Badai Itu Belum Selesai, Ia Kembali Membawa Ketakutan yang Lebih Besar
Kehidupan ternyata hanya memberiku jeda untuk bernapas panjang
Aku berpikir bahwa kehidupan hanya memberiku waktu bernapas sejenak setelah rangkaian demi rangkaian kisah yang mengiris hati. Kehidupan telah memberi kami kesempatan untuk kembali menjalani hari-hari biasa. Dan itu berselang 2,5 tahun setelah suamiku keluar dari rumah sakit. Aku tahu semuanya belum sepenuhnya seperti dahulu. Masih ada proses pemulihan. Masih ada hal-hal yang harus diperhatikan. Tetapi setidaknya, ia sudah kembali ke rumah. Ada rasa syukur yang besar setiap kali melihatnya berada di sana. Namun ternyata, aku belum benar-benar selesai dengan badai itu. Badai itu belum selesai. Ia hanya sempat memberi kami waktu untuk menarik napas. Lalu, tanpa banyak tanda, ia datang kembali. Dan kali ini, ia membawa ketakutan yang jauh lebih besar.
Aku mengingat dengan jelas bagaimana semuanya berlangsung begitu cepat. Aku yakin saat itu tidak ada mendung atau awan hitam pekat yang akan menurunkan hujan deras ke halaman hidupku. Suamiku tiba-tiba mengalami kondisi buruk yang belum pernah dirasakan sebelumnya sehingga pintu IGD terbuka lagi menerimanya. Kali ini bukan sekadar kekhawatiran seperti sebelumnya. Keadaannya membutuhkan tindakan medis segera. Aku berusaha tetap berpikir jernih. Aku berusaha melakukan apa yang harus dilakukan. Mencari informasi. Menghubungi orang-orang yang perlu dihubungi. Memastikan segala sesuatu berjalan secepat mungkin. Tetapi di balik semua gerakanku yang terlihat cekatan, hatiku sebenarnya sedang gemetar. Ada bagian dalam diriku yang ingin berkata, “Tuhan, jangan lagi.” Aku baru saja belajar berdiri setelah melewati ketakutan sebelumnya. Mengapa sekarang aku harus kembali berhadapan dengan ketakutan yang sama? Bahkan lebih besar? Dan kemudian datang kabar bahwa suamiku harus segera menjalani operasi. Saat mendengar kata itu, rasanya ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
"Harus segera dilakukan Operasi", kata dokter
Satu kata yang tiba-tiba membuat pikiranku berlari ke mana-mana. Aku tahu tindakan medis itu diperlukan. Aku tahu dokter dan tim medis tentu telah mempertimbangkan langkah terbaik. Tetapi sebagai seorang istri, mengetahui bahwa orang yang paling kucintai harus masuk ke ruang operasi dengan berbagai risiko setelahnya bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Aku hanya bisa terdiam.
Ketika akhirnya suamiku dibawa menuju ruang operasi, aku hanya bisa mengikutinya sampai batas yang diperbolehkan. Setelah pintu itu tertutup, aku berhenti. Dan untuk beberapa saat, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku duduk termangu, memandangi pintu ruang operasi. Di balik pintu itu ada seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang selama ini kupikir akan terus berjalan bersamaku. Seseorang yang telah melewati begitu banyak hal bersamaku. Dan sekarang, aku harus menyerahkan keselamatannya kepada tangan-tangan yang bekerja di balik pintu itu.
Dalam penantian itu, pikiranku mulai menciptakan berbagai kemungkinan. Bagaimana nanti ketika operasinya selesai? Apakah ia akan mengingatku seperti biasa? Apakah ia masih bisa mengenaliku dengan baik? Apakah nanti ia masih bisa berbicara dan berinteraksi seperti sebelumnya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ia kembali seperti biasa? Apakah pemulihannya akan panjang? Dan bahkan pertanyaan yang paling fatal, apakah dia bisa selamat melewati masa kritis? Pertanyaan demi pertanyaan datang tanpa henti. Aku tahu sebagian besar belum tentu terjadi. Aku tahu aku tidak seharusnya membuat kesimpulan sendiri. Tetapi, ketika seorang belahan hati berada di ruang operasi, pikiran terkadang tidak lagi berjalan dengan tenang.
Aku teringat cerita tentang orang-orang lain yang pernah mengalami kondisi serupa. Ada yang membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan diri. Ada yang setelah sakit harus menjalani proses panjang untuk kembali beraktivitas. Ada pula cerita tentang seseorang yang mengalami keterbatasan gerak setelah mengalami kondisi yang berat. Semua cerita itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Semua cerita itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Dan semakin kupikirkan, semakin besar rasa takut itu. Tetapi hati manusia memang tidak selalu bisa diperintah untuk tenang. Ada ketakutan yang datang begitu saja. Ada kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya belum terjadi, tetapi terasa begitu nyata di dalam pikiran.
Aku hanya bisa menunggu
Waktu berjalan. Tetapi rasanya tidak berjalan seperti biasanya. Menit terasa panjang. Jam terasa lebih panjang lagi. Aku beberapa kali melihat jam, lalu kembali memandang pintu ruang operasi. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu. Aku tidak berani membiarkan pikiranku pergi terlalu jauh. Aku tidak berani terlalu banyak membayangkan apa yang sedang terjadi di balik pintu itu. Maka, aku memilih satu hal yang masih bisa kulakukan: Berdoa. Aku hanya bisa berdoa karena doa adalah cara untuk menahan hatiku agar tidak jatuh lebih dalam ke dalam ketakutan.
Ada orang yang mungkin memilih mengalihkan pikirannya ketika sedang menunggu seperti membuka ponsel, mengobrol ataupun melakukan sesuatu agar waktu terasa lebih cepat. Tetapi, saat itu aku tidak mampu. Aku hanya ingin tetap terhubung dengan doaku. Aku duduk dan sesekali menatap pintu ruang operasi. Kemudian, kembali mengarahkan pikiranku untuk melantunkan doa. Aku tidak tahu apakah doa bisa membuat waktu berjalan lebih cepat.Tetapi, aku tahu doa membuatku merasa tidak sepenuhnya sendirian. Ketika aku tidak mampu melakukan apa-apa, doa menjadi satu-satunya cara bagiku untuk tetap merasa sedang melakukan sesuatu untuk orang yang kucintai. Aku menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Dan sebagai seorang yang percaya pada leluhur, aku pun memohon agar leluhur turut menaungi perjalanan kami. Aku berdoa agar suamiku dilindungi, agar tindakan berjalan lancar, agar tangan-tangan yang bekerja diberi ketelitian dan kekuatan dan agar setelah semuanya selesai, aku masih diberi kesempatan untuk melihatnya kembali.
Aku pasrah
Bukan karena aku berhenti berharap. Justru karena aku terlalu berharap. Aku sadar bahwa ada batas dari apa yang mampu dilakukan manusia. Ada titik ketika usaha harus berjalan bersama kepasrahan. Dan saat itulah aku benar-benar menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami arti berserah. Berserah bukan berarti berhenti berusaha. Berserah adalah ketika kita sudah melakukan apa yang mampu dilakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Maka aku duduk di sana dengan hati yang penuh ketakutan. Tetapi juga dengan doa karena hanya itulah yang bisa kulakukan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:




.jpeg)
