Ada Syukur yang Baru Kurasa Setelah Aku Mengenal Sakit
Menyadari Arti Syukur
Aku baru menyadari, ternyata selama ini aku benar-benar belum memahami arti syukur. Aku menganggap hari-hari seperti biasa saja yang jarang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Aku menjalaninya tanpa banyak berpikir bahwa di balik semua aktivitas sederhana itu, ada satu hal yang sebenarnya sangat mahal yakni kesempatan untuk hidup. Sampai suatu hari, suamiku sakit dan bahkan berkali-kali yang hampir mengancamnya. Lalu, aku juga tertimpa penyakit yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dan memerlukan pengobatan yang lumayan lama untuk kembali normal. Aku baru benar-benar memahaminya setelah sakit datang dalam hidupku. Ketika tubuhku sendiri mulai meminta perhatian, ketika aku harus menjalani pengobatan dan belajar lebih peduli pada kondisi tubuh, perlahan aku mulai melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Pelajaran tentang kesehatan tidak hanya datang dari tubuhku sendiri. Aku melihatnya lebih dekat lagi melalui perjalanan suamiku. Berkali-kali ia harus mendapatkan perawatan. Berkali-kali pula kami berada dalam situasi yang membuat hatiku tidak tenang. Ada masa ketika kondisinya begitu serius hingga aku benar-benar takut. Takut mendengar kabar berikutnya. Takut melihat keadaan yang tidak sesuai harapan. Takut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin dipikirkan. Belum selesai satu kekhawatiran, datang lagi kekhawatiran berikutnya. Belum sepenuhnya pulih, ada lagi yang harus kami hadapi. Aku mendampinginya menjalani perawatan, melihatnya berusaha bangkit, kemudian belajar kembali menjalani kehidupan dengan lebih hati-hati. Di saat yang sama, aku sendiri masih harus berjuang dengan kondisi tubuhku dan menjalani pengobatan. Kami seperti sedang belajar satu hal yang sama dari dua arah yang berbeda yakni kesehatan tidak boleh lagi dianggap sebagai sesuatu yang pasti.
Sebenarnya, Aku Merasa Lelah
Ada hari-hari ketika aku merasa lelah. Bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat, tetapi pikiran juga. Aku seorang istri dari suami yang berkali-kali harus mendapatkan perawatan membuatku belajar mengenal rasa cemas dengan cara yang berbeda. Aku belajar menunggu, belajar memperhatikan perubahan kecil, dan belajar menguatkan orang lain ketika sebenarnya aku sendiri juga membutuhkan kekuatan. Semua itu terekam di alam bawah sadarku dan ternyata itu tidak benar-benar hilang ketika semuanya mulai terlihat baik-baik saja. Rasa cemas dan khawatir itu masih rapi tersembunyi dalam diriku.
Aku bisa tersenyum, bisa bekerja, bisa berbicara seperti biasa, dan bisa menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Dari luar, mungkin tidak ada yang melihat sesuatu yang berbeda. Tetapi ada bagian dalam diriku yang sesekali berkata, “Aku lelah.” Bukan lelah karena harus merawat suami ataupun diriku sendiri, tapi justru karena cinta dan kasih sayang. Setiap kali ia sakit, sebagian dari diriku ikut merasa sakit. Setiap kali ia harus dirawat, ada ketakutan kehilangan yang kembali mengetuk. Dan setiap kali ia mulai membaik, aku mencoba menarik napas panjang sambil berharap, semoga kali ini kami benar-benar bisa menikmati hari-hari yang tenang. Namun, hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada saja hal yang membuatku kembali waspada dan kembali cemas.
Aku juga baru menyadari bahwa selama ini aku terlalu sering mengatakan kepada diriku sendiri, “Aku harus kuat.” Aku harus kuat untuk suami. Aku harus kuat untuk anak. Aku harus kuat untuk keluarga. Aku harus kuat untuk pekerjaan. Aku harus kuat menghadapi semuanya. Sampai akhirnya aku lupa bahwa kuat bukan berarti tidak pernah lelah. Kuat bukan berarti tidak boleh menangis. Kuat bukan berarti harus selalu terlihat baik-baik saja. Kadang-kadang, kuat justru berarti berani mengakui, “Hari ini aku sedang tidak baik-baik saja.” Dan setelah mengakuinya, aku belajar memberi ruang kepada diriku sendiri untuk beristirahat.
Aku tidak harus mengetahui apa yang akan terjadi besok untuk bisa bersyukur hari ini
Aku tidak harus memiliki jaminan bahwa suamiku tidak akan sakit lagi. Aku tidak harus menunggu tubuhku benar-benar bebas dari segala keluhan untuk menghargai setiap kemampuan yang masih kumiliki. Aku hanya perlu melihat apa yang ada di hadapanku sekarang. Suamiku masih di sini. Anakku masih bisa bercanda denganku. Aku masih bisa bekerja. Aku masih bisa belajar. Aku masih bisa berdoa.
Dan yang paling sederhana, aku masih bisa bernapas. Mungkin itulah cara Tuhan mengajariku tentang syukur. Bukan dengan membuat hidup selalu mudah. Tetapi, dengan membuatku sadar bahwa hari-hari yang terlihat biasa ternyata adalah hari-hari yang sangat berharga. Selama Tuhan masih memberiku napas, selalu ada alasan untuk melanjutkan langkah kakiku.
Sakit membuatku mengerti bahwa semua itu tidak boleh dianggap remeh. Kesehatan adalah amanah. Waktu adalah kesempatan. Kehadiran adalah anugerah. Dan kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani dengan lebih sadar. Aku tidak tahu berapa panjang jalan yang masih Tuhan berikan kepada kami. Aku juga tidak tahu ujian apa yang mungkin masih menunggu di depan. Tetapi, aku tidak ingin lagi menghabiskan hari hanya dengan takut pada apa yang belum terjadi. Aku ingin menjalani hari ini, menjaga tubuh hari ini dan mencintai keluarga hari ini.
Kini aku mengerti, ada syukur yang tidak pernah kukenal sebelum aku mengenal sakit. Syukur yang tidak lahir karena hidupku sudah sempurna. Tetapi, justru karena aku pernah melihat betapa rapuhnya kehidupan yang telah aku jalani. Aku bersyukur bukan karena tidak pernah sakit. Aku bersyukur karena di tengah sakit, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup, belajar, mencintai, memperbaiki diri, dan menikmati hari-hari sederhana yang dulu sering kuanggap biasa. Dan hari ini, jika aku masih bisa membuka mata, menarik napas, dan menjalani hari seperti biasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku berkata, “Terima kasih, Tuhan. Aku masih diberi kesempatan.”
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar