Rangkaian Ujian Itu Membuatku Takut, Tetapi Doa Membuatku Tetap Bertahan
Ternyata belum tentu bisa menarik napas panjang
Aku terdiam dalam keheningan seraya bertanya kepada diriku sendiri, seberapa kuat sebenarnya seseorang bisa bertahan ketika ujian datang berkali-kali? Aku pernah berpikir bahwa setelah satu badai berlalu, kehidupan akan memberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang. Ternyata tidak selalu. Belum selesai satu rasa kehilangan kupahami, datang ujian lain. Belum selesai hatiku belajar menerima, kehidupan kembali mempertemukanku dengan ketakutan. Ketika suamiku sakit, aku belajar menunggu. Ketika ia harus menjalani operasi, aku belajar menyerahkan. Ketika ia mulai pulih, aku belajar merawat. Dan ketika aku mulai percaya bahwa keadaan perlahan membaik, musibah kembali datang. Aku takut. Sangat takut. Ada saat-saat ketika tubuhku tetap bergerak menjalankan apa yang harus dilakukan, tetapi pikiranku penuh dengan pertanyaan yang tidak mampu kujawab.
Menjadi seorang istri membuatku belajar bahwa ada ketakutan yang harus disimpan sementara agar aku tetap bisa melakukan apa yang diperlukan. Ketika suamiku sakit, aku harus tetap berpikir. Ketika ia membutuhkan pertolongan, aku harus mengambil keputusan. Ketika dokter menjelaskan kondisi dan berbagai kemungkinan, aku harus mendengarkan meskipun hatiku sebenarnya ingin menutup telinga. Ketika malam tiba dan keadaan mulai sunyi, barulah semua rasa takut itu datang kembali. Saat itulah aku menyadari bahwa kuat bukan berarti tidak takut. Aku pernah merasa seperti tidak sanggup lagi menerima kabar buruk berikutnya. Tetapi setiap kali rasa takut itu datang, ada satu hal yang selalu kucari yakni Doa.
Ketika Aku Tidak Tahu Harus Berbuat Apa, Aku Hanya Berdoa
Ada banyak keadaan yang tidak bisa kuselesaikan dengan kekuatanku sendiri. Aku tidak bisa mengatur bagaimana sebuah tindakan medis akan berlangsung. Aku tidak bisa menentukan bagaimana tubuh seseorang merespons pengobatan. Aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Aku juga tidak bisa memastikan bagaimana hari esok akan berjalan. Pada titik itulah aku belajar bahwa ada batas bagi kemampuan manusia. Dan ketika sampai pada batas itu, aku memilih untuk berserah kepada Tuhan. Bukan karena aku menyerah terhadap kehidupan. Justru karena aku ingin tetap memiliki kekuatan untuk menjalaninya. Aku berdoa. Aku hanya duduk diam, menundukkan kepala, menarik napas, Lalu dalam hati berkata, “Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku serahkan semuanya kepada-Mu.”
Aku tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Doa membuatku memiliki tempat untuk meletakkan segala sesuatu yang terlalu berat untuk kupikul sendiri. Ketika pikiranku tidak mampu menemukan jalan keluar, aku menyerahkannya kepada Tuhan. Ketika aku tidak mampu mengendalikan keadaan, aku belajar menerima bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kuasaku. Dan ketika aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, aku belajar mempercayakan esok kepada-Nya.
Ada Hari Ketika Aku Hanya Mampu Bertahan
Aku tidak ingin mengatakan bahwa sepanjang perjalanan ini aku selalu kuat. Tidak. Ada hari ketika aku hanya mampu bertahan sampai hari itu berakhir. Ada malam ketika aku hanya ingin memejamkan mata dan berhenti memikirkan segala kemungkinan. Ada pagi ketika aku bangun dengan perasaan berat, tetapi tetap memulai hari karena ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Mungkin itulah bentuk kekuatan yang sebenarnya. Bukan selalu berdiri dengan gagah. Kadang kekuatan hanya berarti bangun lagi, melangkah lagi, berdoa lagi dan mencoba lagi. Dan mempercayai bahwa satu hari yang berat tidak berarti seluruh kehidupan akan selalu berat.
Kini aku mulai memahami sesuatu. Aku mungkin tidak bisa meminta agar hidup tidak pernah menghadirkan badai. Aku tidak bisa meminta agar keluargaku selalu terbebas dari sakit. Aku tidak bisa memastikan bahwa tidak akan ada lagi kabar yang membuatku terkejut. Tetapi aku bisa meminta kepada Tuhan agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apa pun yang datang. Aku bisa meminta hati yang lebih lapang. Pikiran yang lebih tenang. Kesabaran yang lebih panjang. Dan keyakinan bahwa setiap langkah tetap berada dalam tuntunan-Nya. Karena mungkin yang perlu kuubah bukan selalu keadaan di luar diriku. Kadang, Tuhan sedang mengajarkanku menguatkan sesuatu di dalam diriku.
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Artikel ini ditulis dalam rangka Lomba Blog HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Omjay Guru Blogger Indonesia, dengan semangat “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri.”
Kunjungi Omjay Guru Blogger Indonesia:





