Aku Kembali Terdiam Ketika Badai Kembali Mengetuk Pintu
Oh Tuhan, mengapa datang lagi
Kupikir hadiah yang dianugerahkan setelah apa yang telah aku lewati hanyalah merupakan jalan untuk bernapas sedikit lega. Ternyata, hidup kembali mengetuk pintu dengan kabar yang tidak pernah kami tunggu. Baru beberapa hari kami mulai menata kembali kehidupan setelah operasi, musibah itu datang lagi. Ya, suamiku kecelakaan. Seketika tubuhku terasa kaku. Aku tercengang seolah pikiranku berhenti bekerja untuk beberapa saat.“Oh, Tuhan kok terjadi lagi...” Itu yang pertama kali muncul di kepalaku.
Baru saja aku belajar menguatkan diri setelah melewati ruang operasi. Baru saja aku mulai percaya bahwa badai besar sudah berlalu. Mengapa sekarang harus ada kejadian lagi? Aku kembali merasakan ketakutan yang sebenarnya belum sempat hilang sepenuhnya.Ketakutan melihatnya kembali berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ketakutan harus kembali berhadapan dengan rumah sakit, tindakan medis, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Aku bahkan sempat merasa seperti sedang berdiri di tempat yang sama. Padahal baru saja aku keluar dari sana.
Aku Merasa Syok lagi
Aku syok bukan hanya karena kecelakaannya, tetapi karena aku merasa sangat lelah. Lelah secara fisik. Lelah secara pikiran. Lelah karena setiap kali mulai merasa sedikit tenang, selalu ada sesuatu yang kembali membuat jantungku berdegup lebih cepat. Ada bagian dalam diriku yang ingin berkata, “Aku sudah cukup kuat. Tolong jangan beri aku ketakutan lagi.” Tetapi, hidup tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap menerima sebuah ujian. Ia hanya datang. Dan ketika itu terjadi, aku kembali duduk dalam diam, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Aku memandang suamiku. Orang yang beberapa hari sebelumnya baru saja berjuang melewati operasi besar. Orang yang baru saja mulai belajar memulihkan tubuhnya. Dan sekarang, sebuah kecelakaan kembali membuatku harus menahan napas. Saat itu, pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Mengapa harus lagi? Mengapa ketika baru saja mulai pulih, harus datang musibah lain? Mengapa rasanya ujian datang begitu berdekatan? Aku tidak tahu jawabannya.
Dan kali ini aku tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua ini adalah takdir buruk. Aku hanya seorang manusia yang sedang takut. Seorang istri yang kembali melihat orang yang dicintainya berada dalam keadaan yang membuat hati tidak tenang. Sehingga, wajar jika aku bertanya. Wajar jika aku menangis. Wajar jika aku merasa lelah. Wajar jika untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Ada rasa takut yang ternyata belum benar-benar sembuh. Aku baru menyadari bahwa setelah melewati masa kritis, bukan berarti ketakutan langsung hilang. Kadang tubuh kita sudah berada di rumah. Tetapi, pikiran masih tertinggal di ruang operasi. Kadang seseorang sudah membuka mata dan berbicara kepada kita. Tetapi hati masih menyimpan bayangan tentang kemungkinan terburuk yang pernah kita takutkan. Dan ketika kecelakaan itu terjadi, semua rasa takut itu seperti kembali dibangunkan.Aku kembali teringat pada hari ketika pintu ruang operasi tertutup. Kembali teringat pada saat aku hanya bisa duduk dan berdoa.
Aku kembali belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah satu menit berikutnya. Kemarin kami sedang memikirkan makanan apa yang baik untuk pemulihan. Hari ini kami kembali dihadapkan pada kecemasan. Kemarin aku mulai berani membayangkan suamiku kembali beraktivitas. Hari ini aku kembali takut semuanya harus dimulai dari awal. Begitulah hidup. Aku hanya bisa, “Tuhan, lindungi dia. Berikan kami kekuatan untuk melewati ini. Jangan biarkan rasa takut membuat kami kehilangan harapan.”
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar