Badai Datang Kembali Saat Hatiku Belum Sembuh
Ketika luka kehilangan itu belum sepenuhnya kering, badai lain datang
Aku baru saja belajar berdamai dengan sebuah kehilangan yang begitu dalam. Belajar menerima bahwa ada harapan yang harus kulepaskan, ada masa depan yang hanya bisa kusimpan dalam doa dan kenangan. Tetapi ternyata, kehidupan kembali mengajarkanku bahwa ujian tidak selalu datang satu per satu dengan memberi kita waktu untuk bersiap. Kali ini bukan tentang diriku. Bukan pula tentang anakku. Waktu 4 tahun rupanya belum cukup pulih dari luka sebelumnya. Suamiku tiba-tiba jatuh sakit. Dan sakitnya itu berawal dari hanya sakit yang kebanyakan orang menganggapnya sakit biasa. Tapi, ternyata penyakitnya itu benar-benar sebagai pukulan yang tak kuduga ketika dokter memberikan penjelasan berdasarkan hasil diagnosenya.
Ada sesuatu yang berbeda ketika melihat orang yang selama ini menjadi teman berbagi kehidupan tiba-tiba berada dalam kondisi yang membuatku khawatir. Aku yang biasanya mencoba menenangkan keadaan, mendadak berhadapan dengan rasa takut yang sulit kujelaskan. Dalam waktu yang begitu singkat, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah dia akan baik-baik saja? Apakah dia akan bisa menjalani keseharian seperti biasa? Aku bahkan takut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Aku sangat takut dan khawatir. Pikiranku selalu dipenuhi dengan hal-hal mungkin saja bisa terjadi kapan pun ketika menyadari kondisi seperti itu. Rasanya seperti belum sempat benar-benar menarik napas, aku sudah harus kembali menghadapi gelombang yang lain.
Aku berusaha terlihat kuat. Di hadapan suamiku, aku berusaha tenang. Aku ingin ia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin menjadi tempatnya bersandar. Aku mengurus apa yang bisa kuurus, menemani, menunggu kabar, berdoa, dan berusaha menjalani semuanya satu demi satu. Tetapi ketika sendirian, aku menyadari sesuatu: aku ternyata sangat takut. Ada malam-malam ketika pikiranku tidak mau berhenti. Ada saat ketika aku ingin menangis, tetapi memilih menahannya karena merasa harus tetap kuat. Namun kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri: Bukankah aku juga manusia? Mengapa menjadi kuat harus berarti tidak boleh takut? Mengapa seorang istri harus selalu terlihat tegar ketika hatinya sendiri sedang gemetar?
Kuat Ternyata Bukan Berarti Tidak Takut
Perjalanan ini perlahan mengubah pemahamanku tentang kekuatan. Dulu aku berpikir orang kuat adalah orang yang tidak menangis, tidak takut, dan selalu mampu menghadapi semuanya dengan tenang. Sekarang aku tahu, ternyata bukan itu. Kuat adalah tetap melakukan apa yang harus dilakukan meskipun hati sedang takut. Kuat adalah tetap menemani meskipun pikiran dipenuhi kecemasan. Kuat adalah tetap berdoa ketika kita tidak tahu bagaimana akhir dari sebuah cerita. Kuat adalah mengakui, “Aku takut,” tetapi tetap berkata kepada diri sendiri, “Aku akan menjalaninya.” Dan mungkin, keberanian yang sesungguhnya memang tidak lahir karena kita tidak memiliki rasa takut. Keberanian lahir ketika kita tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada.
Ada batas di mana usaha manusia harus berhenti dan doa mengambil tempatnya. Aku melakukan apa yang mampu kulakukan. Kami mencari pertolongan dan menjalani proses yang harus dijalani. Selebihnya, aku belajar menyerahkan sesuatu yang memang tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku. Aku berdoa bukan karena aku tahu bagaimana akhirnya. Aku berdoa karena aku percaya bahwa Tuhan tahu sesuatu yang tidak mampu kulihat. Setelah kehilangan anak, aku pernah belajar bahwa tidak semua harapan berakhir seperti yang kita inginkan. Kini aku kembali belajar hal yang sama. Aku tidak tahu mengapa kehidupan menghadirkan begitu banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Aku juga tidak selalu memahami maksud di balik setiap peristiwa. Namun satu hal yang mulai kupahami: mungkin kehidupan tidak sedang meminta kita untuk menjadi manusia yang tidak pernah rapuh. Mungkin kehidupan hanya sedang mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia meskipun sedang rapuh. Menangis ketika sedih. Meminta bantuan ketika lelah. Berdoa ketika takut. Dan tetap melangkah, satu hari demi satu hari. Kini aku tidak lagi mengatakan kepada diriku, “Aku harus kuat dan tidak boleh takut.” Aku memilih mengatakan: “Aku takut, tetapi aku akan menjalaninya.” Kalimat sederhana itu ternyata jauh lebih jujur.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar