Ada Luka yang Tak Sanggup Kuceritakan
Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya
Hatiku menyimpan kepedihan yang tak cukup dijelaskan dengan barisan kata yang rapi. Aku sudah terjun bebas dan terjatuh di titik terendah dalam kehidupanku. Ternyata, inilah realita yang aku hadapi. Aku merasa hidupku sudah berada dalam aliran gelombang yang sedang menghantamku dengan keras. Inilah luka yang kubawa setelah kehilangan anakku. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Bukan karena aku tidak ingin bercerita, tetapi karena ada perasaan yang terlalu penuh untuk diterjemahkan menjadi kalimat.
Aku Menunggu seseorang yang kehadirannya sudah membuatku menyusun banyak harapan.Aku belum tahu wajahnya seperti apa, tetapi aku sudah mengenalnya melalui rasa cinta. Begitulah ajaibnya menjadi seorang ibu. Seseorang bisa begitu dicintai bahkan sebelum sempat benar-benar dikenal. Setiap hari penantian terasa seperti langkah menuju sebuah pertemuan. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya tumbuh. Aku ingin merawatnya. Aku ingin menjadi ibunya selama mungkin. Namun kehidupan ternyata memiliki halaman yang tidak pernah kubayangkan.
Ketika akhirnya aku harus kehilangan anak yang begitu lama kutunggu, rasanya seperti kehilangan sebuah masa depan yang belum sempat terjadi. Bukan hanya kehilangan seorang anak. Aku juga kehilangan banyak bayangan tentang hari-hari yang pernah kubayangkan bersamanya. Sejak kehilangan anakku, dunia terasa berubah. Padahal pagi tetap datang seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap menjalani kesibukannya. Rumah tetap berdiri di tempat yang sama. Kehidupan di sekelilingku seolah tidak pernah berubah. Tetapi di dalam diriku, ada sesuatu yang tidak lagi sama. Aku yang sebelumnya menatap hari dengan harapan, tiba-tiba lebih sering menatapnya dengan kesedihan. Aku sering bertanya dalam hati, mengapa semua ini terjadi kepadaku?
Ada hari-hari ketika aku merasa menjadi orang yang paling terluka di dunia. Saat itu, rasa sakitku terasa begitu penuh hingga seolah tidak ada ruang untuk merasakan apa pun selain kehilangan. Aku membawa kesedihan itu ke mana-mana. Saat melihat bayi orang lain, hatiku teringat kepadanya. Saat mendengar tangisan bayi, pikiranku membayangkan suaranya. Saat melihat seorang ibu menggendong anaknya, aku membayangkan seharusnya aku juga sedang melakukan hal yang sama. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya biasa saja tiba-tiba menjadi begitu berarti. Aku sering membayangkan bagaimana jika ia masih ada. Bagaimana wajahnya ketika tumbuh besar. Bagaimana suaranya memanggilku. Bagaimana ia bermain bersama kakaknya.
Semua itu menjadi bagian dari luka yang tidak mudah kuceritakan. Namun, di tengah kesedihan itu, perlahan aku belajar satu hal: berduka bukan berarti aku harus berhenti hidup. Aku boleh merindukannya. Aku boleh menangisinya. Aku boleh mengingatnya. Aku boleh bertanya kepada Tuhan ketika hatiku belum mengerti. Tetapi suatu hari nanti, aku juga harus belajar membawa kenangan itu tanpa membiarkannya menghentikan langkahku. Karena mungkin, mencintai anak yang telah pergi bukan berarti terus hidup di masa lalu. Mencintainya juga berarti melanjutkan kehidupan dengan membawa cinta itu sebagai bagian dari diriku.
Luka Itu Masih Ada, Tetapi Aku Tidak Lagi Takut Membawanya
Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sudah sepenuhnya melupakan kesedihan itu. Tidak. Ada bagian dari diriku yang akan selalu mengingatnya. Namun kini aku mulai memahami bahwa membawa kenangan bukan berarti harus terus hidup dalam kesedihan. Aku boleh tersenyum lagi. Boleh bahagia lagi. Boleh melanjutkan kehidupan. Dan tetap boleh mengingat seseorang yang pernah begitu berarti. Mungkin begitulah cara hati belajar sembuh: bukan dengan menghapus luka, tetapi dengan memberinya tempat yang layak di dalam perjalanan hidup.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:



