Kamis, 27 Agustus 2026
Rabu, 26 Agustus 2026
Aku Menangis, Lalu Belajar Berdiri Kembali
Aku Menangis, Lalu Belajar Berdiri Kembali
Ada masa ketika aku merasa air mata adalah tanda bahwa aku tidak cukup kuat.
Aku berusaha menyembunyikannya. Menahan tangis ketika kenangan tentang anakku kembali datang. Mengusap mata sebelum orang lain melihat. Berusaha tetap tersenyum dan menjalani hari seolah-olah tidak ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Padahal sejak kehilangan anakku, ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamanya.Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri,
Mengapa aku belum bisa benar-benar baik-baik saja?
Mengapa kenangan itu masih datang?
Mengapa melihat seorang ibu menggendong bayinya bisa membuat hatiku kembali terasa sesak?
Mengapa masa depan yang pernah kubayangkan untuk anakku masih sering muncul dalam pikiranku?
Dan Aku melewati hari-hari hanya dengan tangisan. Bukan karena aku ingin menyerah. Bukan pula karena aku tidak menerima takdir.Aku menangis karena kebersamaanku dengan belahan jiwaku yang ada selama 7,5 bulan begitu singkat. Aku membiarkan diriku mengakui:
“Ya, aku masih sedih.”
Dan ternyata mengakui kesedihan bukan berarti kalah. Justru dari sanalah aku mulai belajar menerima diriku sendiri. Aku tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tidak harus memaksa luka untuk sembuh hanya karena waktu terus berjalan. Aku hanya perlu memberikan kesempatan kepada hatiku untuk berduka. Sebab terkadang, hati juga membutuhkan waktu untuk memahami sesuatu yang tidak pernah dipersiapkannya. Hari demi hari berlalu. Kesedihan itu tidak serta-merta hilang. Tetapi perlahan, aku mulai belajar menjalani hari tanpa bersamanya. Aku kembali bekerja. Kembali melakukan tanggung jawabku. Kembali tertawa meskipun terkadang setelahnya aku masih bisa teringat pada anakku.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Aku berdiri bukan karena aku sudah tidak pernah menangis. Aku berdiri karena akhirnya aku memahami bahwa hidup tetap memanggilku untuk berjalan. Ada tanggung jawab yang harus kulanjutkan. Ada anak yang masih membutuhkan pelukanku.Ada keluarga yang masih membutuhkan kehadiranku. Ada kehidupan yang masih Tuhan percayakan kepadaku. Dan mungkin, di sanalah aku menemukan arti kekuatan yang sebenarnya.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Kuat adalah ketika kita berani mengakui bahwa kita pernah jatuh, menangis sepuasnya, kemudian perlahan mengumpulkan keberanian untuk berdiri kembali.
Kini aku melihat air mata dengan cara yang berbeda. Dulu aku menganggapnya sebagai tanda kelemahan. Sekarang aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Air mata pernah menjadi bahasa ketika aku tidak mampu menjelaskan rasa kehilangan. Air mata pernah menjadi tempat untuk melepaskan rindu. Air mata juga menjadi jalan yang membawaku menuju penerimaan. Aku mungkin tidak akan pernah melupakan anakku. Dan aku tidak ingin melupakannya. Ia adalah bagian dari perjalanan hidupku. Bagian dari kisahku sebagai seorang ibu.
Kini aku tahu, aku tidak harus memilih antara mengenang dan melanjutkan hidup. Aku bisa melakukan keduanya. Aku bisa merindukannya dan tetap tersenyum. Aku bisa mengingatnya dan tetap melangkah. Aku bisa menangis dan tetap menjadi kuat. Sebab ternyata, berdiri kembali bukan berarti luka itu sudah hilang.
Aku menangis karena kehilangan. Kini, setiap kali air mata itu datang, aku membiarkannya jatuh. Setelahnya, aku mengusapnya, menarik napas, dan kembali berdiri. Bukan karena aku sudah melupakan, tetapi karena aku percaya bahwa kehidupan yang masih Tuhan titipkan kepadaku juga layak untuk diperjuangkan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Selasa, 25 Agustus 2026
Ada Luka yang Tak Sanggup Kuceritakan
Ada Luka yang Tak Sanggup Kuceritakan
Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya
Hatiku menyimpan kepedihan yang tak cukup dijelaskan dengan barisan kata yang rapi. Aku sudah terjun bebas dan terjatuh di titik terendah dalam kehidupanku. Ternyata, inilah realita yang aku hadapi. Aku merasa hidupku sudah berada dalam aliran gelombang yang sedang menghantamku dengan keras. Inilah luka yang kubawa setelah kehilangan anakku. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Bukan karena aku tidak ingin bercerita, tetapi karena ada perasaan yang terlalu penuh untuk diterjemahkan menjadi kalimat.
Aku Menunggu seseorang yang kehadirannya sudah membuatku menyusun banyak harapan.Aku belum tahu wajahnya seperti apa, tetapi aku sudah mengenalnya melalui rasa cinta. Begitulah ajaibnya menjadi seorang ibu. Seseorang bisa begitu dicintai bahkan sebelum sempat benar-benar dikenal. Setiap hari penantian terasa seperti langkah menuju sebuah pertemuan. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya tumbuh. Aku ingin merawatnya. Aku ingin menjadi ibunya selama mungkin. Namun kehidupan ternyata memiliki halaman yang tidak pernah kubayangkan.
Ketika akhirnya aku harus kehilangan anak yang begitu lama kutunggu, rasanya seperti kehilangan sebuah masa depan yang belum sempat terjadi. Bukan hanya kehilangan seorang anak. Aku juga kehilangan banyak bayangan tentang hari-hari yang pernah kubayangkan bersamanya. Sejak kehilangan anakku, dunia terasa berubah. Padahal pagi tetap datang seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap menjalani kesibukannya. Rumah tetap berdiri di tempat yang sama. Kehidupan di sekelilingku seolah tidak pernah berubah. Tetapi di dalam diriku, ada sesuatu yang tidak lagi sama. Aku yang sebelumnya menatap hari dengan harapan, tiba-tiba lebih sering menatapnya dengan kesedihan. Aku sering bertanya dalam hati, mengapa semua ini terjadi kepadaku?
Ada hari-hari ketika aku merasa menjadi orang yang paling terluka di dunia. Saat itu, rasa sakitku terasa begitu penuh hingga seolah tidak ada ruang untuk merasakan apa pun selain kehilangan. Aku membawa kesedihan itu ke mana-mana. Saat melihat bayi orang lain, hatiku teringat kepadanya. Saat mendengar tangisan bayi, pikiranku membayangkan suaranya. Saat melihat seorang ibu menggendong anaknya, aku membayangkan seharusnya aku juga sedang melakukan hal yang sama. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya biasa saja tiba-tiba menjadi begitu berarti. Aku sering membayangkan bagaimana jika ia masih ada. Bagaimana wajahnya ketika tumbuh besar. Bagaimana suaranya memanggilku. Bagaimana ia bermain bersama kakaknya.
Semua itu menjadi bagian dari luka yang tidak mudah kuceritakan. Namun, di tengah kesedihan itu, perlahan aku belajar satu hal: berduka bukan berarti aku harus berhenti hidup. Aku boleh merindukannya. Aku boleh menangisinya. Aku boleh mengingatnya. Aku boleh bertanya kepada Tuhan ketika hatiku belum mengerti. Tetapi suatu hari nanti, aku juga harus belajar membawa kenangan itu tanpa membiarkannya menghentikan langkahku. Karena mungkin, mencintai anak yang telah pergi bukan berarti terus hidup di masa lalu. Mencintainya juga berarti melanjutkan kehidupan dengan membawa cinta itu sebagai bagian dari diriku.
Luka Itu Masih Ada, Tetapi Aku Tidak Lagi Takut Membawanya
Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sudah sepenuhnya melupakan kesedihan itu. Tidak. Ada bagian dari diriku yang akan selalu mengingatnya. Namun kini aku mulai memahami bahwa membawa kenangan bukan berarti harus terus hidup dalam kesedihan. Aku boleh tersenyum lagi. Boleh bahagia lagi. Boleh melanjutkan kehidupan. Dan tetap boleh mengingat seseorang yang pernah begitu berarti. Mungkin begitulah cara hati belajar sembuh: bukan dengan menghapus luka, tetapi dengan memberinya tempat yang layak di dalam perjalanan hidup.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Senin, 24 Agustus 2026
Aku Menantimu, Tak Kusangka Aku Harus Kehilanganmu
Aku Menantimu, Tak Kusangka Aku Harus Kehilanganmu
Aku kembali bahagia
Dan seperti kebanyakan ibu yang sedang menanti kelahiran anak, aku tidak pernah membayangkan bahwa kebahagiaan itu akan memiliki akhir yang begitu berbeda dari yang kurencanakan.
Sebelumnya, aku pernah merasakan kehilangan ketika kehamilan pertamaku tidak sampai pada kelahiran.
Namun ketika kembali dipercaya untuk mengandung, harapan itu tumbuh lagi. Kali ini aku ingin percaya bahwa semuanya akan berjalan baik. Setiap hari terasa seperti langkah menuju sebuah pertemuan yang sudah lama kutunggu. Ada seorang bayi yang sedang kunanti. Seseorang yang bahkan belum kukenal wajahnya, tetapi sudah kucintai. Begitulah cinta seorang ibu. Ia bisa tumbuh bahkan sebelum sebuah tangan kecil menggenggam jarinya. Ia bisa membuat seorang perempuan mulai memikirkan masa depan seseorang yang belum pernah ditemuinya. Aku mulai menyimpan harapan itu dalam doa-doa.
Kemudian tiba waktunya aku bertemu dengannya. Ia lahir sebelum waktunya, ketika usia kehamilanku belum genap seperti yang kuharapkan. Namun di balik segala kekhawatiran itu, ada satu hal yang membuatku tetap berpegang pada harapan: ia telah lahir. Ia ada. Ia adalah anakku.
Sembilan jam
Aku ingin percaya bahwa setelah ini akan ada hari-hari berikutnya. Aku ingin percaya bahwa perjalanan kami baru saja dimulai. Aku ingin percaya bahwa Tuhan masih akan memberiku kesempatan untuk membawanya pulang.
Tetapi kehidupan ternyata memiliki cerita yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Hanya beberapa jam setelah kelahirannya, anakku pergi. Sembilan jam. Hanya sembilan jam sebuah kehidupan kecil hadir di dunia bersamaku. Namun, sembilan jam itu cukup untuk membuatnya menjadi bagian dari hidupku selamanya.
Sulit menjelaskan apa yang terjadi di dalam hati seorang ibu ketika harapan yang selama ini dijaga tiba-tiba harus dilepaskan. Aku baru saja menantikan kelahirannya. Baru saja membayangkan masa depannya. Baru saja ingin mengenalnya lebih jauh. Tetapi aku harus menerima kenyataan bahwa waktu yang diberikan Tuhan untuk kami ternyata begitu singkat. Ada kesunyian yang berbeda setelah itu. Sesuatu yang sebelumnya penuh dengan harapan tiba-tiba terasa kosong. Aku merasa seperti kehilangan bukan hanya seorang anak, tetapi juga sebagian dari masa depan yang sempat kubayangkan bersamanya.
Ada masa ketika hatiku dipenuhi pertanyaan. Mengapa harus terjadi? Mengapa harapan yang sudah begitu lama kujaga harus berakhir begitu cepat?
Mengapa setelah kembali diberi kebahagiaan, aku harus kembali belajar tentang kehilangan? Aku tidak selalu menemukan jawabannya. Dan mungkin memang tidak semua pertanyaan dalam hidup memiliki jawaban yang bisa segera kita pahami. Aku hanya seorang ibu yang sedang mencoba menerima sesuatu yang begitu berat.
Aku menangis.
Aku merasa hancur.
Aku membutuhkan waktu untuk memahami bahwa ada kenyataan yang tidak bisa kuubah, sekeras apa pun aku berharap.
Tetapi perlahan aku belajar bahwa menerima bukan berarti tidak sedih. Menerima berarti mengakui bahwa sesuatu telah terjadi, meskipun hati kita berharap ceritanya berbeda.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Minggu, 23 Agustus 2026
Setelah Menjadi Ibu, Aku Belajar Bahwa Cinta Juga Mengenal Kehilangan
Setelah Menjadi Ibu, Aku Belajar Bahwa Cinta Juga Mengenal Kehilangan
Cinta ternyata bukan hanya tentang memiliki seseorang dalam kehidupan kita.
Cinta adalah tentang menjaga, merawat, mendoakan, dan berharap seseorang tumbuh menjadi manusia yang baik. Dan tanpa kusadari, menjadi seorang ibu adalah awal dari perjalanan panjang untuk memahami arti cinta itu sendiri.Aku mulai menyadari bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana melihat anak tumbuh sehat dan baik-baik saja.
Dari seorang anak, aku belajar bahwa cinta membuat seseorang memiliki harapan. Aku mulai membayangkan masa depannya. Aku ingin melihatnya tumbuh. Bersekolah. Memiliki cita-cita. Menemukan jalan hidupnya. Menjadi manusia yang baik dan membanggakan, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Ternyata, ketika menjadi ibu, masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang diriku. Ada masa depan seseorang yang ikut kutitipkan dalam doa-doaku. Aku hanya seorang ibu yang sedang menikmati babak baru dalam kehidupan. Aku tidak tahu bahwa di balik hari-hari yang penuh harapan itu, kehidupan juga menyimpan sebuah cerita yang belum pernah kubayangkan.
Ketika Harapan Kembali Tumbuh
Kemudian, kehidupan kembali memberiku sebuah kabar bahagia. Aku akan menjadi ibu lagi. Saat itu, aku tidak tahu bahwa kelak cerita ini akan menjadi salah satu bagian paling dalam dari perjalanan hidupku. Yang kutahu hanyalah rasa bahagia. Ada kehidupan baru yang sedang kutunggu. Ada harapan baru yang perlahan tumbuh di dalam hati. Aku mulai membayangkan bagaimana rasanya memiliki dua anak. Bagaimana mereka akan tumbuh bersama. Bagaimana kakak mungkin akan belajar menyayangi adiknya. Bagaimana rumah kami kelak akan dipenuhi lebih banyak suara dan cerita. Begitulah seorang ibu. Ketika menanti sebuah kehidupan, yang dibayangkan selalu masa depan. Bukan kehilangan.
Kehidupan tidak pernah memberi tahu kita seluruh ceritanya sejak awal. Ada hal-hal yang datang tanpa kita minta. Ada peristiwa yang tidak pernah kita masukkan ke dalam rencana. Dan ada kehilangan yang bahkan tidak pernah kita siapkan ruangnya di dalam hati. Begitu pula aku. Aku adalah seorang ibu yang sedang menunggu dengan harapan. Aku tidak tahu bahwa suatu hari aku akan berhadapan dengan sebuah kenyataan yang membuatku harus belajar melepaskan. Tidak ada seorang ibu yang benar-benar siap kehilangan. Karena ketika kita mencintai, yang kita bayangkan adalah kehadiran. Bukan perpisahan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Sabtu, 22 Agustus 2026
Ketika Anakku Lahir, Aku Menjadi Ibu yang Baru Dilahirkan
Ketika Anakku Lahir, Aku Menjadi Ibu yang Baru Dilahirkan
Cahaya terang keemasan duniaku
28 Juli 2015 adalah catatan waktu yang paling berharga dalam hidupku. Itu adalah momen ketika Tuhan memberiku anugerah dengan menitipkan sosok kecil yang kelak akan menjadi sumber cahaya yang menerangi seluruh perjalanan hidupku. Anakku hadir ke dunia dan membuka mata pertama kalinya. Aku pun seperti dilahirkan kembali dengan nama dan peran baru: Ibu.
Di ruang oprasi, suara tangisannya menggelegar begitu keluar dari rahimku hingga aku membayangkan betapa besarnya nanti tantangan kehidupan yang akan dihadapinya di masa mendatang.
Ketika perawat menyerahkan sosok mungil itu ke dalam dekapanku, seolah-olah dunia berhenti sejenak. Jantungku berdebar, seluruh aliran darah seperti ada efek mengalir deras karena tumpahnya kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku terharu tapi sekaligus merasa takut karena aku sudah punya manusia kecil yang sepenuhnya bersandar padaku. Aku khawatir aku tidak bisa menjalani peran dengan baik. Aku khawatir aku melakukan kesalahan dalam menjaga dan merawat titipan-Nya. Ah, itu semua bayangan-bayangan yang merusak momen kebahagianku yang sempurna. Tapi, yang namanya seseorang yang menjalani peran pertama kalinya, aku rasa hal itu wajar.
Nah, mulai saat itu, jiwaku bertambah satu. Hidupku tidak lagi tentang diriku dan suamiku. Sudah ada satu raga dengan tiga jiwa:Aku, anakku dan suamiku. Menjadi ibu harus terampil dalam memahami setiap kebutuhan dan perkembanagn anak. Di sini, aku mulai belajar dari nol. Aku mempelajari tangisannya, memenuhi segala keperluannya hingga menghabiskan hampir seluruh waktu, tenaga dan emosiku. Tidak peduli siang malam, tidak peduli lelah atau tidak, yang terpenting anakku merasa nyaman, aman dan menenangkan. Aku menjadi seorang perempuan yang setiap hari belajar menemukan jawaban bersama anakku.
Cinta akan kehadirannya menumbuhkan suatu harapan
Kelahiran anakku menumbuhkan banyak harapan. Tapi, harapan itu tidak harus selalu sempurna. Hasrat utamanku agar ia menjadi manusia yang baik, berbakti dan berbudi pekerti. Aku ingin ia memiliki hati yang lembut, tetapi tidak mudah menyerah. Memiliki cita-cita, tetapi tetap rendah hati. Mampu berdiri dengan kakinya sendiri, tetapi tidak lupa mengulurkan tangan kepada orang lain. Aku ingin ia memiliki kesadaran dalam dirinya untuk menghargai pengorbanan, kasih sayang, dan perjuangan yang pernah diberikan kepadanya.
Maka dari itu, aku berupaya keras untuk memberikan yang terbaik untukknya. Perawatan yang baik. Perlakuan yang penuh kasih. Pendidikan yang memadai, serta lingkungan yang mendukung. Yang paling utama yang harus aku tanamkan dan akan menjadi pondasi yang kuat adalah nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi bekalnya ketika suatu hari ia berjalan tanpa harus selalu menggenggam tanganku. Aku sadar aku tidak akan selalu mampu melindunginya. Aku tidak bisa memastikan ia berjalan tanpa rintangan. Aku bahkan tidak tahu jalan seperti apa yang kelak akan dipilihnya. Tetapi aku bisa mempersiapkan bekal untukknya. Aku akan menjadikannya sebuah pohon yang kuat dengan menanamkan akar yang kuat agar ketika angin kehidupan datang, ia tidak mudah tumbang. Aku akan membekalinya dengan sayap agar bisa terbang meraih mimpi dan cita-citanya. Aku akan selalu melantunkan doa dalam setiap detik napasku agar ia selalu dalam perlindungan-Nya dan menuntun jalan agar selalu berada pada jalan kebaikan.
Sekarang, ia adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kehadirannya membuatku belajar mencintai dengan cara yang berbeda. Aku menyadari bahwa tanggung jawab bisa menjadi bentuk cinta dan membuatku mengerti bahwa kekhawatiran seorang ibu sering kali lahir dari harapan yang begitu besar. Hatiku tetap bersuara hingga detik ini, "Terima kasih Tuhan atas anugerahmu yang terindah. Aku hanya ingin Engkau selalu memberiku kekuatan dan napas agar anakku bisa bersandar dan bisa mengantarnya menjadi manusia seutuhnya".
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Jumat, 21 Agustus 2026
Menjadi Istri, Menjadi Bagian Dari Dunia yang Lebih Luas
Menjadi Istri, Menjadi Bagian Dari Dunia yang Lebih Luas
Melalui pernikahan, aku mulai menyelami diriku sendiri
Aku menjadi seorang istri yang memandang kehidupan dari sudut yang berbeda. Perlahan, pemahamanku akan arti tanggung jawab, keluarga, pengorbanan, dan bagaimana sebuah kehidupan ternyata tidak pernah berdiri sendiri. Menjadi istri tentunya harus mau belajar untuk memiliki keterampilan dalam mengemban tanggung jawab, memahami segala kebutuhan keluarga hingga mendalami peringai pasangan tanpa tuntutan kesempurnaan dari diri kita masing-masing. Aku juga harus mampu mengendalikan ego terhadap setiap keputusan yang diambil tanpa adanya pertimbangan pasangan. Setelah memahami semuanya itu, baru aku menyadari bahwa seorang perempuan yang sudah berkeluarga tidak harus selalu mampu menyelesaikannya sendiri tapi ada pilar penting yang menjadi pondasi yakni kebersamaan.
Bagi seorang istri dan perempuan Hindu Bali, sudah saatnya untuk mulai menapaki jalan yang lebih luas tidah hanya sekedar bergulat dalam urusan rumah tangga ataupun pekerjaan kantor. Tapi, aku harus masuk berbaur dengan kehidupan adat dan sosial kemasyarakatan apalagi menjalani hidup di pedesaan yang sarat dengan kegiatan sosial. Aku harus bisa menyediakan ruang untuk melestarikan adat dan tradisi seperti terlibat dalam persiapan upacara agama, berinteraksi dalam kegiatan di lingkungan masyarakat (banjar) serta ikut ngayah dengan tulus dan iklas. Semua itu memang harus menyatu dalam denyut nadi kehidupan untuk memahami arti kebersamaan.
Dalam setiap rangkaian upacara agama, ada doa, penghormatan, kebersamaan dan penanda untk selalu bersyukur. Ada juga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi isyarat bahwa kita harus selalu menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Di fase ini tumbuh kesadaran bahwa menjadi perempuan Bali tidah hanya tentang pakaian adat ataupun mengikuti rangkaian upacara adat dan tradisi, tapi juga nilai-nilai tanggung jawab, kebersamaan, penghormatan, gotong royong untuk menjaga warisan.
Ketika Menjadi Istri Membuat Lingkar Kehidupanku Lebih Luas
Sebelum menikah, mungkin aku melihat masyarakat sebagai sesuatu yang berada di luar diriku. Setelah menjadi istri, lingkar kehidupanku perlahan meluas. Aku belajar bahwa keluarga bukan hanya orang-orang yang tinggal serumah. Ada orang-orang yang mungkin tidak memiliki hubungan darah denganku, tetapi hadir dalam banyak bagian perjalanan kehidupan. Di sanalah aku belajar tentang rasa memiliki. Ketika ada kegiatan masyarakat, ada rasa bahwa aku bukan hanya datang sebagai seorang perempuan yang membantu sebuah pekerjaan. Aku datang sebagai bagian dari komunitas. Dan ketika suatu saat aku membutuhkan bantuan, aku tahu ada orang-orang yang mungkin akan datang tanpa banyak bertanya.
Aku belajar bahwa menjadi istri dan perempuan tidak harus berarti kehilangan diri. Namun, semakin banyak tanggung jawab yang kupelajari, semakin aku memahami satu hal penting. Kehidupan adalah tentang belajar menata keseimbangan di antara banyak peran yang kita jalani. Aku memiliki rasa syukur karena diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari begitu banyak kehidupan. Kini aku memahami bahwa menjadi istri bukan sekadar perubahan status. Ia adalah perubahan cara memandang dunia.
Menjadi istri ternyata bukan sekadar memasuki kehidupan bersama seseorang. Ia adalah perjalanan untuk mengenal tanggung jawab, memperluas hati, memahami masyarakat, menjaga nilai-nilai yang diwariskan, dan perlahan menemukan makna baru tentang siapa diriku di tengah kehidupan yang lebih besar. Ternyata, tanpa kusadari, aku sedang membuka pintu menuju wajah kehidupan yang jauh lebih luas.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Langganan:
Postingan (Atom)
-
LITERASI BALITAL I TA 2026/2027 A. LITERASI BACA TULIS Kamis, 23 Juli 2026 Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini...
-
LITERASI BALITAL I 2026 A. LITERASI BACA TULIS Berikut beberapa berita/informasi hangat seputar isu-isu terkini. Silakan dipilih kemudian t...




