Di Balik Diamku, Ada Doa yang Tak Pernah Berhenti
Aktif bergerak walaupun aku hanya diam
Ada banyak hal yang memenuhi kepala dan hati ini yang tidak mampu berucap kata mengungkapkan rasa gundah. Saat itu, suamiku masih terbaring di rumah sakit. Aku hanya bisa melihatnya dari sisi tempat tidur, memastikan keadaannya, memperhatikan setiap perubahan, dan menunggu kabar tentang perkembangannya. Di hadapanku ada seseorang yang menjadi teman hidupku, sedang berjuang melewati masa yang tidak pernah kami rencanakan. Aku berusaha terlihat tenang. Padahal di dalam hati, ada kecemasan yang terus bergerak. Setiap kali ada informasi baru tentang kondisinya, aku berusaha memahaminya. Aku mencari tahu, bertanya, membaca berbagai informasi, dan mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Rasanya aku ingin mengetahui setiap perkembangan, sekecil apa pun itu. Aku hanya ingin merasa bahwa aku masih bisa melakukan sesuatu yang berguna dan bisa mengurangi penderitaan pasangan hidupku.
Namun, di antara semua usaha itu, ada satu hal yang tidak pernah kutinggalkan: doa. Kadang doaku panjang. Kadang hanya beberapa kata. Bahkan ada saat ketika aku tidak mampu menyusun kalimat dengan baik. Aku hanya menyerahkan kegelisahan itu kepada Tuhan. “Tuhan, berikan dia kekuatan. Berikan kesembuhan. Berikan kami kesempatan untuk kembali menjalani hari-hari seperti biasa.” Aku mulai memahami bahwa ada keadaan dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan manusia. Kita boleh berusaha mencari informasi. Kita boleh bertanya. Kita boleh mengikuti setiap proses dengan penuh perhatian. Tetapi pada akhirnya, ada bagian yang harus kita serahkan kepada Tuhan. Dan di sanalah aku belajar tentang ikhlas. Ikhlas bukan berarti aku tidak takut. Ikhlas bukan berarti aku berhenti berharap. Justru karena begitu besar harapanku, aku belajar menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.Aku tetap mencari tahu kondisi suamiku. Tetap memperhatikan setiap perkembangan. Tetap berusaha cekatan ketika dibutuhkan. Tetapi setelah semua yang mampu kulakukan, aku kembali pada satu tempat yang paling menenangkan: doa.
Ada percakapan panjang antara hatiku dan Tuhan
Mungkin dari luar aku terlihat diam. Namun sebenarnya, di balik diamku ada percakapan panjang antara hati dan Tuhan. Ada banyak kekhawatiran yang tidak kuceritakan. Ada banyak pertanyaan yang kusimpan sendiri. Ada banyak kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Tetapi ada pula satu keyakinan yang terus kupelihara: selama masih ada kesempatan untuk berharap, aku tidak ingin berhenti berharap. Aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu mampu tersenyum atau tidak merasa takut. Menjadi kuat terkadang hanya berarti tetap berada di sana, tetap menemani, tetap berusaha, dan tetap percaya meskipun hati sedang tidak baik-baik saja.
Hari-hari di rumah sakit mengajarkanku bahwa cinta terkadang tidak membutuhkan banyak kata. Cinta bisa berupa duduk dalam diam. Menunggu sebuah kabar. Menggenggam tangan. Mencari informasi. Memastikan semuanya baik-baik saja. Lalu menutup semuanya dengan doa. Dan mungkin, itulah yang sedang kulakukan saat itu. Aku sedang belajar mencintai seseorang melalui sebuah penantian. Aku tidak tahu kapan badai ini akan berakhir. Aku tidak tahu seperti apa hari esok. Tetapi aku tahu satu hal: aku akan tetap menunggu dengan sabar, berusaha dengan segenap kemampuan, dan menitipkan harapan kepada Tuhan. Sebab ketika manusia sudah sampai pada batas kemampuannya, doa mengajarkan kita bahwa masih ada tempat untuk menggantungkan harapan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:



.jpeg)









