Jumat, 26 Maret 2021

Sepenggal Kenangan Seorang Ibu

 


Ceria Menantimu, Lara Kau Tinggalkan

(Sepenggal Kenangan Seorang Ibu)

 

   Tidak seperti biasanya yang sore hariku dihabiskan dengan duduk di kanopi rumah sambil asyik mengotak-atik HP dan laptop berselancar di dunia maya untuk mengakses informasi ataupun sekedar berkunjung ke jejaring sosialku, sore yang mendung ini hanya kurasakan nyaman bergolekan di atas sofa tidurku yang empuk. Tatkala memanjakan hariku, datanglah Radeva, putra semata wayang aku yang baru menginjak usia lima setengah tahun. Dia selalu membuat laporan padaku  tiap kali melakukan sesuatu, termasuk saat ini yang nyelonong masuk memberitahuku kalau dia kangen dengan adiknya sambil membawa album foto.

“Bu, Deva kangen sama adiknya,” ungkap Radeva kepadaku sambil menunjukkan foto adiknya di album.

“Iya, ibu juga selalu kangen sama adiknya Deva,” Jawabku.

“Yuk, putar musiknya adik, bu,” Pinta dia sambil merengek meraih lenganku.

“Ya, lah. Sini dong, deket Ibu dengerin lagunya adik bersama-sama,” Kataku sembari meraih handphoneku di bawah bantal. Dalam hati dan pikiranku, aku akan terbawa dalam deraian kenangan pilu setahun silam jika mendengarkan alunan-alunan musik yang menyentuh kalbu itu.

Kala itu  tertanggal 19 Maret 2019, Tuhan memberiku kejutan yang tak terduga. Tes pack menunjukkan bahwa aku positif. Wah, bahagianya hatiku dan suamiku melihat hasil tes tersebut. Ini merupakan anugerah ketiga dalam bahtera rumah tangga kami sejak Januari 2014 lalu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menelpon dokter kandungan yang biasa melayaniku. Tentunya aku dan suamiku ingin check-up memastikan kondisi janin yang mulai berkembang di rahimku. Sore hari itu yang mana sang surya mulai tenggelam ke peraduannya, aku dan suamiku bersiap berangkat untuk check-up kandungan ke klinik yang bisa ditempuh sekitar satu jam dari rumahku. Tetapi, keberangkatan kami akan terasa ada yang kurang jika aku belum meminta ijin dari putraku, Radeva. Kliniknya lumayan jauh, sehingga kami memutuskan untuk tidak mengajaknya karena pastinya akan pulang malam.

“Deva, ibu mau ke dokter diantar bapak sekarang. Deva baik-baik ya di rumah bersama kakek.” Pesanku terhadap Radeva.

“Iya, gak boleh nakal dan menyusahkan kakek, ya, Nak!” Tambah suamiku.

“Lho, memangnya siapa yang sakit, kok ke dokter?” Tanya Radeva.

 “Kalau ke dokter tidak hanya karena sakit, tetapi juga untuk konsultasi atau bertanya, Sayang. Sekarang ibu pergi ke dokter hanya untuk bertanya dan konsultasi.” Terang aku dengan lirih. Memang anakku tidak akan pernah puas kalau informasi yang didapatkan tidak lengkap. Aku dan suamiku memang terbiasa memberikan informasi sejelas-jelasnya sebab jika tidak demikian, dia akan kecewa dan ngambek. Dia selalu ingin tahu lebih banyak tentang apapun itu. Benar-benar curious istilahnya.

“Oke, dah kalau begitu. Hati-hati, ya!” Sarannya dengan singkat seraya melambaikan tangannya tanda selamat jalan. Tumben juga tidak terlalu banyak bertanya. Segera suamiku menyiapkan kendaaraan dan aku pun tak lupa minta ijin ke mertua dan sekaligus meminta mereka untuk menemani Radevaku.  

Singkat cerita, sampailah kami di klinik setelah kurang lebih sejam perjalanan. Sudah kuduga pasti akan membosankan karena harus menunggu deretan antrian yang panjang. Akhirnya, setelah hampir satu setengah jam menunggu, tibalah giliranku untuk masuk ke ruang dokter setelah dipanggil urut oleh petugas. Ketika pintu dibuka, terpampang senyum adem di wajah sang dokter sambil menyapa, “Halo, Ibu Praba. Gimana kabarnya, ada yang bisa dibantu?”  Sapaan ramah inilah yang selalu beliau lontarkan sehingga aku merasa nyaman dan tenang setiap periksa ataupun berkonsultasi dengannya.  

“Baik, Dok. Ini saya mau periksa, kemarin tes pack menunjukkan bahwa saya positif hamil. Sekarang saya mau memastikan kondisi janinnya.” Ungkapku sambil melirik alat USG yang sebentar lagi akan digunakan untuk melihat kondisi janinku.

“O, begitu, ya. Sebentar, Saya cek dulu tensinya.” Imbuh sang dokter sambil mempersiapkan alatnya.

“Hm … Kondisi janin Ibu baik. Sudah mulai ada perkembangan dan ini sudah memasuki usia 6 minggu. Perkembangan janinnya pun tumbuh normal, jadi tidak ada masalah. Ibu tinggal menjaga dan merawat kondisi kehamilan Ibu.” Terang dokter yang menjelaskan secara detail. Ketika mendengarnya, seketika rona wajahku terasa berbinar dan ketegangan wajah suamiku pun pecah dan mulai menyala penuh kebahagiaan. Setelah puas berkonsultasi dan yakin bahwa janinku akan baik-baik saja, kami pun pulang berbekal rasa sukacita.

Di tengah perjalanan, pikiranku dipenuhi dengan harapan baru, menghayal anugerah ini akan menjadi sandaran hidup kami kelak. Aku siap menjalani kehamilan ini meskipun di tengah-tengah aktivitasku sebagai seorang wanita karir dan juga ibu rumah tangga. Suamiku pun juga berpikir seperti itu.

Setelah sampai di rumah, terlihat lampu depan telah padam dan tak terdengar suara langkah kaki Radeva yang seperti biasa terdengar terhentak ketika aku maupun suamiku pulang. Itu tandanya dia telah tertidur karena waktu telah menunjukkan hampir pukul 23.00. Aku menengok kamarnya dan benar dia telah tertidur pulas ditemani kakeknya. Beberapa waktu kemudian, aku pun segera  merebahkan tubuhku karena terasa lumayan payah.

Keesokan harinya, tatkala membuka mataku, betapa terkejutnya Radeva tampak tersenyum manis di depan mataku dan menyapa.

“Bu, Kok lama sekali ke dokter? Ibu tau gak, Deva sampai ketiduran nungguin Ibu dan bapak pulang.” Keluhnya dengan cemberut. 

 “Maaf, ya, Nak. Ibu memberitahu sekarang kalau Deva akan segera punya adik dan bermain bersamamu nanti.” Lontarku  dengan penuh keyakinan kalau dia akan senang mendengarnya.

“Adik? Kapan Deva punya adik, Bu? Cewek atau cowok, Dari mana datangnya?” Tanyanya secara bertubi.

“Ibu sedang hamil adikknya Deva dan perut Ibu nanti akan tambah besar karena ada bayi yang terus tumbuh membesar, kemudian lahir dah dari perutnya Ibu nanti.” Ungkapku dengan gamblang.

“O, nanti adiknya Deva keluar dari perutnya Ibu, gitu ya?” Tegasnya.

“Iya. Dulu juga Deva ada di perutnya Ibu, lahir dan sudah cepat besar dan ganteng seperti sekarang, m…muahh,” Jawabku yang langsung kucium pipi tembamnya.

“Ye, ye, ye, Deva akan punya adik. Deva gak sabar, Bu,” Imbuhnya dengan riang gembira sambil meloncat-loncat.

Setelah beberapa menit ngobrol dengan putraku, mulailah aku beranjak dari tempat tidurku dan menjalankan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga dan kemudian sebagai wanita karir yang harus berangkat ke kantor. Hari demi hari kujalani seperti biasa dan kondisiku juga mulai menunjukkan tanda-tanda ngidam karena sudah tidak nyaman dan terasa mual.

Minggu demi minggu berlalu dan kandunganku semakin membesar dan telah menginjak  usia kandungan 6,5 bulan. Tak sabar check-up lagi yang rutin setiap bulan kulakukan. Seperti biasa, aku berangkat dengan suamiku ke klinik langganan. Ketika tiba di sana, sedikit beruntung sih karena hanya menunggu beberapa menit sudah dipersilakan masuk. Dokter tersenyum menyapa begitu kami masuk dan siap untuk melakukan pemeriksaan terhadap kandungannku.

“Wah, selamat ya, Bu. Adik bayinya bertumbuh dengan normal dan sempurna.” Ungkap dokter seraya menggerak-gerakkan alatnya di perutku.

 “Jantungnya bagus dan normal. Semua organ sudah berfungsi dengan sempurna. Kelaminnya … ini cowok, Bu.” Beber sang dokter yang secara detail menjelaskan organ-organ tubuh bayiku.

“Wah, syukurlah, Dok. Yang penting bayinya sudah berkembang dengan sehat, normal dan sempurna.” Ungkapku dengan tenang dan lega.

“Sykurlah, Dok. Yang penting sehat dan normal apapun jenis kelaminnya.” Imbuh suamiku.

Surga benar-benar terasa di tengah-tengah keluarga kecil kami. Harapanku tercapai untuk memiliki dua orang putra. Sejak pernikahan aku memang ingin memiliki dua orang putra saja. Ketika pulang dari klinik, kami tidak langsung berangkat ke rumah. Karena waktu menunjukkan belum jam 7 malam, kami memutuskan untuk singgah di toko mainan untuk membelikan Radeva hadiah sebagai tanda sukacitaku. Sesampainya di rumah, Radeva menyambut kami dengan riang seolah-olah dia tahu juga kebahagiaan orang tuanya. Riang gembiranya semakin memuncak tatkala kuperlihatkan mainan baru untuknya.

“Deva, coba ke sini, dekati Ibu,” Pintaku

“Ada apa, Bu?” Tanyanya dengan penasaran sambil membawa mainnannya.

“Adiknya Deva cowok, nanti Deva ada teman dah mainan mobil dan sepakbola,” Bisikku sembari memeluknya.

“Benar, Bu? Horeee … Deva punya adik cowok,” Serunya sambil menaikkan kedua tangannya ke atas tanda senang sekali.

“Bu, ayo, Deva mau menyanyikan lagu buat adiknya Deva,” Desaknya sambil meraih lenganku dan memintaku untuk rebahan. Mendekatlah dia ke perutku dan menyanyikan beberapa buah lagu anak untuk adikknya. Selama beberapa minggu belakangan, Radeva sering menyanyikan lagu buat adikknya. Aku pun demikian, selalu ingin mendengarkan musik relaksasi dan juga musik irama instrumental yang adem dan menyejukkan jiwa karya Gus Teja, musisi asal Bali yang sudah terkenal ke manca negara. Dari awal semenjak aku ngidam, aku hanya ingin mendengarkan musik-musik relaksasi dan instrumental karya Gus Teja. Berharap anakku kelak memiliki karakter yang berjiwa mental yang kuat, tenang dan cerdas.

Hari demi hari kulalui, dan mulai merasa sering kelelahan. Beban tubuhku mulai berat dan sering juga merasa kesakitan dan kesemutan sekitar pinggang dan perutku. Tetapi, aku berpikir itu wajar karena sudah memasuki hamil tua yakni sudah hampir 7,5 bulan. Beberapa tugas di kantorku aku tunda karena merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya. Karena sering merasa nyeri dan sakit, akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kantor hanya sehari yang kebetulan juga sudah akhir pekan yakni hari sabtu tanggal 12 Oktober 2019. Sore hari itu juga aku harus konsultasi ke bidan dekat rumahku mengingat semakin sakit kurasakan seperti mau melahirkan padahal baru 7,5 bulan.  Setelah berkonsultasi, bidannya hanya bilang itu wajar di usia kehamilan sekarang, bayi mulai sering berkontraksi. Hatiku pun mulai tenang walaupun sakit itu tetap kurasakan.

Malam harinya aku tidak bisa tidur karena menahan sakit, aku mulai khawatir tentang kondisi bayiku. Melihat kondisiku yang terus kesakitan, esok harinya suamiku segera menelpon dokter langgananku untuk check-up, tetapi dia tidak akan praktek di klinik karena sedang bertugas di luar kota. Akhirnya suamiku menghubungi dokter kandungan lain yang bisa praktek sore itu. Dokter pun ada dan kami siap berangkat untuk periksa kondisiku.

Sepanjang perjalanan dalam mobil yang dikendarai sepupu suamiku, aku tidak bisa tenang karena terus menahan sakit. “Masih sakit, Bu? Tanya suamiku lirih di sampingku.

“Iya, s…sakit sekali kayak mau melahirkan,” Jawabku terbata. Firasatku sudah tidak enak kurasakan dan sempat berpikir akan melahirkan prematur.

Setibanya di tempat dokter, petugas langsung mempersilakan masuk setelah diregistrasi. Tanpa basa-basi aku menyampaikan keluhanku dan dokter pun mulai memeriksa kandunganku.

“Wah, kenapa ini? Ada apa dengan bayinya?” Tanya dokter dengan nada heran dan terkejut sambil melihat layar komputer.

“Kenapa dengan bayi saya, Dok?” Tangkasku dengan penuh rasa ketakutan.

“Jantungnya ada kelainan berupa cairan. Organ perutnya juga penuh dengan cairan. Hampir semua organ dipenuhi cairan.” Lontar dokter sambil menggelengkan kepalanya sebagai isyarat kondisi bayiku benar-benar parah.

“Ini harus segera diangkat agar tidak beresiko untuk sang ibu,” Tambahnya dengan tegas.

“Lantas, bayinya bagaimana, Dok? Bisa diselamatkan?” Tanya suamiku yang raut mukanya sudah dipenuhi kekhawatiran.

“Sulit dipertahankan setelah dilahirkan, Pak. Kalaupun selamat lahir, itupun tidak akan bertahan lama, kondisinya akan semakin melemah,” Terang sang dokter.

Seketika jantungku terasa mau copot, jiwa dan ragaku mulai lunglai setelah mendengar keterangan dari dokter. Dokter segera mengambil tindakan dengan membuat surat rujukan rumah sakit bahwa aku akan segera dioprasi. Ini sudah tindakan darurat dan dokter tidak mau mengambil resiko sehingga dalam hitungan 12 jam aku sudah siap di ruang oprasi.

“O … T …tidaaaak!” teriakku dalam pikiran sambil terisak. Suamiku mulai menenangkanku. Apa yang terjadi padaku seakan-akan tak percaya dengan keadaan yang mendadak ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa bayiku akan berakhir seperti ini. Pupuslah harapanku seketika dan di firasatku berkata bayiku tidak akan selamat. Pipiku mulai bergelimang air mata dan suamiku juga tidak bisa berkata sepatah pun.

Saat aku akan dibedah di ruang oprasi, tak lupa dokter memintaku berdoa agar oprasi berjalan lancar dan selamat. Setelah menahan sakit dibedah walaupun sudah dibius, akhirnya bayiku keluar tanpa tangisan dan sudah terlihat membiru. Dan saat itu juga aku tak sadarkan diri apa yang terjadi selanjutnya.

Tatkala aku sadar, aku sudah di  ruang perawatan dan mendengar kata-kata, “Sabar ya, Sayang, iklaskan anak kita. Mungkin ini sudah takdir. Kita sudah berusaha yang terbaik,” Bisik suamiku dengan nada perlahan dengan raut wajah kekecewaan. Air mataku tak bisa dibendung lagi dan membanjiri wajahku. Dokter berkata benar walaupun bayiku lahir hidup, kondisnya berangsur-angsur akan menurun. Itu terbukti setelah 9 jam dirawat, bayiku akhirnya tak tertolong.

Dadaku mulai sesak dan sulit bernapas karena tangisku tak bisa dihentikan serasa seperti sungai yang terus mengalir tanpa henti. Apalagi ketika suamiku berhasil mengabadikan bayiku dan memperlihatkan foto bayiku yang putih, bersih dan montok seperti bayi sehat. Deraian air mata sambil terisak tak tertahankan. Hatiku terasa dicabi-cabik. Aku sulit berpikir jernih untuk waktu yang cukup lama. Hari-hariku hanya dipenuhi dengan bulir-bulir air mata yang mengalir deras tak kenal waktu.  

14 Oktober 2019 akan selalu menjadi momen bersejarah sepanjang hidupku. Itu adalah hari kedatangan dan sekaligus kepergian putraku yang ketiga. Putraku yang pertama juga baru berumur 2,5 bulan kandungan telah diambil Tuhan. Dua belahan hidupku kini telah damai di sana bersama-Nya dan saat ini aku hanya punya Radevaku yang menjadi napas hidup dan matahari yang akan selalu menyinari kehidupan kami. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar