Kemerdekaan yang Baru Aku Pahami Ketika Dihantam Realita
Hari ini adalah hari yang selalu aku istimewakan 17 Agustus. Sejak berada di bangku sekolah dasar, aku ikut merasakan bagaimana para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dan mempertahankan kehormatan bangsa dengan tetesan darah, keringat dan air mata. Ya, sejarah mencatat 17 Agustus 1945 adalah hari lahinya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Sejak saat itu dan sampai detik ini, peringatan 17 Agustus tetap menggaung di seluruh pelosok negeri. Bendera merah putih berkibar di depan rumah. Lagu-lagu perjuangan terdengar di berbagai tempat. Anak-anak berlari mengikuti berbagai perlombaan. Upacara digelar. Orang-orang mengenakan pakaian bernuansa merah dan putih. Semua itu untuk merayakan Kemerdekaan.
Dulu, kemerdekaan bagiku adalah semua hal yang bertalian dengan para pahlawan yang berjuang melawan penjajahan. Aku tahu bahwa kemerdekaan diperoleh dengan perjuangan. Tetapi semakin bertambah usia, semakin aku menyadari bahwa ternyata manusia memiliki banyak bentuk perjuangan. Tidak semuanya terjadi di medan perang. Dan mungkin, salah satu perjuangan terbesar dalam hidup adalah perjuangan untuk tetap menjadi manusia ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Jika aku melihat diriku yang dulu, mungkin aku tidak akan percaya bahwa suatu hari nanti aku akan menulis tentang hal-hal seperti kehilangan, sakit, ketakutan, dan perjuangan. Masa kecil dan masa mudaku tidak membuatku mengenal dunia seperti yang sekarang kujalani. Aku mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang memiliki lebih banyak pengalaman, lebih banyak tanggung jawab, atau lebih banyak kemampuan untuk mengambil keputusan. Menjadi dewasa ternyata juga berarti belajar menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dan kehidupan mulai mengajarkanku pelajaran itu satu demi satu.
Aku pernah kehilangan anakku. Sampai hari ini, kalimat itu masih terasa berat untuk ditulis. Ada peristiwa dalam hidup yang tidak mudah dijelaskan. Bukan karena tidak memiliki cerita, tetapi karena ada perasaan yang terlalu dalam untuk diterjemahkan menjadi kata-kata. Semua yang dahulu mungkin kita anggap biasa, ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat kita syukuri ketika kita menyadari bahwa tidak ada satu pun hari yang benar-benar bisa kita pastikan.
Belum selesai aku memahami kehilangan, kehidupan kembali memperkenalkanku pada rasa takut. Suamiku sakit dan selanjutnya aku juga. Bukan hanya sekali. Beberapa kali kehidupan memaksaku berada pada posisi sebagai seseorang yang menunggu, berharap, berdoa, dan mencoba tetap kuat. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan ketika seseorang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kita tiba-tiba berada dalam keadaan yang membuat kita sadar bahwa manusia begitu rapuh. Namun syukurlah, kami masih diberi kesempatan untuk bisa menjalani hari.
Hari ini, ketika Indonesia merayakan ke-81 tahun kemerdekaannya, aku justru melihat kata merdeka dengan cara yang berbeda. Aku teringat kepada para pejuang yang dahulu memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Mereka menghadapi ketakutan. Mereka menghadapi ketidakpastian. Mereka menghadapi kehilangan. Namun mereka tetap memilih untuk berjuang. Dan mungkin, dalam skala kehidupan yang sangat berbeda, setiap manusia juga memiliki medan perjuangannya masing-masing. Seperti aku sekarang. Aku sedang berjuang berusaha bangkit setelah kehilanagn, berjuang menyembuhkan tubuh dan akhirnya belajar menerima keadaan.Aku setiap hari terlihat baik-baik saja, padahal sedang berusaha keras agar diriku tidak menyerah pada kesedihan. Aku tidak berdiri di medan perang, tidak juga membawa senjata tapi aku sedang berjuang.
Jika tulisan ini suatu hari dibaca oleh seseorang yang sedang berada di titik sulit dalam hidupnya, aku ingin mengatakan sesuatu:
Kamu tidak harus selalu terlihat kuat.
Tidak apa-apa jika hari ini kamu lelah.
Tidak apa-apa jika kamu menangis.
Tidak apa-apa jika kamu masih belajar menerima.
Karena hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling kuat.
Kadang-kadang, keberanian paling sederhana adalah bangun keesokan harinya dan berkata:
“Aku akan mencoba lagi hari ini.”
Maka hari ini, ketika merah putih berkibar, aku tidak hanya mengenang kemerdekaan Indonesia. Aku juga ingin merayakan sebuah kemerdekaan kecil di dalam diriku. Kemerdekaan untuk menerima bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana. Kemerdekaan untuk berdamai dengan masa lalu. Kemerdekaan untuk mengakui bahwa aku pernah rapuh. Kemerdekaan untuk tetap berharap.
Dan kehidupan, betapapun beratnya, masih layak untuk dijalani dengan penuh harapan.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Untuk negeri yang telah mengajarkan arti kemerdekaan.
Dan untuk diriku sendiri yang masih terus belajar memerdekakan hati, menerima kehidupan, dan menjadi manusia.
Hari ini adalah hari pertama dari 30 hari perjalananku. Bukan perjalanan untuk menceritakan betapa berat hidupku. Melainkan perjalanan untuk menceritakan apa yang telah kehidupan ajarkan padaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar