Di Balik Senyumku, Ada Hati yang Sedang Belajar Kuat
Aku terlihat baik-baik saja
Mungkin bagi mereka yang mengenal diriku mengira aku orang yang terlihat santai dan menikmati perjalanan hidup. Dari roman wajah, penampilan sampai pencapaian yang mereka lihat mengisyaratkan bahwa aku bisa menjalani hari dengan baik-baik saja meskipun mereka mengetahui riwayat keadaanku sebelumnya. Aku tetap tersenyum. Tetap menyapa. Tetap melakukan pekerjaan. Tetap menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu, seorang istri, dan sebagai diriku sendiri. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik senyum itu, ada hati yang sedang belajar menenangkan dirinya sendiri. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa terlihat kuat. Atau mungkin karena aku sudah terlalu pandai menyembunyikan apa yang sebenarnya kurasakan.
Setelah melewati begitu banyak hal, aku belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberi kesempatan untuk berhenti. Ketika suami sakit, aku belajar menunggu. Ketika ia terbaring di rumah sakit, aku belajar menjadi kuat meskipun dalam hati dipenuhi kecemasan. Ketika ia mulai pulang dan menjalani masa pemulihan, aku mencoba kembali menata kehidupan. Lalu, ketika tubuhku sendiri mulai memberi tanda bahwa aku juga harus memperhatikannya, aku kembali belajar menerima kenyataan. Dari luar, mungkin semuanya terlihat biasa saja. Aku masih menjalani hari-hari seperti sebelumnya.Tetapi, ada bagian dari diriku yang tidak lagi sama. Ada rasa takut yang kadang muncul tanpa diundang. Ada kekhawatiran yang datang diam-diam. Ada saat ketika aku bertanya kepada diri sendiri, “Sampai kapan tubuhku mampu menjalani semuanya?” Pertanyaan itu tidak selalu berani kuucapkan. Bahkan kepada orang-orang terdekat sekalipun. Sebab terkadang, kita bukan tidak ingin bercerita. Kita hanya tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan sulit kita pahami sendiri.
Ada Saat Aku Merasa Rapuh
Aku pernah berpikir bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh takut. Tidak boleh lelah. Tidak boleh mengeluh. Tidak boleh menunjukkan bahwa ada sesuatu yang membuat kita khawatir. Tetapi perjalanan hidup perlahan mengubah cara pandangku. Aku mulai memahami bahwa kuat dan rapuh ternyata bisa tinggal di dalam diri yang sama. Aku bisa terlihat tegar sekaligus merasa takut. Aku bisa tersenyum sekaligus menyimpan kekhawatiran. Aku bisa mengatakan, “Aku baik-baik saja,” sementara di dalam hati sebenarnya sedang berusaha keras agar tetap tenang. Dan ternyata, tidak apa-apa. Tidak setiap hari aku harus menjadi perempuan yang paling kuat.
Ada hari-hari ketika aku ingin duduk lebih lama. Ada hari-hari ketika aku merasa tubuhku tidak sekuat yang kuinginkan. Ada hari-hari ketika pikiranku terlalu penuh. Ada hari-hari ketika aku melihat orang lain melakukan banyak hal dengan mudah, sementara aku harus lebih berhati-hati terhadap diriku sendiri. Saat itulah aku menyadari bahwa kondisi yang sedang kujalani memiliki batas-batas tertentu. Ada hal-hal yang dahulu bisa kulakukan tanpa berpikir panjang, tetapi kini harus kupertimbangkan kembali. Ada saat ketika aku harus mendengarkan tubuhku.
Sepertinya aku pandai menyembunyikan wajah yang menyimpan luka. Aku tidak pernah benar-benar menunjukkan semuanya. Ketika takut, aku tetap berusaha tersenyum. Ketika lelah, aku mencoba tetap menjalankan apa yang harus dilakukan. Ketika hati terasa berat, aku memilih diam sejenak lalu kembali melangkah. Aku hanya tidak ingin ketakutanku mengambil seluruh ruang dalam hidupku. Aku tidak ingin penyakit yang sedang kuhadapi menjadi satu-satunya cerita tentang diriku. Aku masih seorang ibu. Aku masih seorang istri. Aku masih seorang perempuan yang memiliki impian. Masih ada pekerjaan yang ingin kuselesaikan. Masih ada keluarga yang ingin kupeluk. Masih ada pagi yang ingin kusambut. Masih ada kehidupan yang ingin kujalani. Karena itu, aku memilih untuk terus berjalan. Bukan dengan langkah yang selalu cepat, tapi dadang perlahan.
Jika suatu hari nanti seseorang melihatku tersenyum dan berkata, “Kamu hebat. Kamu kelihatan kuat sekali.” Mungkin aku hanya akan tersenyum sebab mereka tidak tahu berapa banyak hal yang harus kulewati untuk sampai pada senyum itu. Mereka tidak tahu berapa kali aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak tahu berapa banyak kecemasan yang harus kutenangkan sebelum bisa menjalani hari. Dan mereka tidak perlu tahu semuanya. Karena tidak semua perjuangan harus terlihat untuk menjadi nyata. Ada perjuangan yang berlangsung sangat sunyi, di dalam kamar, di dapur, di balik pintu, di tempat kerja dan bahkan di dalam perjalanan menuju tempat pengobatan. Di antara doa-doa yang kupanjatkan dalam hati. Dan di dalam percakapan panjang antara diriku dan Tuhan. Di sanalah aku sering menemukan kekuatan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun.
Sekarang aku bisa berdiri tegak, tapi aku tak tahu hari esok. Aku mungkin tidak seberani yang terlihat. Aku masih memiliki ketakutan. Masih memiliki kekhawatiran. Masih memiliki hari-hari ketika langkah terasa berat. Tetapi aku juga masih memiliki harapan. Dan selama harapan itu masih ada, aku akan terus belajar menjalani hidup ini, pelan-pelan, setahap demi setahap. Sebab mungkin, menjadi kuat bukan tentang tidak pernah rapuh. Menjadi kuat adalah ketika kita berani mengakui kerapuhan, menerimanya, lalu tetap memilih untuk melangkah.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia: