Ternyata Kehidupan Tidak Selalu Datang untuk Menyakiti
“Mengapa harus aku?”
Setiap kali sesuatu yang tidak kuinginkan datang, pertanyaan yang muncul di dalam hati hampir selalu sama, “Mengapa harus aku?” Ketika kehilangan datang, aku bertanya. Ketika orang yang kucintai jatuh sakit, aku takut. Ketika keadaan mulai membaik lalu musibah kembali datang, aku kembali bertanya. Ketika aku sendiri berjuang melawan penyakitku, aku bertanya lagi. Seolah-olah kehidupan sedang berdiri di hadapanku dengan membawa satu ujian demi satu ujian, tanpa memberiku cukup waktu untuk menarik napas. Ada saat ketika aku merasa terlalu lelah untuk memahami semuanya. Aku hanya tahu bahwa aku takut. Takut kehilangan lagi. Takut mendengar kabar buruk lagi. Namun, semakin panjang perjalanan itu kulalui, semakin aku menyadari sesuatu. Mungkin kehidupan tidak selalu datang untuk menyakitiku. Mungkin aku hanya terlalu sibuk merasakan sakitnya, sampai belum mampu melihat apa yang sedang diajarkannya.
Pengalaman perlahan mengubah cara pandangku. Aku mulai memahami bahwa kehidupan tidak pernah hanya terdiri dari hari-hari yang mudah.
Ada pertemuan.
Ada perpisahan.
Ada kelahiran.
Ada kehilangan.
Ada kesehatan.
Ada sakit.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada sesuatu yang datang ketika kita siap, dan ada pula sesuatu yang datang ketika kita sama sekali belum siap. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan manusia. Dan dalam keyakinanku, kehidupan juga tidak terlepas dari karma yakni tentang sebab dan akibat, tentang perjalanan perbuatan yang membawa kita pada pengalaman tertentu. Aku tidak ingin menjadikan karma sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri atau menghakimi siapa pun. Bagiku, karma justru mengajarkan sebuah kesadaran: bahwa setiap tindakan memiliki makna, setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan setiap pengalaman dapat menjadi ruang untuk belajar.
Ada Peristiwa yang Baru Bisa Kupahami Setelah Aku Melewatinya
Aku pernah berpikir bahwa kehilangan hanya meninggalkan kehampaan. Ternyata tidak. Ia memang meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Tetapi di ruang kosong itu, aku belajar menghargai keberadaan. Aku belajar bahwa kehadiran seseorang bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Aku belajar memeluk lebih erat. Begitu pula ketika suamiku sakit. Pada awalnya, yang kulihat hanya ketakutan. Aku melihat rumah sakit. Aku melihat masa-masa menunggu. Aku melihat wajah yang membuatku cemas. Aku melihat kehidupan yang tiba-tiba harus berubah. Tetapi, setelah melewati semuanya, perlahan aku melihat sisi lain. Aku belajar tentang kesehatan. Aku belajar tentang kesabaran. Aku belajar tentang merawat. Aku belajar memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak lagi hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Aku mulai bertanya, “Apa yang sedang diajarkan kehidupan kepadaku melalui semua ini?” Pertanyaan itu tidak serta-merta menghilangkan rasa takut. Tetapi, membuatku memiliki cara baru untuk memandangnya.
Hidup Ternyata Sedang Mengajarkanku Menjadi Lebih Cerdas
Aku menggunakan kata cerdas bukan hanya dalam arti mampu mengetahui banyak hal. Tetapi, cerdas dalam menjalani kehidupan. Ya, aku harus erdas memilih. Aku harus cerdas menjaga diri. Aku harus cerdas memperlakukan orang lain. Aku harus cerdas menghargai waktu. Aku harus cerdas memahami bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan. Aku juga harus cerdas membedakan mana yang harus diperjuangkan dan mana yang harus diserahkan kepada Tuhan. Karena hidup tidak selalu mengajarkan sesuatu melalui buku. Kadang kehidupan menjadi guru yang datang melalui pengalaman. Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah kita menangis. Ada kedewasaan yang lahir setelah kita kehilangan. Ada kebijaksanaan yang tumbuh setelah kita melewati ketakutan. Dan ada ketenangan yang baru ditemukan setelah kita berkali-kali belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Ternyata, pengalaman yang pahit pun bisa menjadi guru yang sangat jujur. Ia tidak selalu datang untuk membuat kita menderita. Kadang ia datang untuk membuat kita lebih sadar.
Ternyata Kehidupan Tidak Selalu Datang untuk Menyakiti
Setelah begitu banyak hal kulewati, aku akhirnya berani melihat kehidupanku dari sudut yang berbeda. Aku ingin melihatnya sebagai sebuah perjalanan pembelajaran. Kehidupan mungkin datang membawa sesuatu yang tidak kupilih. Tetapi, dari sana aku bisa memilih untuk belajar. Belajar menjadi lebih peka, lebih berhati-hati. lebih menghargai, Lebih bijaksana, lebih dekat kepada Tuhan. Dan lebih sadar bahwa setiap hari yang masih diberikan adalah kesempatan. Mungkin hidup memang tidak selalu datang untuk menyakiti. Kadang ia datang untuk membuka mata. Kadang untuk mengubah arah. Kadang untuk mengajarkan sesuatu yang tidak pernah bisa diajarkan oleh keadaan yang terlalu mudah. Dan mungkin, pada akhirnya, semua perjalanan itu sedang membentuk kita menjadi versi diri yang lebih matang dalam menjalani kehidupan. Aku belum tahu seluruh makna dari perjalanan yang telah kulewati. Aku percaya di balik setiap peristiwa, selalu ada sesuatu yang bisa kupelajari.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar