanjutnya merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan mengedepankan penggunaan IT.

Guru juga harus benar-benar mampu memahami dan memainkan peran pelayanan terhadap siswa. Pelayanan yang dimaksud bukan "Pelanggan adalah Raja, tetapi melakukan pelayanan dalam hal mengajar dan mendidik. Guru hendaknya selalu berusaha membuat siswa merasa senang dan seolah-olah tidak sedang belajar di sekolah, tetapi belajat layaknya dengan keluarga sendiri. Hal ini juga berhubungan dengan pemahaman guru terhadap gaya belajar masing-masing siswa.

Trik selanjutnya agar menjadi guru idola kekinian yaitu jangan pernah berhenti belajar. Guru harus menjadi sosok pembelajar yang selalu ingin mempelajari sesuatu yang baru untuk mendukung profesionalismenya. Guru pada era ini, dituntut untuk terus melakukan pembelajaran diri. Guru harus belajar, belajar dan belajar. Guru tidak akan bisa menghindari perubahan dan tuntutan perkembanagn ilmu pengetahuan. Itikad dan komitmen guru untuk terus belajar harus ditumbuhkan. Inilah kunci untuk menyiapkan generasi emas bangsa yang siap mengikuti tantangan jaman.

Agar ingatan siswa terus melekat tentang pemahaman suatu materi, guru harus bisa mengajak siswa belajar lewat pengalaman. Pembelajaran yang kreatif dan inovatif pada dasarnya bersumber dari bagaimana siswa mampu mengalami dan merasakan sendiri semua sensasi selama proses pembelajaran. Dalam hal ini guru perlu menggunakan model-model pembelajaran seperti Inquiry, Discovery, Project-Based Learning dan Problem solving. Selain itu, guru juga harus mampu berkomunikasi secara efektif. Ketika guru ingin membangun komunikasi dengan siswanya, maka apa yang dibicarakan guru harus dapat menimbulkan perasaan terkesan pada diri siswa. Untuk mampu memunculkan topik yang menarik bagi siswa dan memposisikan diri untuk menjadi pendengar yang baik, maka guru akan bisa berada di antara siswa. Guru inilah yang dianggap oleh siswanya sebagai guru yang bisa menerima segala ungkapan isi hati siswanya.

Guru juga harus bisa memberikan masukan/kritikan dengan tetap memperhatikan emosi siswanya. Misalnya, jangan pernah mengkritik siswa secara langsung di hadapan umum agar harga diri siswa terjaga. Kemudian, awali kritikan dengan kata atau pujian yang baik. Guru tidak boleh hanya memberikan koreksi tanpa dibarengi pemberian jawaban atau solusi. Selain memeberikan kritikan, guru juga perlu memberikan penghargaan kepada siswa. Guru harus mulai membiasakan diri untuk bermurah hati memberikan pujian kepada siswanya. Selain memberikan pujian, guru harus mulai juga membiasakan diri untuk berterima kasih atas apa yang telah siswa lakukan. Selain itu, guru juga harus bisa menumbuhkan perasaan bahwa siswa itu penting.

Terakhir, guru harus mampu menyajikan pembelajaran berbasis TIK. Guru harus sudah mulai bertransformasi menjadi sosok guru yang mamapu menggunakan TIK untuk pembelajaran. Dengan keberanian guru untuk mencoba memasuki dunia siswa lewat pemanfaatan TIK di dalam proses pembelajaran, maka siswa akan menemukan manfaat lain dari kesehariannya dengan smartphone. Dengan demikian, siswa akan betah mengikuti pembelajaran di kelas.

 

Referensi: 

Yasa, Made Agung Ari. 2019. Kiat Menjadi Guru Idola Siswa Zaman Now. Bandung: Tata Akbar.

 

Penulis : Ni Made Wahyu Supraba Wathi, Guru Bahasa Inggris, SMAN 1 Kubu, Karangasem, Bali.

Kamis, 25 Februari 2021

Program Belajar Kemendikbud Tingkatkan Kompetensi Guru di Masa Pandemi

 

Program guru belajar adalah salah satu cara untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimiliki, mengevaluasi diri serta mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Pembelajaran pada Program Guru Belajar merupakan upaya mendorong perbaikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.Program guru belajar dari Kemendikbud di masa pandemi ini memang benar-benar berkualitas dan mampu membangkitkan semangat dan kompetensi saya sebagai guru yang mengajar di tengah pandemi. Tantangan dan tuntutan guru untuk mampu mendesain dan melaksanakan pembelajaran jarak jauh cukup berat. Maka dari itu Kemendikbud melalui  Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan meluncurkan  program guru belajar. Ada beberapa program belajar yang ditawarkan yaitu program belajar seri masa pandemi Covid-19, seri Asasmen Kompetensi Minimum (AKM) dan juga seri pendidikan keterampilan hidup. Di sini, saya sudah mengikuti dan menuntaskan dua program belajar yakni seri masa pandemi Covid-19 dan Asasmen kompetensi minimum.

  1. Program Belajar Seri PANDEMI COVID-19

Ini adalah Program pembelajaran yang dirancang untuk memfasilitasi semaksimal mungkin guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang sesuai dengan kondisi khusus yakni masa pandemi COVID-19. Program belajar ini dengan tetap memberikan pembekalan dasar yang bermakna bagi siswa untuk melakukan merdeka belajar. Adapun tujuan dari profgram ini yaitu:

  • Meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran jarak jauh berbasis beban kurikulum yang salah satu cara untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimiliki, mengevaluasi diri serta mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Pembelajaran pada Program Guru Belajar merupakan upaya mendorong perbaikan dalam meningkatkan mutu pembelajaran.disederhanakan.
  • Mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh yang melibatkan siswa.
  • Mengembangkan keterampilan guru dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh secara efektif.
  • Meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan asesmen pembelajaran jarak jauh yang berdampak pada kualitas pembelajaran.

Program belajar ini memiliki keistimewaan tersendiri yakni lebih fleksibel (waktu bisa diatur sesuai kesibukan masing-masing), lebih menantang (bisa memilih tantangan yang sesuai dengan kemampuan guru, apakah menyelesaikan Tahap 1, Tahap 2 atau hingga tuntas Tahap 3), lebih mudah (lebih mudah mempelajari konten pembelajaran yang telah dipecah menjadi unit belajar yang lebih kecil) dan lebih kolaboratif (bisa belajar bersama dengan rekan guru yang lain untuk menyelesaikan semua tahapan program). Ada empat tahapan dalam pelaksanaan program belajar ini yaitu :

1). Orientasi : Berisi orientasi program tentang latar belakang, tujuan umum, penyesuaian kebijakan, pengantar program, dan struktur Program Guru Belajar seri Masa Pandemi COVID-19.

2). Bimtek : Pembelajaran dengan konsep Pembelajaran Jarak Jauh pada Masa pandemi, Kurikulum Kondisi Khusus, Asesmen Diagnosis, Asesmen Diagnosis Berkala, Model Pembelajaran Jarak Jauh, Media, Teknologi dan Sumber Belajar.

3). Diklat : Pelatihan yang memberi kesempatan peserta mendapatkan inspirasi pembelajaran jarak jauh pembelajaran jarak jauh (PJJ), merancang dan menerapkan PJJ, mengunggah tulisan praktik baik PJJ, melakukan penilaian diri terhadap tulisan praktik baik PJJ.

4). Pengimbasan : Kegiatan ini  mengundang guru untuk menjadi bagian perubahan pendidikan dengan cara mempresentasikan program, mengajak dan mendampingi guru lain untuk mengikuti Program Guru Belajar seri Masa Pandemi COVID-19 melalui kelompok kerja guru seperti KKG/MGMP atau organisasi profesi guru.

 

2. Program Belajar Seri AKM

Ini merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk membantu para Guru/Kepala Sekolah/Pengawas SD, SMP, SMA/SMK, Guru/Kepala Sekolah SDLB, SMPLB, SMALB, dan PKBM sederajat dalam memahami tujuan, konsep dan bentuk pelaksanaan Asesmen Nasional, serta dapat menganalisis contoh asesmen literasi membaca dan numerasi pada Asesmen Kompetensi Minimum. Adapun tujuan dari program ini yaitu:

  • Memahami konsep Asesmen Nasional.
  • Memahami bentuk pelaksanaan Asesmen Nasional.
  • Menganalisis contoh asesmen literasi membaca pada Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Menganalisis contoh asesmen numerasi pada Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Membaca dan menindaklanjuti laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum.
  • Melakukan pengimbasan dengan mengajak rekan guru yang lain untuk mengikuti program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum.

Ada 2 tahap dalam pelaksanaan program belajar ini yaitu:

1). Bimtek. Berisi orientasi yang membekali peserta mengenai latar belakang, tujuan umum, kebijakan dan alur program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum. Pada tahap Bimtek, peserta akan mengikuti pembelajaran mengenai konsep Asesmen Nasional, konsep Asesmen Kompetensi Minimum, butir soal literasi membaca dan numerasi, serta membaca dan menindaklanjuti hasil Asesmen Kompetensi Minimum dalam kurun waktu selama 5 (lima) hari.

2). Pengimbasan. Peserta diharapkan dapat menjadi bagian perubahan pendidikan dengan cara mengajak dan mendampingi guru lain di satuan pendidikan peserta untuk mengikuti Program Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum. Peserta mendokumentasikan video pengimbasan dan mengunggah video tersebut pada kanal video berbagi (Youtube) dengan memasukkan link URL video tersebut sebagai syarat untuk mengunduh Piagam Penghargaan.

 

Referensi:

https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/

 

Penulis :Ni Made Wahyu Supraba Wathi, Guru Bahasa Inggris, SMAN 1 Kubu, Karangasem, Bali.

 

Rabu, 24 Februari 2021

Multi Peran Guru di Kala Pandemi

 

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama hampir setahun telah mengoyak segala sendi kehidupan. Salah satunya pendidikan. Peran guru di masa pandemi ini tentunya bertambah berat karena harus memutar otak agar pelaksanaan pembelajaran bisa berlangsung efektif. Satu hal yang paling utama bagi guru adalah menjaga dan memelihara motivasi dan suasana belajar siswa selama mereka belajar mandiri dari rumah. Ini menjadi tanggung jawab utama guru untuk merangsang keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran di tengah pandemi. Seperti yang penulis alami selama pelaksanaan PJJ, aneka inovasi dan kreativitas dengan memanfaatkan IT telah dilakukan dan berbagai variasi pembelajaran juga diterapkan. Akan tetapi, jika minim dukungan, motivasi dan bimbingan dari pendidik itu sendiri, pembelajaran yang efektif akan tidak tercapai secara optimal. Hal ini disebabkan siswa tidak terbiasa untuk menjadi pembelajar mandiri. Mereka masih perlu tuntunan dan bimbingan walaupun apa yang telah diberikan guru telah memiliki petunjuk yang jelas.

Dalam hal ini, guru memegang multi peran yakni sebagai pembelajar, motivator dan sekaligus konselor. Sebagai pembelajar tentunya sebagai pendidik dimasa pandemi harus punya komitmen yang tinggi untuk mempelajari ilmu-ilmu baru yang berbasis IT guna mendukung pelaksanaan PJJ, seperti dengan mengikuti berbagai seminar/pelatihan. Sebagai motivator, guru memiliki peran sentral untuk terus memacu semangat dan motivasi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Pemberian semangat dan motivasi selama melakukan pembelajaran jarak jauh akan meminimalisir tingkat kejenuhan siswa. Dan sebagai konselor, guru berperan membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya serta  membantu mereka memahami dan menyadari akan tanggung jawabnya sebagai seorang siswa. Ini berarti guru juga belajar berempati terhadap keadaan siswa, seperti misalnya siswa dengan keterbatasan ekonomi karena orang tuanya kehilangan mata pencaharian sejak Covid-19 melanda ataupun siswa yang bertempat tinggal yang jauh dari akses internet. Dari gambaran tersebut, guru/pendidik lebih dilatih untuk memahami kondisi dan karakteristik peserta didiknya sehingga ini akan menjadi acuan dalam pemilihan metode dan media pembelajaran selama PJJ berlangsung.

 

Penulis : Ni Made Wahyu Supraba Wathi, Guru bahasa Inggris, SMA Negeri 1 Kubu, Karangasem, Bali.

Selasa, 23 Februari 2021

Tantangan dan Hikmah Seorang Pendidik di Balik Pandemi (Bagian 2)

 

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang tantangan yang dihadapi seorang pendidik dan hikmah yang diperoleh di tengah pandemi.

Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 telah mengagetkan guru di seluruh pelosok tanah air ini. Bagaimana tidak, pola pembelajaran berubah secara radikal dan memaksa guru untuk ‘melek’ IT. Sebelum pandemi melanda, sebagian besar guru masih mengesampingkan  pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Guru sudah asyik dan nyaman melakukan pembelajaran tatap muka di kelas tanpa pernah berpikir pembelajaran akan berlangsung di dunia maya. Tetapi, ketika pandemi datang, guru dibuat kelabakan karena perubahan sistem pendidikan yang mendadak. Tidak sedikit guru terutama yang sudah berumur ataupun menjelang pensiun menjadi shock dan terpukul akan pelaksanaan pembelajaran lewat dunia maya yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ibarat baru lahir yang tidak tau apa-apa dan seketika harus menghadapi situasi darurat. Nah, bagaimana untuk menghadapi itu semua? Tiada jawaban lain selain guru harus meningkatkan kompetensi mereka terutama dalam hal pengembangan strategi dan media pembelajaran jarak jauh berbasis IT.

Selama pandemi ini, para guru berlomba-lomba mengikuti webinar/diklat/bimtek yang berlangsung secara virtual (online). Beragam materi dan strategi pelaksanaan PJJ  disampaikan pada pelatihan-pelatihan daring tersebut. Melalui pelatihan-pelatihan online tersebut, para guru diharapkan memiliki bekal yang penuh untuk merancang materi dan strategi pembelajaran jarak jauh yang pada akhirnya juga bisa membangkitkan motivasi belajar peserta didik selama mereka belajar dari rumah. Inilah salah satu hikmah di balik pandemi bagi seorang guru. Pandemilah yang membuat guru untuk mulai hidup berdampingan dengan teknologi. Guru mulai melakukan kreativitas dan inovasi dalam hal metode pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran daring.

Di sinilah saatnya guru menjadi guru belajar walupun sudah mengajar. Selain belajar tentang penggunaan teknologi, guru juga belajar bersabar dan berempati terhadap karakteristik peserta didik. Bersabar dalam artian guru harus mampu menahan emosi dalam menghadapi beragam prilaku siswa. Guru tidak hanya mengalami kesulitan dalam penggunaan teknologi, tapi juga menemui kendala dalam memahami kondisi dan karakter peserta didik saat belajar dari rumah. Peserta didik yang tingkat kemandirian belajarnya sangat rendah menjadi tugas berat guru untuk membangkitkan semangat dan motivasi belajar mereka. Ini menjadi tanggung jawab utama guru untuk merangsang keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran di tengah pandemi.

 

Penulis : Ni Made Wahyu Supraba Wathi, guru bahasa Inggris, SMA Negeri 1 Kubu, Karangasem, Bali.