Aku Menangis, Lalu Belajar Berdiri Kembali
Ada masa ketika aku merasa air mata adalah tanda bahwa aku tidak cukup kuat.
Aku berusaha menyembunyikannya. Menahan tangis ketika kenangan tentang anakku kembali datang. Mengusap mata sebelum orang lain melihat. Berusaha tetap tersenyum dan menjalani hari seolah-olah tidak ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Padahal sejak kehilangan anakku, ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamanya.Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri,
Mengapa aku belum bisa benar-benar baik-baik saja?
Mengapa kenangan itu masih datang?
Mengapa melihat seorang ibu menggendong bayinya bisa membuat hatiku kembali terasa sesak?
Mengapa masa depan yang pernah kubayangkan untuk anakku masih sering muncul dalam pikiranku?
Dan Aku melewati hari-hari hanya dengan tangisan. Bukan karena aku ingin menyerah. Bukan pula karena aku tidak menerima takdir.Aku menangis karena kebersamaanku dengan belahan jiwaku yang ada selama 7,5 bulan begitu singkat. Aku membiarkan diriku mengakui:
“Ya, aku masih sedih.”
Dan ternyata mengakui kesedihan bukan berarti kalah. Justru dari sanalah aku mulai belajar menerima diriku sendiri. Aku tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tidak harus memaksa luka untuk sembuh hanya karena waktu terus berjalan. Aku hanya perlu memberikan kesempatan kepada hatiku untuk berduka. Sebab terkadang, hati juga membutuhkan waktu untuk memahami sesuatu yang tidak pernah dipersiapkannya. Hari demi hari berlalu. Kesedihan itu tidak serta-merta hilang. Tetapi perlahan, aku mulai belajar menjalani hari tanpa bersamanya. Aku kembali bekerja. Kembali melakukan tanggung jawabku. Kembali tertawa meskipun terkadang setelahnya aku masih bisa teringat pada anakku.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Aku berdiri bukan karena aku sudah tidak pernah menangis. Aku berdiri karena akhirnya aku memahami bahwa hidup tetap memanggilku untuk berjalan. Ada tanggung jawab yang harus kulanjutkan. Ada anak yang masih membutuhkan pelukanku.Ada keluarga yang masih membutuhkan kehadiranku. Ada kehidupan yang masih Tuhan percayakan kepadaku. Dan mungkin, di sanalah aku menemukan arti kekuatan yang sebenarnya.
Kuat bukan berarti tidak pernah jatuh.
Kuat adalah ketika kita berani mengakui bahwa kita pernah jatuh, menangis sepuasnya, kemudian perlahan mengumpulkan keberanian untuk berdiri kembali.
Kini aku melihat air mata dengan cara yang berbeda. Dulu aku menganggapnya sebagai tanda kelemahan. Sekarang aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Air mata pernah menjadi bahasa ketika aku tidak mampu menjelaskan rasa kehilangan. Air mata pernah menjadi tempat untuk melepaskan rindu. Air mata juga menjadi jalan yang membawaku menuju penerimaan. Aku mungkin tidak akan pernah melupakan anakku. Dan aku tidak ingin melupakannya. Ia adalah bagian dari perjalanan hidupku. Bagian dari kisahku sebagai seorang ibu.
Kini aku tahu, aku tidak harus memilih antara mengenang dan melanjutkan hidup. Aku bisa melakukan keduanya. Aku bisa merindukannya dan tetap tersenyum. Aku bisa mengingatnya dan tetap melangkah. Aku bisa menangis dan tetap menjadi kuat. Sebab ternyata, berdiri kembali bukan berarti luka itu sudah hilang.
Aku menangis karena kehilangan. Kini, setiap kali air mata itu datang, aku membiarkannya jatuh. Setelahnya, aku mengusapnya, menarik napas, dan kembali berdiri. Bukan karena aku sudah melupakan, tetapi karena aku percaya bahwa kehidupan yang masih Tuhan titipkan kepadaku juga layak untuk diperjuangkan.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar