Minggu, 06 September 2026

Pintu Ruang Operasi Terbuka, Tetapi Kecemasanku Belum Usai

 Pintu Ruang Operasi Terbuka, Tetapi Kecemasanku Belum Usai



Pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Setelah berjam-jam duduk dalam ketidakpastian, setelah hati berkali-kali bergetar oleh kemungkinan terburuk, akhirnya pintu itu terbuka juga. Aku menuju ke arah pintu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada lega, ada takut, ada harapan, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ketika akhirnya suamiku keluar dari ruang operasi, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kulupakan. Tuhan menjawab doa-doaku dengan cara yang tidak pernah kuduga. Operasi berjalan lancar. Keajaiban itu ada di sana. Aku masih mengingat bagaimana dokter menyampaikan bahwa suamiku bisa segera sadar setelah operasi. Bahkan dokter merasa heran karena untuk kondisi seperti yang dialaminya, biasanya pasien membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali sadar. Menurut penjelasan dokter kepadaku, pada kondisi seperti itu, pasien biasanya dapat membutuhkan waktu hingga sekitar kurang lebih dua hari untuk sadar. Tetapi suamiku berbeda. Ia bisa sadar lebih cepat. Dan, ketika aku mendekatinya, ia bisa mengenaliku. Saat itu, rasanya seperti mendapatkan kembali sesuatu yang sempat kupikir mungkin akan hilang. Aku melihat sorot matanya. Aku mendengar responsnya. Dan yang paling membuat hatiku bergetar, ia masih mengenaliku. Bukan hanya itu. Ia juga masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik.

Satu demi satu kekhawatiran yang selama berjam-jam menghantuiku seolah dipatahkan. Kemungkinan-kemungkinan buruk yang terus berputar di kepalaku tidak terjadi. Ketakutan yang sejak tadi kubawa di dalam hati perlahan runtuh satu per satu. Aku hanya bisa terdiam mungkin karena terlalu lega, mungkin karena terlalu lelah. Atau mungkin karena aku sendiri tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan rasa syukur yang begitu besar. Aku hanya ingin menangis bukan karena sedih. Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seperti baru saja dikembalikan kepada sebuah harapan.

Kecemasanku masih belum berakhir total 
Namun ternyata, pintu ruang operasi yang terbuka bukan berarti semua kecemasan ikut keluar bersamanya. Operasi memang telah selesai. Tetapi perjuangan belum benar-benar berakhir. Masih ada masa kritis yang harus dilewati. Masih ada kesadaran yang harus terus dipantau. Masih ada perkembangan kondisi yang harus diamati. Masih ada perubahan kecil yang membuatku kembali bertanya-tanya. Dan aku kembali belajar tentang satu kata yang sebenarnya sudah sangat kukenal: Menunggu

Aku kembali menunggu. Tetapi kali ini, rasanya berbeda. Jika sebelumnya aku menunggu apakah operasi akan berhasil, sekarang aku menunggu bagaimana tubuhnya akan merespons setelah tindakan. Aku memperhatikan wajahnya. Aku memperhatikan gerakannya. Aku memperhatikan responsnya.Aku mencoba membaca setiap perubahan kecil yang terjadi. Kadang ketika ia terlihat lebih tenang, hatiku ikut tenang.
Ketika ada sesuatu yang berbeda, pikiranku kembali dipenuhi pertanyaan.
Apakah ini normal?
Apakah kondisinya semakin baik?
Berapa lama sampai ia benar-benar pulih?
Apakah setelah ini semuanya akan kembali seperti dulu?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang bisa kudapatkan saat itu juga. Dan itulah bagian tersulitnya. Aku menunggu sambil tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi.Namun kali ini aku belajar untuk tidak membiarkan ketakutan mengambil seluruh ruang di dalam pikiranku. Aku mencoba mengingat satu hal: Bukankah hari ini Tuhan sudah menunjukkan sebuah keajaiban? 
Ketika aku takut ia tidak sadar dalam waktu dekat, ia justru sadar lebih cepat.
Ketika aku takut ia tidak mengenaliku, ia justru mengenaliku.
Ketika aku takut akan terjadi sesuatu pada gerak tubuhnya, ia masih mampu menggerakkannya dengan baik.
Bukankah itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur?
Maka ketika kecemasan kembali datang, aku mencoba mengingat semua itu.

Ada sesuatu yang berubah dalam diriku setelah hari itu. Aku mulai memahami bahwa dalam perjalanan menghadapi sakit, kita tidak selalu membutuhkan jawaban untuk semua hal. Kadang kita hanya membutuhkan kekuatan untuk melewati satu tahap demi satu tahap. Hari ini menunggu operasi. Besok menunggu kesadaran. Setelah itu menunggu perkembangan. Kemudian menunggu tubuh kembali kuat. Dan entah berapa lama lagi sampai kehidupan benar-benar kembali seperti sebelumnya. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikan. Tetapi, aku belajar bahwa tidak semua ketidakpastian harus dijawab dengan ketakutan. Sebagian cukup dijalani dengan doa, kesabaran, dan kepercayaan. 

“Terima kasih, Tuhan.”
Terima kasih karena telah mendengarkan doa-doa yang kupanjatkan dengan hati gemetar.
Terima kasih karena telah menjaga tangannya selama berada di ruang operasi.
Terima kasih karena telah mengizinkannya kembali membuka mata.
Terima kasih karena ketika aku takut ia mungkin tidak lagi mengenaliku, ia justru memandangku dengan tatapan yang masih kukenal.
Tetapi setelah ucapan syukur itu, aku kembali menitipkan satu doa.
Tuhan, jangan berhenti menjaganya.” Karena aku tahu, perjalanan ini masih panjang.




MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI. 
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”

Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar