Di Antara Cemas dan Doa, Aku Menunggu Kesembuhanmu
Aku menunggu dalam gelisah yang menyelimuti ruang hati
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika orang yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita tiba-tiba harus berjuang menghadapi sakit. Rasanya dunia kembali berhenti sejenak. Pikiran dipenuhi pertanyaan, sementara hati hanya mampu berharap. Aku takut. Sangat takut. Tetapi, kali ini aku belajar bahwa rasa takut tidak selalu harus dilawan. Kadang, ia hanya perlu diterima sebagai bagian dari rasa cinta kita kepada seseorang. Aku menunggu dan kemudian hari-hari terasa berbeda. Ada waktu yang kuhabiskan untuk menunggu kabar, menunggu keadaan membaik, menunggu senyum itu kembali dan menunggu saat ketika semuanya terasa seperti semula. Dalam penantian itu, aku belajar bersabar dan itu tidak mudah. Ada saat-saat ketika pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Ada saat ketika hatiku ingin menangis. Ada saat ketika aku ingin segera mendapatkan kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi aku tahu, tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginanku. Maka, aku memilih untuk menjalani hari demi hari. Aku menunggu dengan sabar, berusaha tetap tegar dan kuat.
Saat itu, aku hanya berdoa
Ketika kemampuan manusia terasa begitu terbatas, doa menjadi tempatku menitipkan segala sesuatu. Aku berdoa untuk kesembuhannya. Aku berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan kepadanya. Aku berdoa agar setiap proses yang sedang kami jalani diberikan jalan terbaik. Dan dalam keheningan, aku juga berdoa agar hatiku diberi ketenangan untuk menerima apa pun yang terjadi. Kini, aku memahami bahwa doa bukan hanya tentang meminta agar sesuatu terjadi sesuai keinginan kita, tapi doa juga tentang belajar percaya. Percaya bahwa Tuhan mengetahui apa yang tidak mampu kita lihat. Percaya bahwa ada rencana yang mungkin belum mampu kupahami. Dan percaya bahwa di tengah ketidakpastian, aku tidak benar-benar sendirian. Tuhan tempatku curhat dan bersandar mencari ketenangan.
Aku belajar menjaga harapan. Aku tidak ingin kecemasan mengambil seluruh ruang dalam hatiku. Karena selama masih ada kesempatan untuk berharap, aku ingin menjaganya. Harapan itu sederhana. Aku ingin melihat suamiku kembali sehat. Aku ingin kembali mendengar ceritanya. Aku ingin kembali melihat kami menjalani hari-hari biasa yang dulu mungkin terasa begitu sederhana. Kini aku tahu, hari-hari biasa bersama orang yang kita cintai adalah sesuatu yang luar biasa. Di tengah semua itu, aku belajar tentang ikhlas. Dulu, mungkin aku mengira ikhlas berarti tidak boleh takut, tidak boleh sedih, dan harus menerima semuanya tanpa air mata.
Kini aku memahami bahwa ikhlas bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Ikhlas adalah tetap berusaha, tetap berharap, tetap berdoa, tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Aku tetap ingin suamiku sembuh. Aku tetap berharap hari-hari baik akan kembali. Aku tetap melakukan apa yang mampu kulakukan. Namun setelah semua usaha itu, aku belajar berkata dalam hati: “Tuhan, aku sudah berusaha. Kini aku titipkan dia kepada-Mu.” Mungkin selama ini kita mengira cinta hanya tentang kebersamaan, perhatian, dan kebahagiaan. Tapi, ternyata ada bentuk cinta yang lain. Menunggu. Aku menunggu seseorang melewati masa sulit, menunggu kabar baik, menunggu kesembuhan. Menunggu dengan sabar ketika kita sendiri sedang diliputi kecemasan. Dan dalam penantian itu, aku menemukan bahwa cinta ternyata tidak selalu membutuhkan kata-kata. Kadang cinta hanya berupa kehadiran. Berada di sampingnya. Menguatkannya. Mendoakannya. Dan tetap berkata, meskipun hanya dalam hati: “Aku ada di sini. Kita jalani ini bersama.”
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar