Aku Ingin Tenang, Tetapi Ujian Membuatku Kembali Cemas
Aku ingin ketenangan hati
Ketika aku termenung sendiri, aku membayangkan bahwa aku telah melangkah mengikuti alur kehidupan yang telah ditentukan. Setelah begitu banyak hal yang kulewati, aku ingin bangun pagi tanpa membawa rasa khawatir. Aku ingin menjalani hari tanpa terus-menerus bertanya dalam hati, “Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?” Aku pikir, setelah suamiku melewati masa sulitnya, setelah aku sendiri harus berhadapan dengan kondisi tubuhku, mungkin kehidupan akan memberiku sedikit ruang untuk bernapas. Tapi, sepertinya aku masih keliru. Kehidupan tetap berjalan. Dan di depan sana, mungkin sudah ada ujian lain yang harus kuhadapi. Mungkin, suatu saat aku harus kembali berhadapan dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku yakni ujian.
Sebenarnya aku tahu, ujian adalah sesuatu yang harus dijalani. Tidak ada alasan untuk terus menghindarinya. Tetapi setelah melewati berbagai hal dalam beberapa waktu terakhir, ternyata pikiranku tidak lagi sesederhana dulu. Ada kekhawatiran yang diam-diam tumbuh. Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah aku masih mampu?
Apakah kondisiku akan mengganggu persiapanku?
Apakah aku bisa menjalani semuanya dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu kadang muncul ketika suasana sedang sepi. Terutama ketika malam datang dan segala sesuatu menjadi lebih sunyi. Di siang hari, mungkin aku terlihat biasa saja. Aku tetap menjalankan pekerjaan.Tetap berbicara dengan orang lain. Tetap tersenyum. Tetap berusaha menyelesaikan tanggung jawab yang ada di hadapanku. Tetapi ketika sendirian, ada bagian dari diriku yang masih diliputi kecemasan. Aku ingin tenang. Benar-benar ingin tenang.
Tetapi rupanya hati yang baru saja melewati banyak hal membutuhkan waktu untuk kembali percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi, ketenangan itu terusik oleh kecemasan
Aku menyadari bahwa rasa cemas tidak selalu datang karena kita tidak siap. Kadang ia datang karena kita sudah terlalu lama berada dalam keadaan harus berjaga-jaga. Beberapa waktu lalu, pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang kondisi suami. Setiap kabar membuatku waspada. Setiap perubahan membuatku berpikir. Setiap hari aku belajar menunggu sambil berharap. Ketika suami akhirnya pulang dari rumah sakit, aku mengira kekhawatiran itu akan selesai. Namun ternyata, tubuh dan pikiranku menyimpan semua pengalaman itu lebih lama daripada yang kusadari.
Kini, ketika berhadapan dengan ujian yang akan datang, rasa cemas itu kembali muncul. Bukan karena aku tidak ingin menghadapi ujian. Justru karena aku ingin memberikan yang terbaik. Aku ingin melakukan semuanya dengan baik. Aku ingin tetap menjadi seseorang yang dapat diandalkan.Tetapi ada saat-saat ketika aku merasa kemampuanku tidak lagi seluas dulu. Ada keterbatasan yang harus kuakui. Ada hari ketika tubuh terasa tidak sekuat biasanya. Ada waktu ketika konsentrasi tidak mudah dikumpulkan. Ada saat ketika aku ingin melakukan banyak hal sekaligus, tetapi tubuhku seakan mengingatkan, "Pelan-pelan. Kamu juga sedang berjuang."
Tidak apa-apa jika aku merasa takut. Yang penting, rasa takut itu tidak membuatku berhenti. Maka, perlahan aku mulai mengubah cara pandangku terhadap ujian yang ada di depan. Aku tidak ingin menjadikannya sebagai sesuatu yang harus kutakuti. Aku ingin melihatnya sebagai satu lagi perjalanan yang harus kulewati. Aku akan mempersiapkan apa yang bisa kupersiapkan. Aku akan belajar. Aku akan berusaha. Aku akan menjaga tubuhku. Dan ketika rasa cemas datang, aku akan mencoba menarik napas lebih dalam dan mengingat kembali semua yang sudah kulewati.
Bukankah aku pernah berada di titik yang jauh lebih sulit?
Bukankah aku pernah menunggu kabar dengan hati yang penuh ketakutan?
Bukankah aku pernah kehilangan sesuatu yang begitu berarti?
Bukankah aku pernah merasa rapuh, tetapi tetap memilih untuk bangun dan menjalani hari?
Jika semua itu pernah kulewati, mungkin ujian ini pun bisa kulewati. Tidak harus dengan sempurna. Cukup dengan sungguh-sungguh. Aku akhirnya mengerti bahwa tenang bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Tenang adalah ketika aku mampu mengatakan kepada diriku sendiri: "Aku memang cemas. Aku memang takut. Tetapi aku tetap akan mencoba." Aku tidak tahu bagaimana hasil dari ujian yang akan datang. Aku tidak bisa memastikan semuanya akan berjalan sesuai harapan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:

mantap
BalasHapusTerimakasih, Omjay.
BalasHapus